Airbus

Airbus Tersendat Mesin, A320 Ikut Melambat

(Business Lounge – Global News) Raksasa dirgantara Eropa, Airbus, kembali dipaksa menahan laju produksinya. Kali ini biang keladinya bukan soal permintaan pasar, melainkan kelangkaan mesin dari Pratt & Whitney. Krisis komponen itu membuat produksi keluarga A320—jet lorong tunggal yang menjadi tulang punggung penjualan Airbus—harus diperlambat.

Kabar ini menambah daftar panjang gangguan rantai pasok yang menghantui industri penerbangan sejak pandemi mereda. Saat maskapai berbondong-bondong menambah armada demi mengejar lonjakan penumpang, para produsen justru terseok karena suplai mesin dan suku cadang tak kunjung stabil. Airbus berada di tengah pusaran itu.

Dalam laporan yang dikutip Reuters, Airbus mengakui bahwa kekurangan mesin khususnya varian yang dipasok Pratt & Whitney untuk A320neo memaksa perusahaan mengatur ulang ritme perakitan. Mesin tersebut, bagian dari keluarga geared turbofan, sebelumnya juga dilanda persoalan teknis yang memicu inspeksi besar-besaran di berbagai maskapai dunia. Dampaknya menjalar ke jalur produksi.

Menurut Bloomberg, hambatan ini datang di saat Airbus sedang berambisi menaikkan output A320 menjadi 75 unit per bulan dalam beberapa tahun mendatang. Target itu sempat dipandang realistis karena permintaan pesawat lorong tunggal tetap tebal, terutama dari maskapai berbiaya rendah dan operator regional. Namun tanpa pasokan mesin yang konsisten, ambisi itu seperti pedal gas yang diinjak di jalan berlubang.

A320 bukan produk sembarangan. Pesawat ini menyumbang porsi terbesar pendapatan Airbus dan menjadi tulang punggung persaingan melawan rival abadinya, Boeing. Dalam beberapa tahun terakhir, Airbus justru unggul dalam pengiriman pesawat lorong tunggal ketika Boeing diguncang krisis keselamatan dan pembatasan produksi 737. Kini, tekanan datang dari sisi yang berbeda: rantai pasok internal.

Financial Times menulis bahwa kelangkaan mesin tidak hanya berdampak pada Airbus, tetapi juga memaksa maskapai mengatur ulang jadwal ekspansi. Beberapa operator bahkan harus menunda pembukaan rute baru karena pesawat yang dipesan belum bisa dikirim tepat waktu. Situasi ini menciptakan efek domino: maskapai kekurangan kapasitas, produsen menahan produksi, dan penyedia mesin kewalahan mengejar backlog.

Pratt & Whitney sendiri tengah menghadapi tantangan teknis terkait material pada komponen mesin yang membutuhkan inspeksi dan penggantian lebih cepat dari perkiraan awal. Dalam pernyataannya yang dikutip CNBC, perusahaan menyebut telah meningkatkan kapasitas perbaikan dan produksi, namun mengakui proses itu memerlukan waktu. Artinya, gangguan belum akan hilang dalam waktu singkat.

Di sisi lain, Airbus berusaha menjaga nada optimistis. Manajemen menegaskan target jangka panjang masih berdiri, walau jadwal jangka pendek perlu disesuaikan. Strateginya lebih pada fleksibilitas: mengatur ulang lini produksi, memprioritaskan pesanan tertentu, serta berkoordinasi intens dengan pemasok. Dalam ekosistem manufaktur pesawat yang kompleks, setiap baut dan turbin memiliki jadwal tersendiri. Ketika satu komponen tersendat, seluruh sistem ikut goyah.

Kondisi ini menggambarkan betapa rapuhnya rantai pasok global, bahkan untuk industri dengan teknologi tinggi dan perencanaan bertahun-tahun. Pandemi memang telah berlalu, tetapi luka operasionalnya masih terasa. Banyak pemasok tingkat dua dan tiga belum sepenuhnya pulih dari tekanan finansial beberapa tahun terakhir. Ketika permintaan melonjak, kapasitas tak otomatis ikut bangkit.

Bagi investor, kabar perlambatan produksi memunculkan pertanyaan soal arus kas dan margin. Setiap pesawat yang tertunda berarti pendapatan yang mundur pencatatannya. Namun analis yang dikutip Reuters menilai permintaan jangka panjang terhadap pesawat lorong tunggal tetap solid. Maskapai masih membutuhkan armada hemat bahan bakar untuk menggantikan pesawat lama yang boros dan beremisi tinggi. Dalam lanskap transisi energi, A320neo dianggap lebih efisien dibanding generasi sebelumnya.

Persaingan dengan Boeing juga memberi dimensi tersendiri. Jika Airbus terlalu lama tersandera kelangkaan mesin, celah itu bisa dimanfaatkan kompetitor. Namun Boeing pun bukan tanpa masalah. Dengan demikian, kedua produsen berada dalam situasi yang sama-sama sensitif terhadap suplai komponen.

Airbus kini berada di persimpangan antara ambisi ekspansi dan realitas logistik. Permintaan ada, pesanan menumpuk, maskapai siap membayar. Namun mesin—jantung dari setiap pesawat—tidak bisa disulap dalam semalam.

Industri penerbangan global tengah belajar bahwa pemulihan tidak selalu berarti kelancaran. Ada fase tersendat sebelum ritme kembali stabil. Airbus mungkin masih memegang buku pesanan tebal, tetapi untuk mengubahnya menjadi pesawat yang terbang di langit, ia bergantung pada roda kecil bernama rantai pasok. Ketika satu mata rantai melemah, seluruh mesin industri ikut tersengal.