Perusahaan Diminta Tak Jadikan AI Alasan Pangkas SDM demi Efisiensi

(Businesslounge Journal-Global News) Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai tidak seharusnya dijadikan alasan utama perusahaan untuk mengurangi tenaga kerja secara besar-besaran demi mengejar efisiensi biaya. Perusahaan yang ingin terus bertumbuh dan unggul justru dinilai perlu memadukan teknologi AI dengan kekuatan sumber daya manusia berkualitas.

Co-Founder dan CEO Reken, Shuman Ghosemajumder, menilai tren pemutusan hubungan kerja dengan alasan adopsi AI mulai meningkat di berbagai perusahaan global. Fenomena itu muncul setelah sejumlah perusahaan teknologi mengumumkan restrukturisasi tenaga kerja karena perubahan pola bisnis akibat perkembangan AI.

Namun menurutnya, perusahaan besar tidak dapat sepenuhnya menggantikan manusia dengan sistem AI. Ia menilai kecerdasan buatan memang mampu menyelesaikan banyak tugas teknis, tetapi tidak memiliki pengalaman hidup, intuisi, kreativitas, maupun kemampuan membangun perspektif baru seperti manusia.

Ia mencontohkan tim berkinerja tinggi selalu dibentuk melalui kolaborasi antarmanusia yang saling memengaruhi dan melengkapi gagasan. Sementara sistem AI generatif hanya bekerja berdasarkan kumpulan data dan pola yang sudah ada.

Selain itu, AI juga dinilai masih memiliki keterbatasan mendasar, termasuk risiko menghasilkan informasi yang keliru atau halusinasi data. Karena itu, hasil kerja AI tetap memerlukan proses verifikasi manusia sebelum digunakan secara luas.

Menurut Ghosemajumder, perusahaan yang hanya mengganti manusia dengan AI berisiko kehilangan kualitas inovasi dan kreativitas. Sebaliknya, perusahaan unggulan akan tetap merekrut talenta terbaik dan menggunakan AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, serta menjaga mutu produk dan layanan.

Pandangan serupa juga disampaikan CEO NVIDIA, Jensen Huang, yang menilai perusahaan visioner semestinya memanfaatkan efisiensi AI untuk memperluas pertumbuhan usaha, bukan sekadar memangkas tenaga kerja.

Sementara CEO OpenAI, Sam Altman, menilai sebagian perusahaan hanya menggunakan narasi AI sebagai pembenaran penghematan biaya yang sebenarnya tidak sepenuhnya berkaitan dengan transformasi teknologi.

Dalam artikelnya, Ghosemajumder menilai perusahaan berkualitas akan tetap membutuhkan talenta manusia terbaik yang mampu memanfaatkan AI secara optimal. Bahkan sejumlah perusahaan yang sebelumnya melakukan PHK dengan alasan AI dilaporkan mulai merekrut kembali sebagian pekerjanya karena kebutuhan operasional.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan AI paling efektif diterapkan pada pekerjaan yang memiliki pola tugas jelas dan terstruktur, seperti layanan pelanggan dan pengembangan perangkat lunak. Dalam bidang tersebut, AI dapat menjadi pengganda produktivitas sehingga perusahaan mampu melayani lebih banyak pelanggan dan mengembangkan produk lebih cepat.

Namun untuk pekerjaan yang memerlukan komunikasi, relasi sosial, kreativitas, dan pengambilan keputusan kompleks, AI dinilai lebih tepat digunakan sebagai alat bantu berpikir dibanding pengganti manusia sepenuhnya.

Karena itu, perusahaan juga dinilai perlu melatih karyawan agar mampu menggunakan AI secara efektif. Kemampuan memahami cara kerja chatbot, menyusun perintah yang tepat, hingga mengenali keterbatasan AI disebut menjadi keterampilan penting di masa depan.

Ghosemajumder memperkirakan hampir seluruh pekerjaan di masa mendatang akan melibatkan penggunaan AI. Meski demikian, perusahaan yang ingin terus berkembang dinilai harus tetap berinvestasi pada pengembangan talenta manusia dan menyesuaikan proses kerja dengan teknologi baru, bukan sekadar menggunakan AI sebagai alasan untuk mengurangi tenaga kerja dan menurunkan kualitas kerja perusahaan.