(Business Lounge Journal – Foreign Insight)
Duta Besar Georgia untuk Indonesia, Tornike Nozadze, menyatakan bahwa Indonesia adalah partner yang sangat penting bagi Georgia di Asia Tenggara. Indonesia adalah salah satu negara terbesar dan terkuat di Asia Tenggara, baik di sisi populasi maupun kekuatan ekonomi, dan juga Indonesia telah menjadi suara terbesar di Asia Tenggara. Indonesia merupakan negara yang sangat penting bagi Georgia.
Indonesia dan Georgia telah memiliki hubungan diplomatik selama 33 tahun. Dalam lebih dari tiga dekade terakhir, kerja sama Georgia dan Indonesia dinilai telah mencakup berbagai bidang, mulai dari perdagangan, ekonomi, dukungan di forum internasional, pendidikan, budaya, hingga pariwisata.
Georgia saat ini mengalami perkembangan ekonomi yang baik, di mana Georgia mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil. Secara rata-rata, pertumbuhan ekonomi di Georgia mencapai 7–9%, bahkan 10% pada sisi GDP. Pertumbuhan ekonomi Georgia mengalami peningkatan terus-menerus. Nozadze menyatakan bahwa Georgia harus terus melakukan diversifikasi ekonomi.
Salah satu kekuatan ekonomi Georgia adalah industri wisata. Georgia adalah negara yang sangat banyak dikunjungi. Dari sisi turisme, Georgia telah dikunjungi oleh lebih dari 9 juta turis pada tahun 2025, 2 kali lipat dibandingkan dengan warga Georgia sendiri. Georgia memiliki 4 musim dan 12 wilayah iklim, yang menjadikan Georgia sebagai destinasi wisata yang sangat menarik.
Selain sektor wisata, salah satu sektor industri lain di Georgia yang penting adalah industri pertanian, terutama pengolahan minuman anggur. Georgia adalah tempat kelahiran minuman anggur. Produk minuman anggur Georgia, yang berada pada segmen kualitas tinggi, disebut memiliki peran penting dalam ekonomi dan identitas ekspor negara tersebut.
Faktor geografis juga menjadi salah satu kekuatan utama Georgia. Negara ini berada pada jalur yang disebut sebagai Middle Corridor, yaitu rute konektivitas yang menghubungkan Asia dan Eropa. Hal ini menjadikan Georgia dapat menjadi hub ekonomi bagi Asia dan Eropa. Posisi geografis ini juga memudahkan Georgia menjadi pusat pergerakan barang di Eropa dan Asia. Georgia memiliki banyak pipa minyak, pipa gas bumi yang mengalir dari Caspian Basin sampai ke seluruh wilayah Eropa. Georgia memiliki infrastruktur yang kuat, mulai dari jalan darat, rel kereta api, bandar udara, sampai ke infrastruktur pelabuhan. Saat ini Georgia sedang mengembangkan bandara udara ke-5 dan deep sea port yang ke-3.
Namun, tantangan ekonomi Georgia ke depan adalah memastikan pertumbuhan tersebut tidak terlalu bergantung pada beberapa sektor utama saja. Diversifikasi ekonomi menjadi salah satu prioritas penting, terutama melalui pengembangan teknologi, ekosistem startup, dan sektor-sektor baru yang dapat memperkuat daya saing jangka panjang.
Georgia juga ingin memaksimalkan posisinya sebagai penghubung antara kawasan. Bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, Georgia melihat peluang untuk menjadi pintu masuk menuju pasar yang lebih luas di kawasan Eropa dan sekitarnya.
Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi, keterbukaan investasi, posisi geografis strategis, dan hubungan diplomatik yang bersahabat, Georgia berupaya memperluas kerja samanya dengan Indonesia. Hubungan kedua negara tidak hanya dipandang sebagai hubungan bilateral biasa, tetapi juga sebagai jembatan antara Asia Tenggara, Kaukasus, dan Eropa.
Georgia’s Road to Europe and NATO
Duta Besar Georgia untuk Indonesia, Tornike Nozadze, menyatakan bahwa Georgia terus menempatkan integrasi dengan Uni Eropa dan NATO sebagai prioritas strategis negaranya. Dalam wawancara dengan Business Lounge Journal, Duta Besar Georgia untuk Indonesia menjelaskan bahwa proses tersebut bukan hanya soal diplomasi, tetapi juga menyangkut reformasi ekonomi, politik, dan juga di bidang pertahanan.
Sebagai negara kandidat Uni Eropa, Georgia telah lama membangun hubungan yang lebih dekat dengan Uni Eropa melalui berbagai kerangka kerja sama. Salah satu instrumen penting adalah dokumen Association Agreement, yang dipandang sebagai blueprint bagi Georgia untuk menyiapkan diri menuju keanggotaan penuh European Union di masa depan.
Georgia juga sedang menyelesaikan DCFTA, yaitu EU-Georgia Deep and Comprehensive Free Trade Area, di mana Georgia harus menyesuaikan legislasi mereka yang berkaitan dengan ekonomi dengan legislasi European Union.
Nozadze menyadari bahwa integrasi Georgia menantang, namun beliau optimis bahwa pada tahun 2030 Georgia akan siap secara ekonomi dan politik, paling tidak merupakan negara yang paling siap di antara semua negara Uni Eropa lainnya. Beliau menyatakan bahwa banyak perubahan yang dilakukan menyakitkan dan sukar, namun Georgia berkomitmen untuk melakukan integrasi dengan Uni Eropa.
Georgia juga berkomitmen penuh untuk mencapai interoperabilitas dengan NATO dan untuk mencapai integrasi dengan NATO. Georgia menyiapkan pasukan militernya untuk mempunyai kapabilitas yang sama dengan NATO, dan Georgia berharap untuk memperkuat NATO, bukan untuk menjadi beban bagi NATO. Georgia berkomitmen bukan hanya untuk kompatibel dengan NATO, tetapi juga kompetitif dengan anggota NATO yang lain.
Georgia juga telah melakukan banyak misi internasional. Dalam banyak operasi internasional Georgia adalah urutan kedua di dalam partisipasi militer per kapita setelah Amerika Serikat. Duta besar yakin bahwa Georgia berada pada jalur yang benar untuk integrasi Georgia ke dalam NATO.
Nozadze menyatakan bahwa mereka punya hubungan yang sukar dengan Rusia, karena Rusia saat ini menguasai 20% dari wilayah Georgia. Sejak perang dengan Rusia pada tahun 2008, daerah-daerah yang dikuasai Rusia semakin dikuasai dan diduduki oleh Angkatan Bersenjata Rusia. Daerah-daerah yang diduduki oleh Rusia ini sangat dekat dengan ibu kota Georgia, sekitar 40 kilometer dari ibu kota Georgia. Georgia tetap berkomitmen untuk menyelesaikan konflik mereka dengan Rusia dengan cara damai, dan terus berkomitmen untuk meminta dukungan internasional untuk terus menekan Rusia, terutama dalam komitmen Rusia di dalam perjanjian gencatan senjata.
Georgia berharap untuk membangun jembatan yang lebih baik lagi dengan masyarakat Georgia di Abkhazia dan Ossetia yang berada di dalam pendudukan Rusia, karena selama sejarah Georgia banyak wilayah-wilayah Georgia yang diduduki oleh kekuatan asing jauh lebih lama daripada pendudukan Rusia, dan semua wilayah ini dapat kembali ke Georgia bersama dengan masyarakatnya. Nozadze yakin bahwa wilayah-wilayah ini akan kembali ke pangkuan Georgia pada masa yang akan datang.

