Memberi dengan Suatu Ketulusan

(Businesslounge-Inspiration) Apa yang dapat Anda tangkap dari kata memberi di sini?  Memberi berarti bicara mengenai kasih dan akan berdampak pada lingkungan sekitar tatkala kita melakukannya dengan sebuah pengertian yaitu dibutuhkan sebuah ketulusan tanpa pamrih atau berharap imbal balik dari orang yang kita beri.

Beberapa waktu yang lalu, saya beroleh pelajaran berharga bagi diri saya. Ya, pelajaran untuk memberi tanpa berhitung untung dan ruginya namun beri saja apa yang dapat diberikan sesuai dengan kerelaan dan ketulusan hati.

Pada waktu itu, ketika saya mengendari motor dan berhenti di sebuah perhentian karena lampu merah maka seketika itu ada seorang anak kecil yang datang menghampiri dan tangannya meminta sesuatu.

Sekejab saya pandangi anak tersebut dan hati saya pun berbicara bahwa saya harus memberi. Kemudian saya rogoh kantong di kemeja saya dan hanya ada selembar Rp 5.000 saja lalu saya berikan dengan sebuah harapan paling tidak anak tersebut bisa beli makan malamnya.

“Makasih om, hati-hati di jalan ya om,” demikian penuturan anak kecil tersebut.

Lampu merah pun berganti dengan lampu hijau tanda bahwa saya harus segera melaju. Indahnya memberi dengan tulus ikhlas akan sangat terasa di dalam hati karena pada saat itu saya dapat merasakan bagaimana hati saya gembira dan penuh dengan damai sejahtera.

Namun demikian, jalanan saat itu menuju Fatmawati tiba-tiba macet sekali akibat jam pulang kantor. Tak terpikirkan oleh saya kemacetan tersebut dan ternyata saya perhatikan bensin pun semakin menipis.

“Nyampe gak yah ke pom bensin dengan macet begini mana sudah makin tipis bensinku,” ungkapku dalam hati mengingat jika tidak macet rasanya masih sangat memungkinkan untuk sampai ke pom bensin yang jaraknya masih sekitar 6 kilometer lagi di depan.

Akan tetapi harapanku pun tak terwujud sebab setelah berjalan sekitar 2 kilometer maka motor saya pun mati karena kehabisan bensin. Yup terpaksa saya dorong motor menuju pom bensin sekitar 4 kilometer di depan.

Akhirnya saya pun tiba di pom bensin dengan kemeja dan jaket yang penuh dengan keringat. Akan tetapi saat berhadapan dengan petugas saya baru tahu setelah merogoh kembali kantong kemeja dan celana lalu dompet bahkan isi tas ternyata saya tidak punya uang tunai lagi yang ada hanya atm.

“Berarti uang Rp 5.000 tadi sisa uang tunaiku satu-satunya,” pikirku.

Sayangnya, di pom bensin yang saya datangi saat itu tidak ada mesin debit dan harus gunakan uang tunai. “Ya Tuhan bagaimana ini perjalananku masih jauh menuju ciputat dan atm pun masih jauh dari sini,” kataku dalam hati.

berilah2

Tiba-tiba tak berapa lama kemudian seseorang datang di belakangku hendak isi bensin juga dan mendadak dia langsung bertanya dan memberikan bantuan tanpa saya minta.

“Mas habis banget ya bensinnya? Ini mas isi saja bensinnya Rp 20 ribu,” sahutnya kepadaku.

Lalu saya ajak orang tersebut untuk ikut saya ke atm supaya saya bisa mengganti uangnya setelah bensin saya terisi maka orang itu menolak dan saya minta hp maupun nomor rekeningnya untuk saya ganti tetap orang tersebut tidak mau karena memang dia mau memberi saja.

Setelah bensin saya terisi dan orang tersebut pergi meninggalkan saya tanpa disadari air mata saya pun menetes penuh rasa haru dan syukur yang dalam karena KASIH di dalam sebuah pemberian tidak akan pernah kembali dengan sia-sia.

Ya, sebuah pemberian yang sederhana namun dengan tulus tanpa berharap imbalan itu sangat berarti dalam perjalanan hidup kita.

(Nemi/RL/BL)