(Business Lounge Journal – Event)
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan and Brunei Darussalam, H.E. Denis Chaibi, menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Uni Eropa kini memasuki fase baru yang semakin strategis, terutama di sektor teknologi dan ekonomi digital. Hal tersebut disampaikan dalam pidato pembukaan acara EU–Indonesia Tech Event yang digelar di AYANA Midplaza Jakarta, Selasa (5/5). Acara ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri teknologi, investor, hingga perusahaan digital dari Indonesia dan Eropa untuk membahas masa depan kerja sama teknologi kedua kawasan.
Dalam pidatonya, Denis Chaibi membuka dengan refleksi pribadi tentang perubahan Indonesia sejak pertama kali ia datang pada tahun 1988. Menurutnya, transformasi Indonesia bukan hanya terlihat dari pembangunan fisik Jakarta, tetapi juga dari pertumbuhan ekonomi dan ketahanan nasional yang dinilainya luar biasa. “Indonesia mengalami pertumbuhan komparatif yang luar biasa,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa Indonesia berhasil menunjukkan resiliensi menghadapi berbagai krisis global, mulai dari krisis finansial 2008, pandemi Covid-19, hingga ketidakpastian geopolitik dan krisis energi global saat ini. Menurut Denis Chaibi, ketahanan atau resilience kini menjadi kata kunci utama dalam hubungan Indonesia–Uni Eropa.
Ketahanan Sistem Global
Dalam pidatonya, Denis Chaibi menekankan bahwa dunia sedang memasuki era baru di mana tatanan global dibentuk ulang oleh negara-negara besar. Karena itu, Indonesia dan Uni Eropa dinilai memiliki kepentingan bersama untuk menjaga sistem multilateral tetap stabil.
Uni Eropa disebut semakin memperkuat komunikasi strategis dengan Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, termasuk melalui kunjungan berbagai pejabat tinggi Uni Eropa ke kawasan Asia Tenggara. Denis Chaibi menilai Indonesia memiliki posisi yang semakin penting di tengah perubahan geopolitik global karena mampu mempertahankan pertumbuhan sekaligus stabilitas domestik.
CEPA Disebut Jadi Fondasi Hubungan Ekonomi Baru
Salah satu fokus utama pidato Denis Chaibi adalah pembahasan mengenai CEPA atau Comprehensive Economic Partnership Agreement antara Indonesia dan Uni Eropa. Menurutnya, CEPA bukan “solusi ajaib” yang langsung menyelesaikan seluruh tantangan investasi dan perdagangan. Namun, kesepakatan tersebut dinilai penting karena menciptakan kepastian regulasi, platform hukum, dan dasar kerja sama ekonomi jangka panjang.
Ia mengakui dunia saat ini menghadapi dua tekanan besar sekaligus: ketidakpastian tarif perdagangan, dan overcapacity atau kelebihan kapasitas produksi global. Dalam situasi tersebut, CEPA dianggap dapat menjadi dasar dialog untuk mengelola berbagai tantangan perdagangan dan investasi di masa depan.
Menariknya, Denis menegaskan bahwa kerja sama ekonomi tidak hanya soal perusahaan Eropa masuk ke Indonesia, tetapi juga peluang perusahaan Indonesia berekspansi ke Eropa.
Indonesia Dinilai Lebih Unggul Secara Digital
Salah satu bagian pidato yang paling menarik adalah ketika Denis Chaibi memuji pengalaman digital Indonesia. Ia mengaku akan merindukan berbagai platform digital Indonesia ketika kembali ke Eropa, seperti: Gojek, Grab, Livin’ by Mandiri, Tokopedia, dan Traveloka. Menurutnya, pengalaman pengguna aplikasi digital di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan banyak layanan di Eropa.
Pernyataan ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar digital besar, tetapi juga mulai dianggap memiliki keunggulan dalam pengalaman konsumen digital dan integrasi layanan teknologi. Denis bahkan menyebut Eropa dapat belajar dari Indonesia dalam hal: pemasaran digital, pengalaman pengguna, dan proyeksi layanan teknologi.
Data Adalah Komoditas Strategis Baru
Selain nikel dan mineral kritis, Denis Chaibi menilai bahwa data kini menjadi sumber daya strategis paling penting di masa depan. Ia mengatakan Indonesia memiliki posisi unik dalam ekonomi data global karena: memiliki lebih dari 285 juta penduduk, menggunakan bahasa yang relatif seragam, memiliki populasi muda, dan masyarakat yang sangat digital. Menurutnya, Indonesia juga memiliki nilai strategis khusus bagi pengembangan artificial intelligence karena merupakan negara Muslim terbesar di dunia. “Bagi model AI apa pun, negara Muslim terbesar memiliki nilai data yang istimewa,” ujarnya.
Namun Denis menegaskan bahwa pengelolaan data membutuhkan trust atau kepercayaan. Ia menekankan bahwa nilai ekonomi data harus tetap memberikan manfaat bagi Indonesia dan tidak hanya dieksploitasi pihak luar.
Regulasi Uni Eropa Dinilai Dibangun untuk Kepercayaan
Dalam pidatonya, Denis juga menjelaskan filosofi regulasi Uni Eropa yang selama ini sering dianggap terlalu rumit. Menurutnya, regulasi di Eropa lahir dari pengalaman panjang konflik dan perang antarnegara di masa lalu. Karena itu, Eropa membangun sistem yang menempatkan: integrasi, regulasi, dan standar bersama sebagai cara membangun kepercayaan antarnegara. Ia menyebut perusahaan-perusahaan Eropa seperti: SAP, Siemens, Nokia, dan bukan sekadar perusahaan teknologi, tetapi juga pembentuk standar dan aturan global di masa depan.
Menurut Denis, perbedaan utama pendekatan Uni Eropa adalah menempatkan manusia sebagai pusat aturan teknologi, bukan sebaliknya.
Empat Karakteristik Tawaran Teknologi Uni Eropa
Dalam penutup pidatonya, Denis Chaibi menjelaskan empat karakteristik utama tawaran kerja sama teknologi Uni Eropa kepada Indonesia:
- Modular dan fleksibel
Dirancang sesuai kebutuhan masing-masing negara, mulai dari 5G, kabel bawah laut, keamanan siber, hingga identitas digital. - Dibangun atas dasar kepercayaan
Uni Eropa menilai trust menjadi fondasi utama ekonomi digital masa depan. - Terbuka dan interoperable
Eropa ingin membangun “jembatan”, bukan “tembok”, dalam sistem teknologi global. - Team Europe
Kolaborasi berbagai negara dan perusahaan Uni Eropa yang saling melengkapi dalam satu ekosistem kerja sama.
Denis Chaibi menutup pidatonya dengan optimisme bahwa hubungan Indonesia dan Uni Eropa akan semakin kuat di tengah transformasi digital global. “Kami benar-benar ingin membangun kemitraan yang sangat kuat antara Uni Eropa dan Indonesia,” ujarnya.

