(Business Lounge – Travel) Begitu keluar dari imigrasi dan ambil bagasi, hal pertama yang dicari di Kolombo ya jelas—uang tunai. Untung ada money changer langsung di bandara, jadi nggak perlu pusing dulu. Habis itu lanjut cari kartu SIM lokal biar bisa internetan selama di sana. Setelah nanya-nanya sebentar, akhirnya pilih paket 20GB data seharga sekitar 1.400 rupee Sri Lanka, kalau dirupiahkan murah banget, cuma sekitar 75 ribu rupiah. Worth it banget buat dua minggu di negeri ini.
Naik Bus Lokal, Petualangan Dimulai
Daripada langsung naik taksi, akhirnya diputuskan buat coba naik bus umum dari bandara ke Kolombo Fort. Alasannya sederhana: masih pagi, masih banyak waktu, kenapa nggak sekalian merasakan pengalaman lokal? Baru juga keluar dari bandara, langsung disambut hujan deras khas tropis. Untungnya dapat bus ber-AC yang lumayan nyaman, meskipun perjalanannya ternyata memakan waktu sekitar 1 jam 10 menit—lebih jauh dari perkiraan awal. Setibanya di Kolombo Fort, lanjut naik tuk-tuk menuju hotel di daerah Marine Bay. Proses tawar-menawar harga tuk-tuk ini jadi pengalaman tersendiri—dari tarif awal 900 rupee berhasil turun ke 800 rupee setelah sedikit negosiasi santai dengan sopirnya.
Hotel Murah tapi Kualitas Oke
Menginap di hotel seharga sekitar £30 per malam di kawasan Marine Bay, dan ternyata hasilnya jauh melebihi ekspektasi. Hotelnya baru dibuka sekitar lima bulan, jadi masih terasa bersih dan segar. Kamar mandinya luas banget, ada shower besar, dan yang bikin makin spesial—ada pemandangan laut meskipun bukan kamar tipe “sea view” premium.
Surga Jajanan Kaki Lima
Setelah check-in dan istirahat sebentar, waktunya jalan-jalan ke Peta Market, salah satu pasar tradisional paling ramai di Kolombo. Di sinilah petualangan kuliner sesungguhnya dimulai. Coba singkong goreng (cassava chips) dari seorang penjual yang sudah berjualan selama 15 tahun dan dijuluki “Cassava King”—rasanya benar-benar segar karena digoreng langsung di tempat, lengkap dengan bumbu rahasia khas dia.
Selain jajan, sempat juga mampir ke tukang jual casing dan pelindung layar HP buat benerin casing yang rusak. Harganya jauh lebih murah dibanding beli di negara asal, dan pelayanannya ramah banget—bahkan dipasangkan langsung sampai rapi tanpa gelembung udara.Yang bikin makin berkesan, area pasar ini juga punya masjid dengan arsitektur unik bergaya garis-garis merah putih yang mengingatkan pada suasana dunia dongeng—benar-benar salah satu bangunan paling mencolok di tengah hiruk-pikuk pasar.
Ngemil Kelapa dan Terbang Layang-Layang di Galle Face Green
Menjelang sore, perjalanan berlanjut ke Galle Face Green, area tepi pantai yang jadi tempat nongkrong favorit warga lokal maupun turis. Suasananya adem, banyak orang main layang-layang, dan akhirnya nggak tahan buat beli layang-layang sendiri dari salah satu pedagang di sana—setelah tahu ada pilihan buatan Sri Lanka asli (bukan impor dari China), tentu saja pilih yang lokal buat mendukung produk dalam negeri.
Momen serunya, layang-layang yang sempat kusut akhirnya dikasihkan ke seorang anak kecil yang kelihatan tertarik banget. Sekalian merayakan “ulang tahun” buat anak itu, katanya bercanda. Nggak lupa juga mencicipi kelapa muda (king coconut) langsung dari penjual yang keliling dengan gerobak—rasanya benar-benar menyegarkan, apalagi di tengah cuaca panas dan lembap khas Kolombo.
Makan Malam Kotu di Tepi Laut
Untuk makan malam, akhirnya mencoba menu khas Sri Lanka yang sudah lama penasaran: kotu (kottu roti). Ditemani pemandangan laut, pesan kotu seafood dengan cumi, disajikan di sebuah warung yang sudah berdiri 48 tahun. Rasanya gurih, sedikit pedas meski sudah minta versi tidak pedas, dan porsinya besar—cukup untuk berdua. Harganya cuma sekitar 1.200 rupee, sangat terjangkau untuk seporsi makanan seenak itu.
Orangnya Ramah, Makanannya Enak, Pemandangannya Indah
Setelah seharian penuh menjelajah Kolombo—dari bandara, naik bus dan tuk-tuk, sampai muter-muter pasar dan pantai—kesimpulan sementara soal Sri Lanka, orang-orangnya baik hati dan nggak pernah maksa saat menawarkan sesuatu, makanannya lezat, dan pemandangannya bikin betah. Malah sempat lihat proyek pembangunan besar-besaran di kawasan reklamasi pantai yang katanya bakal jadi semacam “Dubai-nya Kolombo” dalam 20-25 tahun ke depan. Satu hari di Kolombo aja udah ninggalin kesan yang dalam. Penasaran gimana lanjutan perjalanan ini ke Sigiriya, Kandy, dan tempat-tempat lain di Sri Lanka? Nantikan cerita selanjutnya!

