Ethiopia Tumbuh 9,2 Persen, Pertanian dan Energi Bersih Jadi Motor Ekonomi

(Business Lounge Journal – Foreign Insight)

Ethiopia melihat peluang besar untuk memperkuat kerja sama ekonomi dengan Indonesia di tengah pertumbuhan ekonominya yang tinggi, reformasi besar-besaran, serta ekspansi di sektor manufaktur, agro-processing, energi, telekomunikasi, dan pertanian.

Duta Besar Ethiopia untuk Indonesia, H.E. Prof. Fekadu Beyene Aleka, mengatakan hubungan Indonesia dan Ethiopia yang telah berlangsung lebih dari enam dekade saat ini semakin kuat. Menurutnya, kedua negara menikmati hubungan yang hangat dan terus berkembang, dibangun atas kepercayaan, kemakmuran bersama, serta nilai-nilai yang berakar pada Prinsip Bandung, atau Ten Principles of Bandung, yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika 1955. Prinsip tersebut antara lain menekankan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah, kesetaraan antarbangsa, penyelesaian sengketa secara damai, non-intervensi, serta kerja sama internasional.

Ia mengatakan Indonesia dan Ethiopia sama-sama memiliki sumber daya serta potensi pembangunan yang besar. Kedua negara juga mempunyai pengalaman yang dapat saling dibagikan dalam proses pembangunan. Karena itu, langkah berikutnya adalah membawa hubungan baik tersebut menuju kerja sama yang semakin praktis dan konkret.

“Kita perlu bergerak menuju kerja sama ekonomi yang lebih kuat dalam investasi, perdagangan, pariwisata, dan hubungan antarmasyarakat,” kata Fekadu.

Ekonomi Ethiopia Tumbuh 9,2 Persen

Dalam wawancara tersebut, dibahas pertumbuhan ekonomi Ethiopia yang mencapai sekitar 9,2 persen berdasarkan angka IMF. Fekadu mengatakan pemerintah Ethiopia bahkan memproyeksikan pertumbuhan yang lebih tinggi.

Menurutnya, salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut adalah reformasi makroekonomi dan ekonomi yang sedang dijalankan pemerintah melalui Homegrown Economic Reform Agenda.Program reformasi tersebut ditujukan untuk membuka lebih banyak peluang bagi sektor swasta sekaligus meningkatkan investasi asing.

Ethiopia juga semakin membuka peluang bagi foreign direct investment (FDI) dengan menyediakan berbagai insentif bagi investor internasional. Menurut Fekadu, reformasi ekonomi tersebut berjalan bersama dengan ekspansi sektor manufaktur dan agro-processing, pertumbuhan layanan digital, serta liberalisasi sektor telekomunikasi.

Ia menilai kombinasi reformasi dan ekspansi di berbagai sektor tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Ethiopia.

Pertanian Tetap Menjadi Fondasi

Meskipun perekonomian Ethiopia terus mengalami diversifikasi, pertanian tetap menjadi sektor fundamental bagi negara tersebut. Fekadu mengatakan sektor pertanian mempekerjakan lebih dari 70 persen penduduk Ethiopia.

Ia menjelaskan bahwa sistem pertanian Ethiopia sebelumnya banyak terdiri atas lahan-lahan kecil yang terfragmentasi, sehingga lebih sulit untuk dikembangkan menuju produksi komersial dalam skala besar.

Pemerintah kemudian mendorong petani skala kecil untuk mengelompokkan lahan mereka dan menanam jenis tanaman yang sama berdasarkan potensi masing-masing wilayah. Menurut Fekadu, kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas dan memperkuat komersialisasi sektor pertanian.Ia menegaskan bahwa Ethiopia memiliki lahan pertanian subur yang luas, sehingga pertanian akan tetap menjadi basis penting dalam pembangunan ekonomi negara tersebut.

Produksi pertanian Ethiopia sangat beragam. Komoditas utamanya antara lain teff, jagung, gandum, sorgum, barley, kopi, kacang-kacangan, serta berbagai oilseeds, selain sayuran dan tanaman lainnya. Kopi menjadi salah satu komoditas pertanian terpenting sekaligus sumber utama devisa Ethiopia.

Dua komoditas ekspor pertanian penting Ethiopia adalah kopi dan sesame seeds atau biji wijen. Data World Bank mencatat kopi merupakan komoditas ekspor pertanian utama Ethiopia, sementara sesame merupakan salah satu oilseed ekspor terpenting negara tersebut. Sebagai gambaran skala perdagangan, data U.S. International Trade Administration mencatat ekspor pertanian Ethiopia mencapai sekitar US$3,3 miliar pada 2022, termasuk kopi senilai sekitar US$1,5 miliar, diikuti oleh bunga potong US$591 juta, sayuran segar US$248 juta, dan sesame US$184 juta.

Secara keseluruhan, besarnya sektor pertanian juga terlihat dari kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Data World Bank menunjukkan sektor agriculture, forestry and fishing menyumbang sekitar 34,87 persen terhadap PDB Ethiopia pada 2024. Dengan PDB nominal Ethiopia sekitar US$149,7 miliar pada tahun tersebut, nilai tambah sektor ini setara dengan sekitar US$52 miliar.

Energi Bersih Jadi Penopang Pertumbuhan

Sektor energi juga menjadi bagian penting dari perkembangan ekonomi Ethiopia. Negara tersebut terus mengembangkan kapasitas pembangkit listrik tenaga air dan energi bersih.

Salah satu proyek terbesarnya adalah Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD), yang menjadi salah satu proyek pembangkit listrik tenaga air terbesar di kawasan.

Pembangunan GERD dimulai pada 2011 di Sungai Abay atau Blue Nile. Pembangkit mulai menghasilkan listrik untuk pertama kalinya pada 2022 dan setelah sekitar 14 tahun pembangunan, GERD secara resmi diresmikan pada 9 September 2025. Dengan kapasitas terpasang sekitar 5.150 megawatt, GERD kini menjadi pembangkit listrik tenaga air terbesar di Afrika.

Salah satu aspek paling menonjol dari proyek tersebut adalah pembiayaannya. Ethiopia membangun GERD tanpa pembiayaan eksternal untuk proyek bendungan tersebut, dengan sumber dana yang dihimpun dari dalam negeri melalui anggaran pemerintah, penjualan obligasi, donasi masyarakat, serta kontribusi warga Ethiopia dan diaspora. Nilai pembangunan proyek tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$5 miliar.

GERD secara signifikan memperbesar kemampuan Ethiopia untuk menghasilkan listrik. Selain menyediakan energi bagi elektrifikasi dan industrialisasi domestik, proyek tersebut juga memperkuat kemampuan Ethiopia untuk mengekspor listrik ke negara-negara tetangga. Ethiopia saat ini mengekspor listrik ke Djibouti, Kenya, Sudan, dan Tanzania, sementara kapasitas GERD juga memberi ruang untuk perluasan perdagangan listrik regional.

Agro-processing dan Manufaktur Jadi Fase Berikutnya

Meski pertanian tetap fundamental, Fekadu menilai agro-processing dan manufaktur akan menjadi sektor yang paling mewakili fase berikutnya dari pertumbuhan ekonomi Ethiopia. Menurutnya, keunggulan Ethiopia tidak hanya terletak pada kemampuan menghasilkan bahan mentah atau komoditas pertanian.

Negara tersebut ingin meningkatkan nilai tambah dengan melakukan lebih banyak proses produksi di dalam negeri. Karena itu, Ethiopia terus membuka kebijakan ekonominya dan menciptakan lebih banyak peluang investasi dengan tujuan memperkuat sektor manufaktur di Afrika Timur.

Ethiopia Tawarkan Pasar Lebih dari 130 Juta Penduduk

Fekadu secara khusus mengajak pelaku usaha Indonesia untuk melihat Ethiopia sebagai tujuan investasi jangka panjang.

“Ethiopia is not only a market of today. Ethiopia is a market for the future,” ujarnya.

Ia menyoroti jumlah penduduk Ethiopia yang mencapai lebih dari 130 juta jiwa, menjadikannya negara dengan populasi terbesar kedua di Afrika. Selain pasar domestik yang besar, Ethiopia juga menawarkan peningkatan infrastruktur, reformasi ekonomi, ekspansi kapasitas energi, serta akses menuju pasar Afrika yang lebih luas.

Menurut Fekadu, kombinasi tersebut menciptakan peluang strategis jangka panjang bagi investor. Ia mengatakan perusahaan yang masuk lebih awal dan membangun kemitraan dengan pelaku lokal berpotensi memperoleh manfaat besar seiring dengan berlanjutnya industrialisasi dan diversifikasi ekonomi Ethiopia.