(Businesslounge Journal-News & Insight) Larangan penggunaan ponsel di sekolah sebenarnya bukanlah kebijakan yang baru seperti yang mungkin dibayangkan. Meskipun semakin banyak negara bagian di Amerika Serikat yang menerapkannya dalam tiga tahun terakhir, praktik ini sudah dimulai sejak 1989. Saat itu, Maryland melarang penggunaan ponsel dan pager di sekolah sebagai upaya membatasi komunikasi di lingkungan sekolah di antara siswa yang diduga terlibat dalam aktivitas ilegal.
Pada 2009, bahkan sembilan dari 10 sekolah telah melarang penggunaan ponsel. Namun, jumlah tersebut mulai menurun seiring semakin luasnya penggunaan smartphone dan meningkatnya keinginan orang tua untuk dapat menghubungi anak mereka dalam keadaan darurat.
Kini, ketika larangan penggunaan ponsel di sekolah kembali semakin banyak diterapkan, pertanyaan mengenai efektivitas kebijakan tersebut kembali muncul. Apakah larangan ponsel benar-benar dapat meningkatkan nilai ujian dan mengurangi perundungan atau bullying?
Data awal menunjukkan bahwa hasilnya belum sepositif yang diperkirakan banyak pihak.
Sebuah penelitian yang dilakukan Institute for Economic Policy Research di Stanford University bersama National Bureau of Economic Research dan dirilis awal tahun ini menemukan bahwa sekolah-sekolah yang telah menerapkan larangan ponsel selama tiga tahun hampir tidak mengalami perubahan dalam nilai ujian.
Jason Baron, salah satu penulis penelitian sekaligus asisten profesor ekonomi di Duke University, mengatakan temuan tersebut cukup mengejutkan bagi para peneliti. Seluruh anggota tim penelitian merupakan profesor perguruan tinggi.
Pada awal penelitian, para peneliti memperkirakan larangan ponsel akan memberikan dampak positif terhadap nilai ujian. Secara logis, siswa yang tidak dapat menggunakan ponsel selama pelajaran seharusnya memiliki perhatian yang lebih besar terhadap materi yang disampaikan guru.
Namun, setelah dipertimbangkan lebih jauh, tidak adanya perubahan signifikan pada nilai ujian sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Nilai ujian pada dasarnya memang sulit mengalami perubahan dalam waktu singkat. Selain itu, mengambil ponsel dari siswa tidak secara otomatis membuat mereka memperhatikan pelajaran.
Tanpa ponsel pun, siswa masih dapat menemukan berbagai hal lain untuk mengalihkan perhatian. Mereka bisa menggambar, melamun, atau memperhatikan teman sekelas. Artinya, menghilangkan satu sumber gangguan belum tentu membuat siswa sepenuhnya fokus pada pembelajaran.
Menurut Baron, aspek tersebut kemungkinan belum sepenuhnya diperhitungkan oleh orang tua maupun pembuat kebijakan.
Penelitian itu juga menemukan sedikit bukti bahwa pembatasan penggunaan ponsel memperbaiki aspek lain dari lingkungan sekolah. Tingkat kehadiran siswa tidak menunjukkan perubahan yang berarti, termasuk dalam kasus ketidakhadiran kronis. Perubahan yang signifikan secara statistik juga tidak ditemukan pada kasus perundungan daring maupun tingkat perhatian siswa di ruang kelas.
Meski demikian, Baron mengingatkan agar hasil penelitian mengenai bullying tidak dijadikan kesimpulan utama. Data tersebut berasal dari survei terhadap sejumlah kecil sekolah sehingga cakupannya tidak selengkap data nilai ujian yang tersedia bagi tim peneliti.
Namun, ia mengakui bahwa sekadar mengeluarkan ponsel dari ruang kelas kemungkinan belum cukup untuk mengatasi persoalan bullying. Larangan tersebut juga masuk akal jika tidak memberikan dampak besar terhadap perundungan karena siswa masih memiliki akses terhadap ponsel ketika berada di luar sekolah.
Ada Potensi Manfaat dalam Jangka Panjang
Terlepas dari hasil penelitian tersebut, larangan penggunaan ponsel di sekolah tetap memiliki sejumlah potensi manfaat. Data yang tersedia saat ini baru mencakup tiga tahun sehingga perubahan dalam jangka panjang masih mungkin terlihat.
Survei mengenai kesejahteraan siswa juga menunjukkan hasil yang menarik. Pada tahun pertama penerapan larangan, pelanggaran disiplin meningkat sementara tingkat kesejahteraan yang dilaporkan siswa menurun. Namun, memasuki tahun ketiga, jumlah pelanggaran telah kembali ke tingkat sebelum larangan diterapkan. Sebagian siswa bahkan melaporkan adanya peningkatan kesejahteraan.
Baron menilai efektivitas larangan ponsel sangat bergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Jika tujuan utamanya hanya meningkatkan hasil ujian, hasil penelitian sejauh ini mungkin belum terlalu menggembirakan. Namun, jika kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan aspek lain dalam kehidupan sekolah, hasilnya perlu dilihat secara lebih luas.
Tim peneliti berencana melanjutkan penelitian terhadap sekolah-sekolah yang telah menerapkan larangan penggunaan ponsel. Data berikutnya diperkirakan akan tersedia pada akhir tahun ini.
Dukungan terhadap Larangan Tetap Tinggi
Meskipun dampak larangan penggunaan ponsel di sekolah sejauh ini relatif kecil, dukungan masyarakat terhadap kebijakan tersebut masih kuat.
Survei Pew Research Center pada akhir Juli menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat orang dewasa mendukung larangan penggunaan ponsel di ruang kelas bagi siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.
Untuk pertama kalinya, mayoritas orang dewasa juga menyatakan dukungan terhadap larangan penggunaan ponsel sepanjang hari sekolah.
Saat ini, semakin banyak negara bagian di Amerika Serikat yang memiliki aturan mengenai penggunaan ponsel di sekolah. Hanya tujuh negara bagian yang belum memiliki pembatasan penggunaan ponsel. Lebih dari 30 negara bagian telah melarang penggunaan ponsel di ruang kelas, sementara negara bagian lainnya menerapkan pembatasan dalam bentuk yang lebih terbatas.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perdebatan mengenai penggunaan ponsel di sekolah masih terus berlangsung. Di satu sisi, smartphone dapat menjadi sumber gangguan dalam proses belajar. Di sisi lain, perangkat tersebut memiliki fungsi penting bagi komunikasi antara siswa dan orang tua, terutama dalam situasi darurat.
Karena itu, efektivitas larangan ponsel tidak hanya dapat diukur dari nilai ujian. Dampaknya terhadap kedisiplinan, kesejahteraan siswa, konsentrasi, interaksi sosial, serta lingkungan belajar juga perlu menjadi pertimbangan.

