Toyota Tunda Highlander EV, Ini Alasannya!

(Business Lounge Journal – Automotive)

Toyota kembali menunda kehadiran Highlander versi listrik murni di pasar Amerika Serikat. Model yang sedianya menjadi kendaraan listrik pertama Toyota yang diproduksi di Negeri Paman Sam itu kini diperkirakan baru meluncur pada 2027 atau bahkan setelahnya.

Penundaan tersebut menjadi perubahan terbaru dalam jadwal peluncuran Highlander EV, yang sebelumnya ditargetkan mulai dipasarkan pada akhir 2026. Toyota menyatakan keputusan itu bukan disebabkan oleh melemahnya pasar kendaraan listrik Amerika Serikat, melainkan berkaitan dengan kebutuhan untuk melakukan penyesuaian sebelum kendaraan resmi diluncurkan.

Highlander EV memiliki posisi strategis dalam ekspansi elektrifikasi Toyota di AS. Ketika diperkenalkan pada Februari 2026, SUV tiga baris ini disebut sebagai BEV pertama Toyota yang dirakit di Amerika Serikat, sekaligus model tiga baris pertama Toyota dengan sistem penggerak listrik penuh untuk pasar tersebut.

Produksinya dirancang untuk berlangsung di fasilitas Toyota Motor Manufacturing Kentucky di Georgetown. Untuk mendukung proyek tersebut, Toyota juga membangun rantai pasokan baterai domestik. Modul baterai Highlander EV akan menggunakan pasokan dari pabrik baterai Toyota di North Carolina yang menelan investasi sekitar US$13,9 miliar, selain berasal dari mitra pemasok di AS.

Bukan Sekadar SUV Listrik Baru

Highlander EV dirancang sebagai SUV keluarga berkapasitas hingga tujuh penumpang. Toyota membekalinya dengan dua pilihan kapasitas baterai, termasuk baterai 95,8 kWh pada varian tertentu yang diklaim mampu menghasilkan jarak tempuh sekitar 320 mil atau 515 kilometer.

Model tersebut juga menggunakan standar pengisian NACS yang semakin luas digunakan di Amerika Utara. Varian all-wheel drive mampu menghasilkan hingga 338 horsepower, sementara sejumlah varian menggunakan penggerak roda depan.

Dari sisi positioning, Highlander EV diharapkan memperluas pilihan Toyota di segmen SUV listrik berukuran besar. Namun, penundaan produksi menunjukkan bahwa Toyota memilih memberikan waktu tambahan sebelum kendaraan masuk ke pasar dalam skala penuh.

Pada Juli lalu, Toyota sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa produksi Highlander EV tertunda sedikitnya delapan minggu. Saat itu, perusahaan menyebut diperlukan “additional adjustments” sebelum peluncuran, tanpa memberikan rincian teknis mengenai perubahan yang dilakukan.

Toyota Tetap Pertahankan Strategi Elektrifikasi

Meski jadwal Highlander EV mundur, Toyota tidak menghentikan strategi elektrifikasinya di Amerika Serikat. Perusahaan justru terus memperluas portofolio kendaraan listrik, sementara model hybrid tetap menjadi bagian penting dari strategi transisi tersebut.

Highlander bermesin bensin dan hybrid juga masih akan diproduksi. Dengan demikian, konsumen Amerika tidak akan kehilangan pilihan Highlander selama masa transisi menuju versi listrik penuh.

Keputusan mempertahankan model konvensional sekaligus menunda EV juga memperlihatkan pendekatan Toyota yang cenderung berhati-hati dalam melakukan transisi teknologi. Perusahaan tidak sekadar mengejar kecepatan peluncuran, tetapi ingin memastikan produk baru siap sebelum masuk ke pasar.

Bagi Toyota, Highlander EV juga memiliki arti lebih besar daripada sekadar penambahan satu model listrik. Kendaraan ini menjadi ujian bagi kemampuan manufaktur Amerika, rantai pasokan baterai domestik, sekaligus strategi Toyota menghadapi perubahan preferensi konsumen SUV di pasar AS.

Dengan jadwal terbaru yang bergeser ke 2027 atau lebih lambat, perhatian kini akan tertuju pada kapan Toyota benar-benar memulai produksi massal Highlander EV. Yang jelas, penundaan tersebut tidak berarti Toyota meninggalkan pasar kendaraan listrik Amerika. Sebaliknya, Toyota tampaknya memilih memperlambat langkah untuk memastikan kendaraan listrik yang menjadi tonggak baru produksinya di AS benar-benar siap ketika akhirnya sampai ke tangan konsumen.