(Business Lounge Journal – Foreign Insight)
Indonesia dinilai sebagai pintu gerbang utama bagi Meksiko untuk memperluas hubungan ekonomi, perdagangan, dan diplomatiknya di Asia Tenggara. Penilaian tersebut didasarkan pada besarnya pasar Indonesia, posisi Jakarta sebagai pusat ASEAN, serta pengaruhnya dalam menentukan arah kawasan.
Dalam wawancara Business Lounge Journal dengan Duta Besar Meksiko untuk Indonesia, H.E. Francisco de la Torre Galindo, dibahas alasan Meksiko memandang Indonesia sebagai pintu masuk utama menuju Asia Tenggara. Ia menjelaskan bahwa jarak geografis tidak seharusnya membatasi hubungan kedua negara. Indonesia dan Meksiko memiliki kapasitas ekonomi besar, pengalaman mengelola sumber daya strategis, serta peluang membangun perdagangan dan industri bersama.
Indonesia Memiliki Pasar Terbesar di Asia Tenggara
Alasan pertama adalah besarnya jumlah penduduk Indonesia. Dengan populasi sekitar 285 juta jiwa, Indonesia mencakup lebih dari 40 persen penduduk ASEAN yang kini mendekati 700 juta jiwa. Besarnya pasar domestik membuat Indonesia tidak dapat diabaikan oleh Meksiko maupun perusahaan yang ingin memperluas perdagangan di Asia Tenggara.
“Jika kami ingin menjual ke pasar yang penting dari sudut pandang perdagangan, kami harus menjual ke Indonesia,” ujarnya.
Keberhasilan memasuki pasar Indonesia juga dapat menjadi dasar bagi perusahaan Meksiko untuk memahami dan menjangkau kawasan secara lebih luas.
Jakarta Menjadi Pusat Diplomasi ASEAN
Alasan kedua adalah keberadaan Sekretariat ASEAN di Jakarta. Posisi tersebut membuat Indonesia penting tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara diplomatik.
Negara-negara anggota memiliki perwakilan tetap untuk ASEAN di Jakarta. Selain itu, terdapat 97 duta besar dari negara non-ASEAN dan organisasi antarpemerintah yang diakreditasi untuk ASEAN. Sejumlah negara bahkan memiliki misi khusus untuk ASEAN di Jakarta.
Karena pusat kelembagaan ASEAN berada di Jakarta, Meksiko perlu memahami dan menghormati peran Indonesia dalam organisasi tersebut. Hubungan dengan Indonesia sekaligus membuka jalur komunikasi yang lebih dekat dengan dinamika kawasan.
Kepemimpinan Indonesia Membantu Membaca Arah Kawasan
Alasan ketiga adalah pengaruh dan kepemimpinan Indonesia di Asia Tenggara. Langkah politik, ekonomi, dan diplomatik Indonesia sering menjadi indikator arah perkembangan kawasan.
“Jalur yang diikuti Indonesia, karena penghormatan dan kepemimpinannya di kawasan, membantu Meksiko melihat ke mana Asia Tenggara bergerak,” katanya.
Karena itu, hubungan dengan Indonesia tidak hanya dipandang sebagai hubungan bilateral, tetapi juga sebagai sarana memahami perubahan geopolitik dan ekonomi Asia Tenggara.
Jarak Geografis Tidak Harus Menjadi Hambatan
Salah satu tantangan hubungan ekonomi Indonesia–Meksiko adalah anggapan bahwa kedua negara terlalu jauh.
Menurut Duta Besar Francisco de la Torre Galindo, pelaku usaha kedua negara kerap mengkhawatirkan jarak. Namun, kedekatan ekonomi pada akhirnya bergantung pada kemauan dan strategi masing-masing pihak.
“Kita dapat berada sejauh atau sedekat yang kita putuskan,” ujarnya.
Ia mencontohkan Cinépolis, perusahaan bioskop asal Meksiko, yang telah memiliki sekitar 300 layar di Indonesia. Cinépolis memasuki Indonesia melalui investasi strategis dan kemitraan dengan Cinemaxx milik Lippo Group. Sebaliknya, Indorama telah memiliki fasilitas produksi di Meksiko.
Selain Cinépolis, merek hiburan pendidikan asal Meksiko, KidZania, juga telah hadir di Jakarta melalui kemitraan waralaba dengan perusahaan lokal. Kehadirannya memperlihatkan bahwa konsep bisnis dan merek Meksiko dapat diterima oleh konsumen Indonesia, meskipun bentuk operasinya berbeda dari investasi langsung Cinépolis. KidZania saat ini memiliki jaringan di lebih dari 17 negara.
Hal ini menunjukkan bahwa jarak tidak menghalangi investasi apabila terdapat peluang pasar dan perencanaan bisnis yang memadai.
Perdagangan antara Indonesia dan Meksiko
Hubungan perdagangan kedua negara masih sangat tidak seimbang. Data pemerintah Meksiko menunjukkan bahwa kendaraan bermotor menjadi produk utama yang dibeli Meksiko dari Indonesia pada 2024, dengan nilai sekitar US$742 juta. Sementara itu, produk utama yang dijual Meksiko ke Indonesia adalah mesin dan unit pengolahan data, senilai sekitar US$16,3 juta.
Ketimpangan itu masih terlihat pada 2026. Pada Mei 2026, ekspor Meksiko ke Indonesia tercatat sebesar US$17,1 juta, sedangkan impornya dari Indonesia mencapai US$279 juta. Dengan demikian, Meksiko mengalami defisit perdagangan bulanan sekitar US$262 juta terhadap Indonesia.
Data tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi bilateral telah memiliki volume perdagangan yang berarti, tetapi masih didominasi oleh ekspor Indonesia. Karena itu, terdapat ruang besar untuk memperluas ekspor Meksiko, investasi dua arah, serta kerja sama produksi.
Meksiko Merupakan Kekuatan Besar dalam Perdagangan Dunia
Duta Besar Francisco de la Torre Galindo juga menekankan besarnya kapasitas perdagangan negaranya.
Meksiko merupakan pusat manufaktur penting di Amerika Utara dan terintegrasi erat dengan rantai pasok Amerika Serikat dan Kanada melalui United States–Mexico–Canada Agreement atau USMCA. Perjanjian tersebut mendukung pergerakan barang dan komponen lintas batas, terutama dalam industri otomotif, elektronik, mesin, dan peralatan medis.
Integrasi tersebut membuat perdagangan Meksiko–Amerika Serikat sangat besar. Pada 2025, perdagangan barang kedua negara mencapai sekitar US$872,8 miliar, terdiri dari ekspor Amerika Serikat ke Meksiko sebesar US$338 miliar dan impor dari Meksiko sebesar US$534,9 miliar.
Angka tersebut setara dengan perdagangan rata-rata sekitar US$2,39 miliar per hari atau lebih dari US$1,6 juta setiap menit. Besarnya hubungan ini menunjukkan bahwa Meksiko bukan sekadar pasar Amerika Latin, tetapi bagian utama dari jaringan produksi Amerika Utara.
Indonesia dan Meksiko Dapat Bersaing sekaligus Bekerja Sama
Dalam sejumlah industri, Indonesia dan Meksiko mungkin menjadi pesaing. Namun, persaingan tidak menutup kemungkinan membangun produksi dan rantai pasok bersama.
“Kita dapat menemukan cara untuk membangun sesuatu bersama,” ujarnya.
Kerja sama membutuhkan minat lebih besar dari sektor swasta. Perusahaan Indonesia perlu memahami pasar Meksiko, sementara perusahaan Meksiko harus memahami konsumen dan industri Indonesia. Peluang tidak hanya terletak pada penjualan produk akhir, tetapi juga investasi, pengolahan bahan baku, manufaktur, dan pengembangan teknologi.
Bagi Meksiko, Indonesia juga bukan sekadar salah satu negara di Asia Tenggara, melainkan pasar terbesar, pusat diplomasi ASEAN, dan negara yang berpengaruh terhadap arah kawasan.

