(Business Lounge Journal – Foreign Insight)
Armenia dan Indonesia terus memperluas hubungan bilateral menjelang 34 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Meski dipisahkan oleh jarak geografis yang jauh, hubungan keduanya berkembang melalui jalur diplomatik, perdagangan, teknologi, pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan hubungan antarmasyarakat.
Dalam wawancara bersama Business Lounge Journal di Kedutaan Besar Armenia di Jakarta, Duta Besar Armenia untuk Indonesia, H.E. Serob Bejanyan, menjelaskan perkembangan hubungan kedua negara, kekuatan ekonomi Armenia, serta peluang kerja sama yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia.
Hubungan Diplomatik Armenia–Indonesia Terus Berkembang
Menurut Bejanyan, jarak geografis bukan penghalang bagi Armenia dan Indonesia untuk membangun kerja sama yang bermakna. Ia mencatat bahwa keterlibatan kedua negara terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di bidang bisnis, pendidikan, dan hubungan antarmasyarakat.
Hubungan diplomatik Armenia dan Indonesia resmi dibentuk pada 22 September 1992 melalui komunike bersama yang ditandatangani di Moskow. Sejak itu, kedua negara membangun sejumlah landasan hukum bagi kerja sama bilateral.
Pada 2005, Armenia dan Indonesia menandatangani perjanjian penghindaran pajak berganda serta memorandum pembentukan forum konsultasi bilateral. Kedua negara kemudian menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknis pada tahun 2012.
Pada tahun 2016, kedua pemerintah menyepakati pembebasan visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas, memorandum kerja sama antarkementerian luar negeri, serta surat pernyataan kehendak mengenai kerja sama penelitian, teknologi, dan pendidikan tinggi.
Kerja sama tersebut dilanjutkan pada 2019 melalui perjanjian pelaksanaan mengenai inkubator bisnis teknologi dan taman ilmu pengetahuan dan teknologi. Rangkaian kesepakatan ini menunjukkan bahwa hubungan Armenia–Indonesia memiliki landasan formal yang mencakup diplomasi, perpajakan, ekonomi, pendidikan tinggi, penelitian, dan pengembangan teknologi.
Armenia juga memperluas keterlibatannya dengan kawasan Asia Tenggara. Pada Juni 2023, Duta Besar Bejanyan menyerahkan surat kepercayaan sebagai Duta Besar Armenia untuk ASEAN kepada Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn — langkah yang membuka jalur tambahan bagi Armenia untuk mengembangkan hubungan tidak hanya dengan Indonesia, tetapi juga dengan ASEAN sebagai organisasi kawasan.
Armenia Menawarkan Peluang Ekonomi bagi Indonesia
Menurut Bejanyan, Armenia dapat menjadi mitra bernilai bagi Indonesia dalam bidang perdagangan, teknologi, pertukaran kebudayaan, dan akses menuju pasar Eurasia. Posisi geografis Armenia menghubungkan Eropa dan Asia, dan negara ini merupakan anggota Eurasian Economic Union (Uni Ekonomi Eurasia).
Keanggotaan tersebut memberikan Armenia hubungan ekonomi yang lebih luas dengan negara-negara anggota organisasi itu — kondisi yang dapat membuka peluang bagi perusahaan Indonesia yang ingin memasarkan produk atau membangun jaringan bisnis di kawasan tersebut.
Data resmi Kedutaan Besar Armenia di Jakarta menunjukkan bahwa arus perdagangan kedua negara saat ini masih timpang dan didominasi oleh produk Indonesia. Impor Armenia dari Indonesia naik dari sekitar 28,17 juta dolar AS pada 2021 menjadi 79,22 juta dolar AS pada 2025, sementara ekspor Armenia ke Indonesia tetap sangat kecil dan bahkan menyusut tajam, dari 799.900 dolar AS pada 2021 menjadi hanya 29.900 dolar AS pada 2025. Kesenjangan ini menggambarkan besarnya ruang yang masih terbuka bagi produk dan investasi Armenia — termasuk brandy dan teknologi yang disebutkan Bejanyan — untuk menembus pasar Indonesia.
Sebaliknya, Indonesia merupakan pasar besar di Asia Tenggara yang dapat menjadi tujuan bagi perusahaan Armenia. Dengan demikian, hubungan kedua negara berpotensi berkembang sebagai kemitraan dua arah: Armenia membantu memperluas akses Indonesia ke Eurasia, sementara Indonesia menjadi pintu masuk Armenia menuju kawasan ASEAN.
Teknologi Menjadi Salah Satu Kekuatan Utama Armenia
Menurut Bejanyan, Armenia telah membangun reputasi internasional sebagai pusat inovasi yang berkembang, mencakup pengembangan perangkat lunak, rekayasa, kecerdasan buatan, desain semikonduktor, dan berbagai solusi digital.
Salah satu perusahaan teknologi Armenia yang telah menjangkau pasar internasional adalah Renderforest, yang didirikan di Yerevan pada 2013. Perusahaan ini mengembangkan platform berbasis kecerdasan buatan untuk membuat video, desain grafis, situs web, serta berbagai materi merek.
Dalam bidang semikonduktor, Armenia memiliki Integral Solutions, perusahaan yang bergerak dalam desain, pengujian, dan verifikasi chip. Perusahaan ini sedang mengembangkan pusat penelitian dan pengembangan di Engineering City, Yerevan, yang akan dilengkapi dengan infrastruktur untuk menguji rancangan chip sebelum memasuki tahap produksi.
Kehadiran perusahaan-perusahaan ini menunjukkan bahwa ekosistem teknologi Armenia kini mencakup lebih dari sekadar perangkat lunak — meluas ke AI, teknologi kreatif, rekayasa perangkat keras, dan desain semikonduktor. Kombinasi kemampuan teknologi Armenia dan besarnya pasar Indonesia dapat menjadi dasar bagi kerja sama perusahaan, lembaga pendidikan, pusat penelitian, dan perusahaan rintisan dari kedua negara.
Produk Armenia untuk Indonesia
Dari sisi Armenia, produk yang berpotensi memasuki pasar Indonesia tidak hanya berasal dari sektor teknologi. Armenia juga dikenal menghasilkan brandy, anggur, buah kering, jus alami, air mineral, dan produk pertanian organik.
Brandy Armenia sebagai Produk Identitas Nasional
Duta Besar Bejanyan secara khusus menyoroti brandy Armenia sebagai produk dengan reputasi internasional, dan menyebut Ararat sebagai salah satu merek yang paling dikenal.
Ia menjelaskan bahwa produk tersebut pada masa lalu sering disebut Armenian cognac. Namun karena nama “Cognac” dilindungi sebagai identitas geografis milik wilayah Cognac di Prancis, istilah resminya kini menjadi Armenian brandy — meski sebagian orang masih menggunakan istilah lama karena telah lama melekat pada sejarah dan reputasi produk tersebut.

Secara historis, brandy Armenia dibuat dari anggur yang difermentasi lalu disuling sebelum menjalani proses pematangan. Industri brandy modern Armenia berkembang sejak akhir abad ke-19 dan sempat memperoleh pasar luas di wilayah Kekaisaran Rusia serta Uni Soviet.
Ararat, yang diproduksi oleh Yerevan Brandy Company, adalah salah satu merek brandy Armenia yang paling dikenal. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa peraturan produksi mengharuskan Armenian brandy diproduksi di Armenia menggunakan anggur yang ditanam di wilayah negara itu.

Anggur Armenia, Warisan Berusia Ribuan Tahun
Selain brandy, Armenia juga dikenal sebagai salah satu tempat kelahiran budaya anggur dunia. Penggalian arkeologis di Gua Areni-1, Provinsi Vayots Dzor, menemukan fasilitas pembuatan anggur tertua yang pernah diketahui, berusia sekitar 6.100 tahun, lengkap dengan alat pemeras, bejana fermentasi, dan sisa-sisa anggur purba. Varietas anggur asli seperti Areni Noir masih dibudidayakan hingga kini dan menjadi andalan produsen anggur modern Armenia.
Industri anggur Armenia sempat meredup pada era Soviet, ketika kebun anggur lebih banyak diarahkan untuk produksi brendi dan anggur curah ketimbang anggur meja berkualitas. Sejak kemerdekaan pada 1991, generasi baru produsen anggur Armenia menghidupkan kembali varietas asli tersebut dan mulai menembus pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Italia, dan Rusia.
Air Mineral dan Jus Armenia
Di luar minuman beralkohol, Armenia juga dikenal lewat air mineral Jermuk, yang berasal dari mata air alami di kota resor Jermuk, Provinsi Vayots Dzor, dan telah dibotolkan sejak 1951. Kandungan mineralnya — termasuk kalsium, magnesium, dan bikarbonat — membuat Jermuk dikenal luas dan menjadi salah satu produk ekspor andalan Armenia, dipasarkan hingga ke Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, dan sejumlah negara Uni Eropa.
Di sektor jus, aprikot menjadi bahan baku utama. Buah ini bahkan menyandang nama ilmiah Prunus armeniaca (“plum Armenia”) karena kaitannya yang erat dengan negara ini, dan secara historis menjadi komoditas ekspor pertanian terbesar Armenia — rata-rata menyumbang sekitar 60 persen dari total ekspor buah dan sayur negara itu, dengan Rusia sebagai tujuan utama. Selain dikonsumsi segar atau dikeringkan, aprikot — bersama buah delima yang juga populer di Armenia — banyak diolah menjadi jus, salah satu produk turunan pertanian yang berpotensi dipasarkan ke pasar baru seperti Indonesia.



