Global

Investasi Membentuk Ulang Peta Daya Saing Global

(Business Lounge – Essay on Global) Dalam laporan Catalyzing Competitiveness: Where Investment Happens and Why, McKinsey Global Institute menempatkan investasi produktif sebagai salah satu indikator penting untuk membaca daya saing ekonomi. Laporan ini melihat bagaimana perubahan pola investasi di China, Amerika Serikat, dan Eropa tidak hanya menggambarkan kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai arah perubahan kapasitas produksi dan daya saing global pada masa depan.

McKinsey melihat investasi sebagai bagian dari hubungan dua arah. Di satu sisi, perusahaan menanamkan modal karena melihat suatu lokasi memiliki kondisi yang menarik untuk menghasilkan keuntungan. Di sisi lain, investasi tersebut kemudian membangun kapasitas produksi, teknologi, produktivitas, dan kemampuan industri yang dapat memperkuat daya saing pada periode berikutnya.

Investasi menunjukkan arah ekonomi masa depan

Salah satu gagasan penting dalam analisis McKinsey adalah membedakan investasi bruto dan investasi neto. Investasi bruto menunjukkan keseluruhan modal yang ditanamkan dalam perekonomian, sedangkan investasi neto memperhitungkan penyusutan dan penggantian aset lama.Perbedaan ini penting karena sebuah negara dapat memiliki investasi bruto yang besar tanpa mengalami peningkatan kapasitas produktif yang sama besar. Sebagian investasi mungkin hanya digunakan untuk mengganti mesin, infrastruktur, atau fasilitas yang sudah mengalami penyusutan.

Investasi neto memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai seberapa besar kapasitas produktif baru yang sedang dibangun. Karena itu, indikator tersebut dapat membantu membaca apakah sebuah perekonomian sedang memperluas kapasitasnya atau sekadar mempertahankan kapasitas yang sudah ada.

China terus memperbesar kapasitas produktif

China menjadi contoh paling kuat mengenai bagaimana investasi dapat mengubah posisi suatu negara dalam ekonomi global. Menurut McKinsey, investasi produktif bruto China mencapai sekitar US$5,9 triliun pada 2024, dibandingkan sekitar US$5,1 triliun di Amerika Serikat dan US$3,1 triliun di Uni Eropa.Dalam sejumlah sektor industri, kekuatan tersebut bahkan lebih terlihat. China menyumbang sekitar 53 persen investasi global dalam industri elektronik dan sekitar 41 persen dalam manufaktur dasar pada 2024.

Angka tersebut menunjukkan bahwa China bukan hanya memiliki kapasitas produksi yang besar, tetapi juga terus membangun kapasitas baru dalam skala yang sangat besar.Namun, terdapat konsekuensi dari akumulasi modal yang sangat cepat. Stok modal produktif China telah mencapai sekitar 1,7 kali ukuran ekonominya. Tingkat pengembalian ekonomi atas stok modal produktif China juga sekitar 40 persen lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi dalam jumlah besar tidak otomatis menghasilkan produktivitas yang tinggi. Setelah kapasitas modal mencapai skala tertentu, tantangannya berubah dari memperbanyak modal menjadi meningkatkan produktivitas modal.

Amerika Serikat mengubah investasi menjadi keunggulan teknologi

Amerika Serikat memperlihatkan pola yang berbeda. Negara tersebut tidak mengalami pertumbuhan investasi produktif neto sebesar China, tetapi struktur investasinya semakin bergeser ke aset yang berkaitan dengan teknologi dan pengetahuan. Software, R&D, teknologi informasi, dan kekayaan intelektual memiliki peran yang semakin besar dalam pembentukan kapasitas produktif Amerika Serikat. Investasi semacam ini tidak selalu terlihat sebesar pembangunan pabrik atau infrastruktur fisik, tetapi dapat memberikan pengaruh besar terhadap produktivitas.

Perkembangan artificial intelligence mempercepat perubahan tersebut. Investasi pada data center, semikonduktor, komputasi, jaringan digital, dan teknologi AI menciptakan kebutuhan modal baru yang menghubungkan investasi fisik dengan investasi tidak berwujud.Kekuatan Amerika Serikat dengan demikian tidak hanya berasal dari jumlah modal yang ditanamkan, tetapi juga dari kemampuannya menghubungkan modal dengan inovasi.

Eropa menghadapi tekanan untuk meningkatkan investasi

Uni Eropa berada dalam posisi yang berbeda. Menurut McKinsey, investasi produktif neto kawasan tersebut mengalami penurunan dalam jangka panjang. Tingkat investasi produktif neto turun dari sedikit di bawah 4 persen PDB sebelum krisis keuangan global menjadi sedikit di atas 2 persen pada 2024.Jerman menunjukkan kondisi yang lebih tajam. Investasi produktif netonya turun dari sekitar 2 persen PDB sebelum krisis menjadi sekitar 0,2 persen pada 2024. Pertumbuhan stok modal per pekerja juga hampir berhenti.

Persoalannya bukan berarti Eropa kehilangan seluruh kemampuan industrinya. Eropa masih memiliki perusahaan besar, teknologi, tenaga kerja terampil, pasar, dan basis manufaktur yang kuat.Masalahnya adalah investasi baru tidak cukup kuat untuk memperbarui dan memperluas kapasitas tersebut.Dalam konteks ini, investasi menjadi indikator masa depan. Pangsa produksi menggambarkan posisi ekonomi saat ini, sedangkan pangsa investasi memberikan petunjuk mengenai kapasitas produksi yang sedang dibangun.

Investasi mengubah peta ekonomi global

Perbedaan antara China, Amerika Serikat, dan Eropa menunjukkan bahwa peta ekonomi global tidak bersifat permanen.China memperkuat posisi manufakturnya melalui investasi besar pada mesin, fasilitas produksi, dan industri. Amerika Serikat memperluas keunggulan teknologi melalui investasi pada software, ICT, R&D, dan berbagai sektor strategis. Eropa menghadapi kebutuhan untuk mempercepat investasi agar tidak kehilangan posisi dalam industri yang selama ini menjadi kekuatannya.

Karena itu, melihat ukuran ekonomi saja tidak cukup. Negara dengan PDB besar hari ini belum tentu menjadi pusat pertumbuhan industri pada masa depan apabila investasinya melemah.Sebaliknya, negara dengan investasi yang meningkat cepat dapat membangun kapasitas baru dan memperbesar pangsa produksinya dalam beberapa tahun mendatang.

Investment intensity menjadi sinyal masa depan

Konsep investment intensity menjadi penting dalam pendekatan McKinsey. Indikator tersebut membandingkan pangsa investasi suatu negara dalam industri dengan pangsa produksi atau value added-nya.Jika sebuah negara memiliki pangsa investasi lebih besar daripada pangsa produksinya, terdapat indikasi bahwa negara tersebut sedang membangun kapasitas untuk memperbesar posisi industrinya.

Sebaliknya, jika pangsa produksinya besar tetapi investasi relatif rendah, posisi tersebut dapat menghadapi tekanan dalam jangka panjang.Dengan perspektif ini, investasi dapat berfungsi sebagai leading indicator. Produksi menunjukkan apa yang terjadi sekarang, sedangkan investasi memberikan petunjuk mengenai apa yang mungkin terjadi berikutnya.Pendekatan ini mengubah cara melihat daya saing. Alih-alih hanya bertanya siapa yang menjadi pemimpin industri saat ini, kita dapat bertanya siapa yang sedang membangun kapasitas untuk menjadi pemimpin berikutnya.

Investasi besar tidak selalu berarti investasi berkualitas

Pengalaman China memberikan pelajaran penting mengenai kualitas investasi. Akumulasi modal yang sangat besar dapat memperkuat kapasitas ekonomi, tetapi juga dapat menciptakan kapasitas berlebih apabila investasi tidak diikuti permintaan dan produktivitas yang memadai.Karena itu, volume investasi tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Investasi pada teknologi baru, mesin yang lebih produktif, infrastruktur strategis, R&D, dan kemampuan tenaga kerja dapat menghasilkan dampak ekonomi yang jauh berbeda dibandingkan investasi yang hanya mempertahankan kapasitas lama. Pertanyaan mengenai investasi dengan demikian perlu bergeser dari how much menjadi how productive.

Investasi mengikuti peluang ekonomi baru

Perubahan teknologi turut mengubah arah investasi global. Artificial intelligence meningkatkan kebutuhan terhadap data center, semikonduktor, jaringan listrik, dan infrastruktur digital. Transisi energi meningkatkan kebutuhan terhadap baterai, mineral kritis, energi terbarukan, dan teknologi penyimpanan.Transformasi industri otomotif juga menciptakan rantai pasok baru yang berkaitan dengan kendaraan listrik dan komponen elektronik.

Sektor-sektor tersebut menjadi sasaran investasi karena memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang. Negara yang mampu menyediakan energi, infrastruktur, tenaga kerja, teknologi, dan regulasi yang mendukung sektor-sektor tersebut memiliki peluang lebih besar untuk menarik modal.Karena itu, daya saing investasi semakin berkaitan dengan kemampuan sebuah negara mengantisipasi perubahan ekonomi sebelum perubahan tersebut sepenuhnya terjadi.

Geopolitik ikut menentukan lokasi investasi

Keputusan investasi juga semakin dipengaruhi oleh geopolitik. Perusahaan tidak hanya mempertimbangkan biaya produksi dan ukuran pasar, tetapi juga keamanan rantai pasok, akses terhadap mineral kritis, stabilitas energi, kebijakan perdagangan, dan risiko ketergantungan terhadap satu negara.Perubahan tersebut mendorong perusahaan melakukan diversifikasi lokasi produksi. Fasilitas baru dapat dibangun di luar pusat produksi tradisional untuk mengurangi risiko konsentrasi.

Bagi negara berkembang, perubahan ini menciptakan peluang. Negara yang sebelumnya bukan pusat produksi utama dapat menarik investasi baru jika mampu menawarkan kombinasi biaya, stabilitas, infrastruktur, tenaga kerja, dan akses pasar yang lebih menarik.Dengan demikian, geopolitik tidak hanya menciptakan hambatan perdagangan. Dalam kondisi tertentu, geopolitik juga menciptakan peluang investasi baru.

Biaya menjadi penentu keputusan investasi

Besarnya investasi global pada suatu negara pada akhirnya tetap berkaitan dengan keputusan perusahaan.McKinsey menggunakan pendekatan levelized cost untuk memahami mengapa investasi terjadi di satu lokasi tetapi tidak di lokasi lain. Kerangka ini memperhitungkan belanja modal, tenaga kerja, energi, material, pembiayaan, waktu menuju pasar, dan faktor kinerja lainnya.

Hasilnya menunjukkan bahwa biaya produksi menjadi salah satu penentu penting dalam keputusan investasi. Negara dengan biaya total yang lebih rendah memiliki peluang lebih besar untuk menarik investasi, terutama dalam industri yang sangat sensitif terhadap biaya.Namun, biaya murah bukan satu-satunya faktor. Akses pasar, ekosistem industri, kualitas infrastruktur, kemampuan inovasi, serta kepastian dan kecepatan proses bisnis juga dapat menentukan keputusan perusahaan. Investor pada akhirnya menghitung keseluruhan business case, bukan hanya satu komponen biaya.

Kecepatan menjadi sumber daya saing

Salah satu aspek penting dalam daya saing investasi adalah waktu.Dalam industri yang berubah cepat, keterlambatan pembangunan fasilitas atau proses perizinan dapat mengurangi daya tarik sebuah proyek. Perusahaan akan menghitung berapa lama waktu yang diperlukan sejak keputusan investasi hingga fasilitas dapat mulai menghasilkan pendapatan.

Hal ini semakin penting dalam industri seperti AI, semikonduktor, kendaraan listrik, dan teknologi lainnya yang memiliki siklus inovasi cepat.Negara dengan biaya sedikit lebih tinggi masih dapat menarik investasi apabila mampu bergerak jauh lebih cepat. Sebaliknya, biaya yang murah dapat kehilangan daya tarik jika perusahaan membutuhkan waktu terlalu lama untuk memperoleh izin, membangun fasilitas, mendapatkan koneksi energi, atau memulai produksi.

Daya saing membutuhkan kombinasi faktor

Tidak ada satu faktor yang dapat menjelaskan seluruh pola investasi global.Tenaga kerja murah dapat menjadi keunggulan, tetapi produktivitas lebih penting. Energi murah membantu industri berat, tetapi akses terhadap pasar juga menentukan. Infrastruktur penting, tetapi kecepatan pembangunan dapat menjadi pembeda. Insentif pemerintah dapat menarik investasi, tetapi keberlanjutan proyek tetap bergantung pada business case.

Daya saing investasi pada akhirnya merupakan kombinasi antara biaya, produktivitas, risiko, teknologi, infrastruktur, tenaga kerja, akses pasar, dan kecepatan.Negara yang mampu menggabungkan faktor-faktor tersebut secara konsisten akan memiliki posisi lebih kuat dalam kompetisi mendapatkan modal global.

Indonesia perlu melihat daya saing dengan perspektif yang sama

Kerangka McKinsey tersebut sangat relevan untuk Indonesia. Indonesia memiliki sumber daya alam, pasar domestik besar, tenaga kerja, serta basis manufaktur yang dapat menjadi fondasi investasi.Namun, keunggulan tersebut harus diterjemahkan menjadi business case yang menarik bagi investor.Indonesia perlu memastikan bahwa biaya energi, logistik, tenaga kerja, pembiayaan, lahan, konstruksi, dan waktu menuju produksi dapat bersaing dengan negara lain.

Hilirisasi juga perlu bergerak dari sekadar pembangunan kapasitas pengolahan menuju industri yang semakin produktif dan berteknologi tinggi. Investasi pada mineral kritis dapat menjadi pintu masuk, tetapi nilai ekonominya akan semakin besar jika Indonesia mampu membangun rantai produksi yang lebih lengkap.

Investasi menentukan siapa yang menang berikutnya

McKinsey memperlihatkan bahwa persaingan ekonomi global bukan hanya persaingan mengenai siapa yang paling besar saat ini.Persaingan tersebut adalah kompetisi untuk menentukan di mana modal akan ditempatkan, industri apa yang akan dibangun, dan kapasitas produksi apa yang akan tersedia pada masa depan.

China memperlihatkan kekuatan akumulasi modal dan manufaktur. Amerika Serikat menunjukkan bagaimana investasi teknologi dapat menciptakan keunggulan baru. Eropa memperlihatkan risiko yang muncul ketika investasi tidak cukup untuk mempertahankan basis industri.

Bagi Indonesia, pesan terpentingnya adalah bahwa peningkatan investasi harus diikuti peningkatan kualitas investasi. Modal yang masuk perlu menghasilkan produktivitas, teknologi, inovasi, tenaga kerja terampil, rantai pasok, dan kapasitas ekspor.Dengan demikian, ukuran keberhasilan bukan sekadar seberapa besar investasi yang berhasil ditarik, tetapi seberapa efektif investasi tersebut mengubah struktur ekonomi dan meningkatkan daya saing Indonesia. Itulah inti investment competitiveness dalam perspektif McKinsey adalah investasi bukan hanya konsekuensi dari daya saing, tetapi juga mesin yang membentuk daya saing berikutnya.