(Business Lounge Journal – Art)
Jakarta menjadi tuan rumah pembukaan seni mural bertajuk “Interconnected Existence” (Keberadaan Nyata yang Saling Terhubung), sebuah karya kolaboratif yang mempertemukan seniman dari Austria, Indonesia, dan Ukraina. Acara ini digelar pada 30 Juli 2026 di kawasan Promenade Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki (TIM), sebagai simbol persahabatan lintas budaya sekaligus ajakan untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan.
Mural ini merupakan hasil kolaborasi tiga perupa dengan karakter visual yang sangat berbeda, yaitu Manuel Skirl dari Austria, Muna Diannur dari Indonesia, dan Vitalii Dilkone dari Ukraina. Meski memiliki gaya berkesenian yang unik, ketiganya berhasil menyatukan identitas masing-masing ke dalam satu komposisi yang harmonis, berkesan, dan seimbang tanpa menghilangkan ciri khas setiap karakter asli.
Mengangkat tema keterhubungan kehidupan, mural ini menggunakan ilustrasi rumah-rumah tradisional tiga negara asal para perupa—Austria, Indonesia, dan Ukraina—sebagai simbol keberagaman budaya. Setiap elemen saling terhubung dan membentuk satu sistem yang saling menopang, menggambarkan bahwa kehidupan manusia, budaya, dan alam memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah tantangan ekologis global yang membutuhkan kerja sama lintas negara untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Semangat karya seni ini juga selaras dengan filosofi Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, yang menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan ketika diikat oleh rasa saling menghormati dan saling mendukung. Melalui bahasa visual yang universal, mural ini mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa setiap tindakan terhadap lingkungan akan memberikan dampak bagi dunia secara keseluruhan.
Pembukaan mural dihadiri oleh perwakilan diplomatik, tokoh budaya, serta sahabat dari berbagai negara, seperti Yunani, Jerman, Belgia, Tanzania, dan lainnya. Selain sambutan resmi, pengunjung juga dapat mengikuti sesi diskusi bersama para seniman yang membagikan proses kreatif mereka serta pandangan mengenai seni sebagai media untuk membangun kesadaran ekologis. Uniknya, dalam sesi tanya jawab ini mereka menyatukan persepsi dengan menggunakan bantuan penerjemah di dalam ponsel pintar untuk menghasilkan karya seni yang mengesankan.
Acara ini semakin istimewa dengan penampilan dua seniman musik teater Ukraina, Yuliia Mykolaychuk dan Yuliia Vitraniuk, yang sengaja didatangkan dari Ukraina. Mereka berdua adalah penyanyi tradisional yang menghadirkan pertunjukan musik etnik Ukraina dengan sentuhan kontemporer yang menyentuh. Dalam sebuah wawancara khusus, mereka mengungkapkan rasa syukur dapat berkunjung ke Jakarta selama lima hari. Mereka juga mengaku sangat terkesan dengan keramahan para penduduk ibu kota. Kedua penyanyi ini berharap perang yang masih berkecamuk di negara mereka segera berakhir. Betapa indahnya hidup dalam perdamaian.
Setelah rangkaian acara selesai, para tamu mengikuti sesi ramah tamah sebagai wadah untuk mempererat hubungan antarkomunitas seni dan budaya.
Proyek “Interconnected Existence” diprakarsai oleh Kementerian Luar Negeri Austria dan diselenggarakan melalui kerja sama Kedutaan Besar Austria di Jakarta, Institut Ukraina, Kedutaan Besar Ukraina di Indonesia, serta didukung oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, UP PKJ TIM, Dewan Kesenian Jakarta, JaKpro, Taman Ismail Marzuki, EUNIC, Cultural Diplomacy Foundation, dan Opera Aperta.
Lebih dari sekadar mural, karya ini menjadi simbol bahwa seni mampu menjembatani perbedaan budaya, memperkuat dialog internasional, serta menginspirasi masyarakat untuk bersama-sama menjaga bumi sebagai rumah bersama.

