(Business Lounge Journal – Foreign Insight)
ASEAN terus menjadi kawasan yang menarik bagi dunia usaha Inggris seiring dengan besarnya ukuran pasar, pertumbuhan ekonomi kawasan, dan semakin eratnya hubungan ekonomi kedua pihak. Bagi Inggris, Asia Tenggara tidak hanya menawarkan peluang perdagangan, tetapi juga menjadi lokasi berbagai proyek infrastruktur, keuangan, teknologi, dan ekonomi digital yang melibatkan perusahaan-perusahaan Inggris.
Dalam wawancara bersama Business Lounge Journal, Duta Besar Inggris untuk ASEAN, H.E. Helen Fazey, menjelaskan bahwa salah satu daya tarik utama ASEAN adalah ukuran ekonominya yang kini telah menjadi ekonomi terbesar kelima di dunia, didukung oleh populasi besar yang semakin terhubung secara digital.
Sebagai Duta Besar Inggris untuk ASEAN, Fazey bekerja dengan Sekretariat ASEAN serta perwakilan seluruh 11 negara anggota ASEAN di Jakarta. Timor-Leste secara resmi menjadi negara anggota ke-11 ASEAN pada Oktober 2025. Kerja sama Inggris dengan ASEAN mencakup tiga pilar utama ASEAN, yakni politik-keamanan, ekonomi, serta sosial-budaya (sumber: FCDO, UK-ASEAN Factsheet, 24 Juli 2026).
Menurut Fazey, lingkup kerja sama tersebut meliputi pembangunan ekonomi, layanan kesehatan, pendidikan, transisi hijau, perubahan iklim, serta pembahasan mengenai berbagai persoalan politik kawasan. Dalam menjalankan tugas tersebut, Misi Inggris untuk ASEAN bekerja bersama para duta besar dan kedutaan Inggris di masing-masing negara anggota.
Lima Tahun Kemitraan Dialog Inggris–ASEAN
Tahun 2026 menandai lima tahun sejak Inggris resmi menjadi Mitra Dialog ASEAN pada 5 Agustus 2021. Inggris merupakan mitra pertama yang memperoleh status tersebut dari ASEAN dalam kurun waktu 25 tahun (sumber: FCDO, UK-ASEAN Factsheet, 24 Juli 2026).
Fazey menilai Inggris dan ASEAN telah membangun fondasi yang kuat selama lima tahun pertama kemitraan tersebut. Menurutnya, hubungan yang sebelumnya relatif terbatas telah berkembang menjadi kemitraan yang dapat memberikan hasil bagi Inggris maupun negara-negara anggota ASEAN.
Untuk memperingati lima tahun hubungan tersebut, Inggris mengangkat tema Advancing Together atau “Maju Bersama”. Fazey mengatakan tema itu menggambarkan besarnya ruang bagi Inggris dan ASEAN untuk memperluas kerja sama berdasarkan kepentingan bersama dalam lima tahun mendatang.
Pada 22 Juli 2026, di sela-sela Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-59 (AMM-59) di Manila, Inggris dan ASEAN menyepakati Rencana Aksi ASEAN–Inggris untuk periode 2027–2031. Rencana tersebut melanjutkan kerja sama lima tahun pertama dengan perhatian pada berbagai prioritas politik, keamanan, ekonomi, dan persoalan global (sumber: ASEAN.org, Plan of Action to Implement the ASEAN-United Kingdom Dialogue Partnership 2027-2031; GOV.UK, ASEAN-UK Joint Ministerial Statement, Juli 2026).
Perdagangan Inggris–ASEAN
Berdasarkan data resmi terbaru Pemerintah Inggris, total perdagangan barang dan jasa antara Inggris dan ASEAN mencapai £62,1 miliar dalam setahun hingga akhir kuartal keempat 2025. Nilai tersebut terdiri atas sekitar £31,2 miliar ekspor Inggris ke ASEAN dan sekitar £30,9 miliar impor dari ASEAN berdasarkan UK–ASEAN Factsheet yang diterbitkan Foreign, Commonwealth & Development Office pada 24 Juli 2026.
Fazey mengatakan kuatnya hubungan dagang tersebut merupakan hasil kerja sama antara Misi Inggris untuk ASEAN dan seluruh kedutaan besar Inggris di negara-negara anggota ASEAN.
Menurutnya, Misi Inggris untuk ASEAN dan seluruh kedutaan bilateral Inggris di kawasan bekerja sebagai satu tim dalam mewakili kepentingan Inggris serta mengembangkan hubungan dengan ASEAN. Capaian perdagangan Inggris–ASEAN tersebut, menurut Fazey, merupakan hasil kerja bersama seluruh jaringan diplomatik Inggris di kawasan.
Ukuran Pasar Menjadi Daya Tarik ASEAN
Ketika ditanya apa yang membuat ASEAN menarik bagi pelaku usaha dan investor Inggris, Fazey menilai ukuran kawasan menjadi salah satu faktor utama.
Ia mengatakan ASEAN saat ini secara kolektif merupakan ekonomi terbesar kelima di dunia dengan PDB gabungan sekitar US$3,9 triliun dan jumlah penduduk yang mendekati 700 juta jiwa. Menurutnya, sebagian besar penduduk ASEAN masih berusia muda, semakin banyak tinggal di kawasan perkotaan, serta semakin terhubung secara digital.
Data kependudukan PBB mendukung gambaran tersebut. Populasi Asia Tenggara mencakup sekitar 8,4–8,5 persen populasi dunia, dengan usia median sekitar 31 tahun dan lebih dari 53 persen penduduknya tinggal di wilayah perkotaan. Jumlah pengguna internet di kawasan ini juga terus bertumbuh seiring urbanisasi dan meningkatnya penetrasi smartphone.
Fazey mengatakan karakteristik tersebut merupakan “peluang yang sangat besar” yang dilihat oleh perusahaan-perusahaan Inggris di kawasan.
Berbagai Perusahaan Inggris Telah Hadir di ASEAN
Fazey mengatakan peluang tersebut tercermin dari berbagai proyek yang telah dijalankan perusahaan-perusahaan Inggris di Asia Tenggara.
Di sektor infrastruktur, Foster + Partners menjadi perancang bandara internasional baru yang melayani Phnom Penh, Kamboja. Sementara itu, PwC dan Mott MacDonald mengerjakan studi kelayakan sistem transportasi massal Surabaya.
Di sektor keuangan dan pembiayaan berkelanjutan, Fazey menyebut Standard Chartered telah mengalokasikan sekitar £300 juta, termasuk melalui keterlibatannya dalam Just Energy Transition Partnership atau JETP di Indonesia dan Vietnam.
Fazey juga mencontohkan sejumlah perusahaan teknologi Inggris yang mengembangkan solusi digital di Asia Tenggara. Di antaranya adalah perusahaan yang mengembangkan kendaraan otonom untuk memindahkan bagasi di Bandara Changi, Singapura, serta perusahaan yang membantu Indonesia dan Vietnam beralih menuju proses administrasi bisnis dan kepabeanan yang lebih paperless.
Di luar contoh-contoh yang disampaikan langsung oleh Fazey dalam wawancara ini, sejumlah perusahaan Inggris lain juga telah lama beroperasi di kawasan ASEAN, termasuk AstraZeneca di sektor farmasi dan kesehatan, HSBC di sektor jasa keuangan, dan Prudential di sektor asuransi di Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya. Kehadiran tersebut turut menggambarkan keterlibatan sektor swasta Inggris secara lebih luas di kawasan.
Tiga Prioritas untuk Lima Tahun Mendatang
Memasuki lima tahun berikutnya, Fazey menyebut tiga bidang yang dinilai penting bagi perkembangan hubungan ekonomi Inggris–ASEAN.
Prioritas pertama adalah memperkuat ketahanan ekonomi kawasan. Menurutnya, Inggris dan ASEAN dapat bekerja sama untuk memperkuat rantai pasok dan membantu kawasan menghadapi berbagai gangguan ekonomi global.
Prioritas kedua adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dalam bidang ini, Inggris antara lain mendukung pemerintah negara-negara ASEAN dalam mengembangkan regulasi usaha yang dapat melindungi konsumen sekaligus memungkinkan dunia usaha untuk terus tumbuh.
Prioritas ketiga adalah mempercepat transisi hijau dengan membantu menghadirkan lebih banyak sumber energi bersih dan berkelanjutan di Asia Tenggara. Fazey secara khusus menyebut dukungan terhadap ASEAN Power Grid agar pasokan energi dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha dan masyarakat.
Pengembangan ASEAN Power Grid juga menjadi salah satu hasil praktis yang disoroti Pemerintah Inggris dalam lima tahun pertama Kemitraan Dialog ASEAN–Inggris (sumber: FCDO, UK-ASEAN Factsheet, 24 Juli 2026).
Penyelesaian Negosiasi Ekonomi Digital Dinilai Penting
Selain berbagai proyek tersebut, Fazey menyambut selesainya perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement atau DEFA.
ASEAN mengumumkan bahwa seluruh isu yang sebelumnya masih tertunda dalam negosiasi DEFA berhasil diselesaikan pada Pertemuan Kedua Pejabat Ekonomi Senior ASEAN (SEOM) ke-57 di Manila pada 27–29 Mei 2026. Penyelesaian negosiasi tersebut belum berarti bahwa perjanjiannya telah berlaku karena DEFA masih dijadwalkan untuk ditandatangani pada KTT ASEAN ke-49 di November 2026 (sumber: pernyataan resmi ASEAN SEOM, Mei 2026; Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, 31 Mei 2026).
Menurut Fazey, kerangka tersebut membuka banyak peluang untuk mempermudah kegiatan berusaha di kawasan ASEAN. Kemudahan itu penting bagi negara dan perusahaan di Asia Tenggara, tetapi juga dapat memberikan peluang yang lebih besar bagi perusahaan Inggris untuk menjalankan kegiatan usaha di kawasan.
Dengan besarnya pasar ASEAN, berbagai proyek yang telah berjalan, serta perkembangan kerja sama ekonomi digital di kawasan, hubungan ekonomi Inggris dan ASEAN terus berkembang di berbagai sektor.
Bagi Inggris, ASEAN tidak hanya menjadi pasar yang besar, tetapi juga mitra penting dalam memperkuat rantai pasok, pembangunan infrastruktur, transisi energi, transformasi digital, pertumbuhan ekonomi inklusif, dan perdagangan kawasan.

