Peloponnese

Peloponnese Pesona Yunani yang Masih Tersembunyi

(Business Lounge – Travel) Ketika orang membayangkan Yunani, yang muncul biasanya adalah rumah-rumah putih, kubah biru, laut berwarna biru terang, dan pulau-pulau yang tampak sempurna dalam kartu pos. Namun, ada sebuah wilayah yang justru menyimpan sebagian besar cerita yang membentuk imajinasi kita tentang Yunani yaitu Peloponnese. Semenanjung besar di selatan daratan Yunani ini adalah tempat Sparta, Mycenae, Olympia, dan istana yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh dalam epos Homer pernah berdiri. Anehnya, banyak wisatawan yang datang ke Yunani justru melewatinya begitu saja.

Perjalanan dimulai dari sebuah kanal

Memasuki Peloponnese terasa seperti membuka pintu menuju dunia yang berbeda. Salah satu pintu masuk paling dramatis adalah Corinth Canal, kanal sepanjang sekitar enam kilometer yang membelah tanah sempit penghubung Yunani daratan dengan semenanjung ini. Tebing kapur menjulang lebih dari 70 meter di kedua sisi, sementara kapal-kapal tampak kecil ketika melewati celah yang sempit. Gagasan untuk membuat kanal di tempat ini bahkan sudah muncul sekitar 2.500 tahun lalu, sebelum akhirnya kanal modern dibuka pada 1893.

Benteng di atas kota

Tidak jauh dari kanal berdiri Acrocorinth, salah satu benteng paling mengesankan di Yunani. Tembok pertahanannya membentang sekitar tiga kilometer dan dibangun kembali oleh berbagai kekuatan yang pernah menguasai kawasan ini, mulai dari Yunani, Romawi, Bizantium, Franka, Venesia hingga Ottoman. Di dalam satu kawasan, wisatawan dapat menemukan jejak kuil Aphrodite, cistern Bizantium, menara Franka, kapel Venesia, hingga bekas masjid Ottoman. Dari puncaknya, pemandangan terbuka ke arah Teluk Korintus dan jauh ke selatan menuju jantung Peloponnese.

Mycenae dan jejak dunia Homer

Bagi pencinta sejarah, Mycenae mungkin merupakan salah satu alasan terkuat untuk datang ke Peloponnese. Benteng ini kira-kira seribu tahun lebih tua daripada Parthenon dan dibangun menggunakan batu-batu raksasa yang kemudian membuat masyarakat Yunani pada masa berikutnya percaya bahwa pembangunnya adalah Cyclops, raksasa bermata satu dalam mitologi. Lion Gate yang berdiri di pintu masuk telah bertahan lebih dari 3.000 tahun dan menjadi salah satu simbol paling kuat dari peradaban Mycenaean.

Di kawasan yang sama terdapat Treasury of Atreus, sebuah makam berbentuk sarang lebah dengan lintel batu sekitar 120 ton. Bangunan ini dibuat tanpa mortar maupun rangka penyangga dan menjadi salah satu pencapaian konstruksi paling mengesankan dari dunia Mycenaean. Yang menarik, situs ini juga mengingatkan bahwa sejarah Yunani tidak dimulai dari Athena klasik. Jauh sebelum Homer dan jauh sebelum Parthenon, sudah ada masyarakat Yunani yang membangun kerajaan, berdagang, berperang, dan meninggalkan catatan dalam Linear B.

Sparta, kota tanpa banyak reruntuhan

Nama Sparta mungkin lebih terkenal daripada hampir semua kota kuno di Peloponnese. Namun, wisatawan yang datang dengan harapan menemukan kota militer raksasa bisa saja terkejut. Yang tersisa dari Sparta kuno relatif sedikit, sebuah teater, sejumlah fondasi, dan tempat-tempat suci. Justru ketiadaan bangunan monumental itu menjadi bagian penting dari cerita Sparta. Kota ini memilih mengandalkan manusia dan sistem militernya, bukan tembok dan monumen besar.

Sparta menjadi kuat karena sistem sosial yang sangat keras, termasuk pelatihan militer sejak usia muda dan keberadaan populasi helot yang mengerjakan tanah. Karena itu, berkunjung ke Sparta bukan sekadar melihat reruntuhan, tetapi mencoba memahami bagaimana sebuah masyarakat membangun kekuatan melalui disiplin, ketakutan, dan struktur sosial yang sangat berbeda dari Athena. Di sinilah Peloponnese terasa berbeda dari destinasi sejarah biasa: lanskapnya membuat pengunjung tidak hanya melihat masa lalu, tetapi juga mempertanyakan bagaimana masyarakat masa lalu bekerja.

Ancient Messene, kota yang terasa seperti baru ditemukan

Jika ada satu situs yang layak disebut sebagai permata tersembunyi Peloponnese, Ancient Messene adalah kandidat kuat. Kota ini dibangun setelah bangsa Messene dibebaskan dari kekuasaan Sparta pada abad ke-4 sebelum Masehi. Mereka kemudian membangun benteng sepanjang sekitar sembilan kilometer, lengkap dengan gerbang, stadion, teater, agora, dan kawasan sipil. Karena kota ini kemudian ditinggalkan dan tidak tertutup oleh kota modern, tata ruangnya masih terbaca dengan luar biasa jelas.

Yang membuat Ancient Messene terasa istimewa bukan hanya kelengkapan reruntuhannya, tetapi suasananya. Di banyak tempat wisata Yunani yang terkenal, pengunjung harus berbagi ruang dengan kerumunan wisatawan. Di Messene, Anda dapat berjalan di antara agora dan tembok kuno dengan suasana yang jauh lebih tenang. Situs ini seperti kota Yunani yang tiba-tiba muncul dari balik ladang, membawa kembali kisah masyarakat yang pernah hidup setelah tiga abad berada di bawah kekuasaan Sparta.

Olympia dan tempat lahirnya gagasan olahraga dunia

Di lembah yang tenang di antara pepohonan dan Sungai Alpheios terdapat Olympia, tempat yang setiap empat tahun sekali dahulu menjadi tujuan dunia Yunani. Olimpiade kuno secara tradisional dimulai pada 776 SM dan berlangsung selama hampir 12 abad. Namun, Olympia sebenarnya bukan kota, melainkan tempat suci untuk Zeus. Pertandingan olahraga merupakan bagian dari festival keagamaan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai negara-kota Yunani.

Ada satu gagasan dari Olympia yang terasa sangat modern: perjalanan menuju pertandingan dilindungi oleh sacred truce. Perang antarnegara-kota Yunani tidak benar-benar berhenti, tetapi wilayah Olympia dibuat sakral dan para peserta maupun wisatawan mendapat jaminan perjalanan yang aman. Di tempat ini pula pernah berdiri patung Zeus karya Phidias, salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Yang menarik, bengkel Phidias masih dapat ditemukan di dekat kompleks suci, bahkan para arkeolog menemukan peralatan dan sebuah cangkir yang membawa nama sang pematung.

Nafplio, kota paling romantis di Peloponnese

Setelah menjelajahi dunia kuno, perjalanan dapat berbelok menuju Nafplio. Kota pelabuhan ini menawarkan sisi Peloponnese yang jauh lebih romantis: jalan berbatu, bangunan bergaya Venesia, balkon besi tempa, bunga bougainvillea, dan teluk yang tenang. Tiga benteng mengawasi kota, termasuk Bourtzi yang berdiri di sebuah pulau kecil di mulut pelabuhan dan Palamidi yang menjulang di atas kota.

Palamidi adalah tempat yang sangat layak didatangi menjelang sore. Benteng Venesia ini dibangun pada awal abad ke-18 dan memiliki delapan bastion yang saling terhubung. Dari atas, pemandangan Nafplio terbuka lebar: teluk, pegunungan, dan atap-atap merah kota tua terlihat jauh di bawah. Nafplio juga memiliki tempat istimewa dalam sejarah modern Yunani karena pernah menjadi ibu kota pertama negara Yunani setelah kemerdekaan.

Monemvasia, kota yang tersembunyi di balik batu

Jika Nafplio adalah kota yang romantis, Monemvasia adalah kota yang terasa seperti adegan film. Sebuah batu raksasa setinggi sekitar 300 meter muncul dari Laut Myrtoan, terhubung ke daratan hanya melalui sebuah jalan sempit. Bahkan namanya berasal dari dua kata Yunani yang berarti “satu jalan masuk”. Namun, kejutan sebenarnya baru muncul setelah melewati gerbang: kota tua berada di sisi batu yang menghadap laut dan sama sekali tidak terlihat dari daratan.

Di balik gerbang terdapat gang-gang batu, rumah-rumah tua, gereja, dan bangunan yang menempel pada lereng batu. Monemvasia bukan sekadar benteng yang bertahan dari serangan; kota ini pernah menjadi pelabuhan perdagangan penting Bizantium dan bahkan menghasilkan nama anggur Malvasia atau Malmsey yang terkenal di Eropa abad pertengahan. Hari ini, berjalan menyusuri gang-gang sempit Monemvasia terasa seperti memasuki kota yang sengaja disembunyikan dari dunia selama berabad-abad.

Mani dan desa-desa menara

Di bagian selatan Peloponnese, lanskap berubah drastis. Mani adalah wilayah berbatu dengan tanah yang keras, pohon zaitun, dan desa-desa yang dipenuhi menara batu. Menara-menara tersebut bukan kastil, melainkan rumah keluarga yang dibangun untuk menghadapi konflik antarklan. Dari kejauhan, desa Mani terlihat seperti kumpulan bidak catur yang diletakkan di atas pegunungan.

Vathia menjadi salah satu pemandangan paling dramatis di kawasan ini. Desa yang sebagian besar telah ditinggalkan itu dipenuhi menara-menara batu yang kini banyak kehilangan atapnya. Sementara Areopoli, Limeni, dan Kardamyli menawarkan suasana yang berbeda: jalan-jalan batu, rumah menara, pelabuhan kecil, laut berwarna biru jernih, serta pegunungan Taygetos sebagai latar belakang. Mani bukan sekadar tempat untuk berfoto; ia adalah lanskap yang menyimpan cerita panjang tentang keluarga, konflik, kemerdekaan, dan kehidupan masyarakat pegunungan.

Peloponnese yang berwarna turquoise

Namun, Peloponnese tidak hanya menawarkan sejarah. Semenanjung ini juga menyimpan beberapa lanskap alam yang sangat indah. Di Polylimnio, sekitar 30 kilometer dari Kalamata menuju Pylos, jalur berjalan kaki membawa wisatawan melewati lembah hijau, jembatan kayu, kolam alami, dan air terjun. Sekitar 15 kolam membentuk rangkaian air berwarna turquoise hingga emerald, dengan air yang cukup jernih untuk melihat bebatuan di dasarnya.

Di pesisir, Voidokilia menawarkan pemandangan yang sama sekali berbeda. Pantainya membentuk hampir setengah lingkaran sempurna, dengan pasir pucat, bukit pasir, dan Gialova Lagoon di belakangnya. Tidak ada bar pantai atau pembangunan besar di sepanjang pantai tersebut, sehingga pemandangannya terasa sangat alami. Sementara Mavrovouni memiliki sekitar enam kilometer pantai terbuka dan menjadi tempat bersarang penyu Caretta caretta.

Ketika Yunani terlihat seperti Karibia

Bagi wisatawan yang mencari laut tropis, Elafonisos mungkin menjadi kejutan terbesar. Pulau kecil di lepas pantai Laconia ini dapat dicapai dengan penyeberangan feri sekitar sepuluh menit dari daratan. Di bagian selatannya terdapat Simos, dua teluk dengan pasir putih yang dipisahkan oleh jalur pasir sempit, dikelilingi bukit pasir dan juniper. Airnya dangkal, jernih, dan berwarna turquoise, sampai-sampai foto-fotonya sering disangka berasal dari Karibia.

Waktu kunjungan juga dapat mengubah pengalaman secara drastis. Juli dan Agustus merupakan periode yang ramai, sedangkan Juni atau akhir September menawarkan suasana yang jauh lebih tenang. Bagi wisatawan yang ingin menikmati Peloponnese tanpa terlalu banyak kerumunan, musim bahu seperti ini bisa menjadi pilihan menarik.

Arcadia, negeri yang diciptakan oleh imajinasi

Di tengah pegunungan Peloponnese terdapat Arcadia, sebuah nama yang selama berabad-abad digunakan oleh para penyair dan seniman Eropa sebagai gambaran tentang surga pedesaan: padang rumput, mata air, gembala, dan kehidupan yang jauh dari hiruk-pikuk dunia. Ironisnya, Arcadia yang sebenarnya jauh lebih liar. Wilayah ini merupakan jantung pegunungan Peloponnese, dengan hutan, lembah, desa-desa batu, dan medan yang tidak mudah dilalui.

Desa seperti Dimitsana dan Stemnitsa memberikan gambaran tentang Arcadia yang sebenarnya. Di antara keduanya mengalir Sungai Lousios melalui ngarai dengan dinding batu kapur yang tinggi. Biara-biara dibangun langsung di tebing, sementara jalur pejalan kaki mengikuti dasar lembah melewati bangunan keagamaan, reruntuhan kuno, dan bekas penggilingan air. Tempat ini terasa jauh dari Yunani yang biasa terlihat dalam brosur wisata.

Styx, sungai menuju dunia bawah

Di pegunungan utara terdapat salah satu tempat paling misterius di Peloponnese: air terjun Styx. Air yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Mavroneri jatuh lebih dari 200 meter dari lereng Mount Chelmos. Bagi orang Yunani kuno, inilah Styx, sungai yang menjadi batas dunia bawah sekaligus sungai yang digunakan para dewa untuk mengucapkan sumpah.

Untuk mencapainya, wisatawan harus berjalan menuruni lereng selama sekitar 90 menit, kemudian menaiki jalur yang sama untuk kembali. Tidak ada pusat pengunjung besar atau fasilitas wisata modern di tempat itu. Yang ada hanya tebing gelap, lembah sempit, air yang jatuh dari ketinggian, dan suasana sunyi yang membuat kisah tentang Styx terasa jauh lebih nyata daripada sekadar cerita mitologi.

Mystras, kota terakhir Byzantium

Di lereng pegunungan di atas Sparta berdiri Mystras, kota Bizantium yang dibangun secara vertikal. Gereja, biara, rumah bangsawan, istana, dan benteng bertumpuk mengikuti kemiringan bukit. Pada abad ke-14, Mystras menjadi ibu kota Despotate of the Morea dan berkembang sebagai pusat intelektual penting ketika Kekaisaran Bizantium mulai melemah.

Mystras juga memiliki hubungan langsung dengan akhir Kekaisaran Bizantium. Constantine XI Palaiologos dinobatkan di sini pada 1449 sebelum berangkat ke Konstantinopel sebagai kaisar terakhir. Setelah Konstantinopel jatuh pada 1453, Mystras masih bertahan beberapa tahun sebelum akhirnya menyerah kepada Ottoman pada 1460. Kini, berjalan dari bagian bawah kota menuju istana dan benteng di puncak bukit memberikan pengalaman seolah-olah menelusuri lapisan terakhir sebuah kekaisaran.

Cape Tainaron, tempat orang Yunani membayangkan dunia bawah

Di ujung selatan Mani terdapat Cape Tainaron, atau Cape Matapan, titik paling selatan daratan Yunani sekaligus seluruh Semenanjung Balkan. Di sini terdapat mercusuar, sisa sanctuary Poseidon, lantai mosaik Romawi, dan sebuah gua yang oleh masyarakat Yunani kuno dipercaya sebagai salah satu pintu menuju dunia bawah. Dalam mitologi, Heracles dikisahkan turun ke dunia bawah melalui tempat ini untuk mengambil Cerberus, sementara Orpheus datang untuk mencari Eurydice.

Yang menarik justru bukan ukuran guanya. Gua itu sendiri relatif kecil dan mungkin mengecewakan bagi wisatawan yang mengharapkan sesuatu yang spektakuler. Tetapi lanskap di sekitarnya sangat kuat: batuan tandus, angin, dan laut yang mengelilingi ujung daratan dari tiga arah. Berdiri di sana, dengan daratan berada di belakang dan laut terbentang di depan, mudah memahami mengapa masyarakat kuno menganggap tempat ini sebagai batas antara dunia manusia dan dunia lain.

Peloponnese dan lahirnya Yunani modern

Perjalanan di Peloponnese akhirnya membawa kita kembali ke sejarah yang jauh lebih dekat. Selama hampir empat abad wilayah ini berada di bawah kekuasaan Ottoman dan dikenal sebagai Morea. Namun, tradisi perlawanan tetap hidup terutama di wilayah Mani. Pada Maret 1821, para pemimpin Mani berkumpul di Areopoli dan menyatakan perang. Beberapa hari kemudian Kalamata menjadi salah satu kota penting pertama yang berhasil dibebaskan.

Pertempuran Navarino pada 1827 kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perjuangan kemerdekaan Yunani. Di teluk yang sama dengan lanskap Voidokilia dan situs Palace of Nestor, armada Inggris, Prancis, dan Rusia menghancurkan armada Ottoman dan Mesir. Setelah negara Yunani terbentuk, Nafplio menjadi ibu kota pertamanya. Dengan demikian, dalam satu semenanjung yang sama, wisatawan dapat mengikuti perjalanan dari dunia Mycenaean, Sparta dan Olympia hingga kelahiran negara Yunani modern.

Mengapa Peloponnese layak masuk daftar perjalanan berikutnya?

Peloponnese bukan destinasi yang menawarkan satu jenis pengalaman. Ia adalah perjalanan yang bisa dimulai dari kanal buatan manusia, berlanjut ke benteng kuno, makam raksasa, kota Sparta, kota Messene yang tersembunyi, stadion Olympia, kota romantis Nafplio, desa menara Mani, pantai turquoise Elafonisos, pegunungan Arcadia, air terjun Styx, hingga kota Bizantium Mystras. Bahkan di satu teluk, pengunjung dapat melihat jejak Zaman Perunggu, gua mitologis, benteng abad pertengahan, laguna, pantai, dan lokasi pertempuran yang membantu mengamankan kemerdekaan Yunani.

Itulah daya tarik terbesar Peloponnese. Tempat ini tidak hanya memperlihatkan bagaimana Yunani terlihat, tetapi juga bagaimana Yunani terbentuk. Sejarahnya sangat tua, alamnya masih luas, kota-kota kecilnya memiliki karakter kuat, dan banyak sudutnya belum dipenuhi kerumunan wisatawan. Jika Santorini adalah Yunani yang paling mudah dikenali dari sebuah foto, maka Peloponnese adalah Yunani yang perlu dijelajahi untuk benar-benar dipahami.