Sri Lanka Colombo

Sri Lanka Menata Strategi Pariwisata Baru, dari Leisure hingga MICE

(Business Lounge – Travel) Sri Lanka memasuki periode 2026–2027 dengan strategi pariwisata yang tidak lagi semata-mata berorientasi pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga pada bagaimana pertumbuhan tersebut dapat berlangsung secara lebih seimbang dan memberikan pengalaman yang berkualitas. Gambaran ini disampaikan Prasadi, First Secretary Commercial Kedutaan Besar Sri Lanka di Paris yang juga terakreditasi untuk Spanyol dan Portugal, dalam sebuah wawancara di Fitur 2026. Menurutnya, Sri Lanka merupakan pasar yang sedang berkembang dan masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari berbagai negara, namun pertumbuhan itu harus berjalan beriringan dengan perlindungan destinasi dan pengelolaan kapasitas wisatawan.

Pertumbuhan pariwisata dengan pendekatan yang lebih berimbang

Strategi Sri Lanka untuk musim 2026–2027 dibangun di atas dua kepentingan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, negara tersebut membutuhkan lebih banyak wisatawan untuk memperkuat sektor pariwisatanya. Di sisi lain, peningkatan kunjungan tidak boleh mengorbankan daya dukung destinasi maupun kualitas pengalaman wisatawan. Karena itu, rencana baru tersebut mencakup perubahan kelembagaan sekaligus sejumlah penyesuaian dalam pengelolaan dan perlindungan berbagai situs wisata.

Pendekatan ini menunjukkan perubahan cara pandang yang cukup penting. Keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari berapa banyak orang yang datang, tetapi juga dari kualitas pengalaman yang mereka peroleh selama berada di Sri Lanka. Perlindungan situs, pengelolaan kapasitas, serta pengalaman wisatawan menjadi bagian dari strategi pertumbuhan yang ingin dikembangkan untuk beberapa tahun ke depan.

Data dari pasar Eropa memperlihatkan bahwa peluang tersebut memang masih terbuka lebar. Sekitar 46.000 wisatawan asal Spanyol tercatat mengunjungi Sri Lanka pada 2025, dan pasar ini dinilai masih memiliki potensi pertumbuhan pada tahun-tahun mendatang. Spanyol menjadi salah satu bagian dari pasar Eropa yang mendapatkan perhatian Sri Lanka, bersamaan dengan Jerman, Prancis dan Belanda.
India tetap menjadi pasar utama

Dalam menentukan pasar sumber, Sri Lanka tetap menempatkan India sebagai pasar terpenting. Kedekatan geografis menjadikan India sebagai salah satu sumber wisatawan terbesar bagi Sri Lanka. Setelah India, China dan Rusia juga disebut sebagai pasar utama yang menjadi perhatian.

Untuk Eropa, strategi Sri Lanka diarahkan antara lain kepada Jerman, Prancis, Belanda dan Spanyol. Namun pendekatannya tidak bersifat eksklusif terhadap sejumlah negara tertentu. Sri Lanka tetap melihat pasar Asia, Eropa dan Amerika sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang lebih luas. Promosi akan terus dilakukan di berbagai negara dengan strategi dan pendekatan baru untuk menghasilkan pengalaman wisata yang lebih baik.

Strategi tersebut juga memperlihatkan bahwa Sri Lanka tidak ingin bergantung pada satu kawasan pasar. Sebagai negara kepulauan dengan keragaman budaya dan daya tarik yang relatif luas dalam wilayah geografis yang tidak terlalu besar, Sri Lanka berusaha menjaga basis pasar yang beragam sekaligus memperluas sumber wisatawan internasional.

Memperluas manfaat pariwisata ke seluruh negeri

Salah satu arah penting dalam strategi baru tersebut adalah pengembangan destinasi di luar kawasan yang selama ini sudah lebih matang. Pantai selatan dan pantai timur telah menjadi kawasan yang berkembang untuk wisata pesisir, sementara wilayah sekitar Colombo dan Negombo juga memiliki posisi penting karena menjadi bagian dari kawasan barat dan pusat aktivitas nasional.

Kini perhatian juga diarahkan kepada wilayah utara Sri Lanka. Kawasan tersebut dinilai memiliki berbagai daya tarik yang masih dapat dikembangkan untuk menarik wisatawan. Tujuannya bukan sekadar menciptakan destinasi baru, tetapi juga memperluas distribusi manfaat ekonomi pariwisata.

Pendekatan tersebut digambarkan sebagai strategi yang holistik. Sri Lanka ingin agar manfaat pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada kawasan atau kota tertentu, melainkan dapat dirasakan oleh berbagai komunitas di seluruh negeri. Keragaman tradisi, budaya dan keramahan masyarakat menjadi bagian dari modal yang dapat digunakan untuk membangun pengalaman wisata di berbagai wilayah.

Dengan demikian, pengembangan wilayah utara bukan hanya persoalan membuka destinasi baru. Ia merupakan bagian dari upaya menciptakan persebaran aktivitas pariwisata yang lebih merata, sehingga pertumbuhan sektor tersebut dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Dari pantai dan budaya menuju wellness, kuliner dan agrowisata

Strategi pariwisata Sri Lanka juga menunjukkan upaya untuk memperluas produk yang ditawarkan kepada wisatawan. Selain wisata pantai dan situs sejarah, negara tersebut melihat wellness tourism, wisata alam, pertanian, kuliner dan budaya sebagai bidang yang memiliki potensi besar.

Sebagai negara dengan basis pertanian yang kuat, lanskap persawahan dan aktivitas pertanian dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata. Demikian pula dengan kuliner dan tradisi memasak yang menjadi salah satu elemen yang dapat memperkaya pengalaman wisatawan.

Pendekatan ini penting karena memungkinkan Sri Lanka menawarkan pengalaman yang lebih beragam dalam satu perjalanan. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pantai, tetapi dapat menggabungkan alam, makanan, budaya, sejarah, pertanian dan wellness dalam satu perjalanan.

Keunggulan geografis Sri Lanka juga mendukung strategi tersebut. Karena ukuran negaranya relatif kecil, perjalanan wisata dapat menghubungkan beberapa jenis destinasi dalam waktu yang relatif singkat. Konsep inilah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan Sri Lanka dalam mengembangkan sektor MICE.

Colombo sebagai pusat pengembangan MICE

Di luar leisure tourism, Sri Lanka sedang membangun posisi yang lebih kuat sebagai destinasi meeting, incentive, conference and exhibition atau MICE. Pengembangan ini terutama dipusatkan di Colombo melalui peran Sri Lanka Convention Bureau yang secara khusus bertanggung jawab dalam mempromosikan pariwisata MICE.

Salah satu fasilitas utama yang dipromosikan adalah BMICH, pusat konvensi yang berada di Colombo dan memiliki konektivitas transportasi yang baik. Selain itu, terdapat berbagai hotel kelas atas yang memiliki fasilitas konvensi untuk menyelenggarakan meeting, conference maupun exhibition. Sejumlah hotel baru juga sedang dikembangkan sehingga kapasitas MICE Sri Lanka diperkirakan akan semakin bertambah.

Colombo dengan demikian diposisikan sebagai hub utama MICE Sri Lanka. Pengembangan tersebut tidak hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi juga diperkuat melalui kegiatan promosi internasional. Sri Lanka sebelumnya telah menyelenggarakan konferensi MICE pada 2025 yang dihadiri oleh para pelaku MICE dari berbagai negara dan dipandang sebagai salah satu milestone dalam pengembangan sektor tersebut.

Business trip yang dapat menjadi pengalaman wisata

Salah satu keunggulan yang ingin ditonjolkan Sri Lanka kepada pasar MICE adalah kemampuan menggabungkan agenda bisnis dengan perjalanan wisata. Karena ukuran geografisnya relatif kecil, peserta konferensi atau perjalanan bisnis di Colombo masih memiliki kesempatan untuk mengunjungi destinasi lain dalam waktu yang singkat.

Peserta dapat, misalnya, melakukan perjalanan ke Kandy, Negombo atau Galle di kawasan pantai selatan sebagai bagian dari perjalanan tambahan setelah agenda bisnis. Konsep ini memungkinkan perjalanan MICE tidak berhenti pada ruang konferensi, tetapi berkembang menjadi pengalaman destinasi yang lebih lengkap.

Bagi Sri Lanka, pendekatan tersebut menjadi cara untuk membedakan dirinya dari destinasi MICE lain. Infrastruktur konferensi memang penting, tetapi kemampuan menawarkan kombinasi antara bisnis, budaya, alam, kuliner dan leisure dapat menjadi nilai tambah dalam menarik perusahaan maupun penyelenggara acara internasional.

Dari pasar wisata ke pasar MICE

Pengembangan MICE juga memperlihatkan bahwa Sri Lanka sedang berusaha memperluas definisi pasar pariwisatanya. Wisatawan leisure tetap menjadi basis utama, dengan India, China, Rusia dan sejumlah negara Eropa sebagai pasar penting. Namun di saat yang sama, Sri Lanka ingin menarik kelompok wisatawan dengan kebutuhan yang berbeda, termasuk meeting planners, incentive groups, conference organizers dan pelaku industri MICE.

Untuk mendukungnya, Sri Lanka Convention Bureau tidak hanya melakukan promosi, tetapi juga mengundang agen-agen MICE dari berbagai negara melalui familiarization tours. Mereka diperkenalkan secara langsung kepada fasilitas, infrastruktur dan berbagai kemungkinan penyelenggaraan kegiatan MICE di Sri Lanka.

Strategi ini memberikan pesan yang cukup jelas: Sri Lanka ingin menjual bukan hanya sebuah destinasi, tetapi sebuah ekosistem perjalanan. Seorang delegasi dapat datang untuk konferensi di Colombo, kemudian memperpanjang pengalaman dengan mengunjungi Kandy, Negombo atau Galle, menikmati kuliner lokal, mengenal budaya, atau menikmati alam dan wellness.

Arah baru pariwisata Sri Lanka untuk 2026–2027 bertumpu pada keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas. Negara ini ingin mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi sekaligus menjaga daya dukung destinasi, melindungi situs, memperluas manfaat ekonomi ke berbagai komunitas dan meningkatkan kualitas pengalaman. Pada saat yang sama, pengembangan MICE memberikan dimensi baru dengan menjadikan Colombo sebagai pusat kegiatan bisnis yang dapat terhubung langsung dengan berbagai pengalaman wisata di seluruh negeri. Dengan kombinasi pasar yang beragam, produk wisata yang semakin luas, pengembangan wilayah baru dan penguatan infrastruktur MICE, Sri Lanka sedang membangun positioning sebagai destinasi yang tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga semakin relevan untuk kegiatan bisnis dan acara internasional.