(Business Lounge Journal – News)
Penguatan sistem kesiapsiagaan menjadi salah satu kunci utama dalam menghadapi ancaman penyakit menular yang berpotensi berkembang menjadi krisis kesehatan. Dengan semangat tersebut, U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) bersama Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menyelenggarakan tabletop exercise (TTX) selama tiga hari untuk menguji kesiapan prosedur penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat dalam menghadapi wabah demam berdarah dengue (DBD).
Kegiatan yang berlangsung pada 7–9 Juli di Wisma Makara Universitas Indonesia, Depok, ini diikuti sekitar 60 pejabat dan tenaga kesehatan dari tingkat nasional maupun daerah. Peserta berasal dari berbagai institusi, mulai dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Sulawesi Barat, puskesmas, rumah sakit, laboratorium kesehatan masyarakat, Kantor Kesehatan Pelabuhan, hingga ASEAN BioDiaspora Virtual Center (ABVC).
Simulasi tersebut difokuskan pada implementasi Public Health Emergency Operations Center (PHEOC), yakni pusat operasi yang berfungsi mengoordinasikan respons pemerintah ketika terjadi kedaruratan kesehatan masyarakat.
Menguji Kesiapan Sebelum Krisis Terjadi
Alih-alih menunggu situasi darurat benar-benar terjadi, latihan ini dirancang untuk menguji efektivitas prosedur operasional melalui simulasi penanganan wabah penyakit endemik. Pendekatan tersebut memungkinkan para peserta mengevaluasi kesiapan sistem sekaligus mengidentifikasi area yang masih memerlukan penyempurnaan. Selama simulasi, peserta menjalani seluruh tahapan respons kedaruratan, mulai dari deteksi dini, verifikasi kejadian, analisis situasi, penilaian risiko awal dan lanjutan, hingga koordinasi lintas sektor, pengelolaan sumber daya, dan manajemen respons.
Hasil dari latihan ini diharapkan menjadi dasar penyempurnaan prosedur operasional PHEOC sekaligus memperkuat koordinasi antarinstansi dalam menghadapi potensi kedaruratan kesehatan di masa mendatang.
Deputy Director CDC Indonesia, Ken Chen, menekankan bahwa kesiapsiagaan merupakan langkah paling efektif untuk mencegah wabah penyakit berkembang menjadi pandemi global. Menurutnya, keberhasilan penanganan kedaruratan kesehatan sangat bergantung pada pemahaman yang kuat terhadap fungsi-fungsi utama dalam sistem respons.
“Memperkuat pemahaman mengenai fungsi-fungsi utama, terutama koordinasi, komunikasi, pengambilan keputusan, dan deteksi dini, sangat penting untuk memastikan kesiapan menghadapi keadaan darurat kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan pelajaran penting dari berbagai krisis kesehatan global dalam beberapa tahun terakhir, ketika kecepatan berbagi informasi dan koordinasi antarinstansi menjadi faktor yang menentukan efektivitas penanganan wabah.
Simulasi Bukan Sekadar Latihan
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr. Sumarjaya, menegaskan bahwa prosedur penanganan kedaruratan tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif. Menurutnya, setiap prosedur harus diuji secara berkala melalui latihan dan simulasi agar benar-benar dapat diterapkan ketika situasi darurat terjadi.
“Melalui tabletop exercise ini, kami ingin memastikan bahwa setiap tahapan prosedur dapat dijalankan secara efektif saat menghadapi situasi kedaruratan yang sebenarnya. Simulasi menjadi sarana penting untuk mengidentifikasi kekuatan sistem, tantangan yang masih ada, serta peluang peningkatan kapasitas ke depan,” katanya.
Pendekatan tersebut dinilai penting mengingat penanganan wabah melibatkan banyak pemangku kepentingan yang harus mampu bekerja secara terpadu dalam waktu yang singkat. Kolaborasi antara Kementerian Kesehatan RI dan U.S. CDC merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas Indonesia dalam menghadapi ancaman penyakit menular.
Selain mendukung pengembangan prosedur operasional, para ahli CDC juga memberikan pendampingan kepada negara mitra melalui pelatihan tim respons cepat, penguatan pusat operasi kedaruratan kesehatan, serta dukungan teknis agar respons terhadap krisis kesehatan dapat dilakukan secara cepat dan efektif.
Di berbagai negara, CDC bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga kesehatan untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit yang terus berkembang. Melalui kerja sama tersebut, diharapkan setiap negara memiliki kapasitas yang lebih baik dalam mendeteksi, merespons, dan mengendalikan wabah sebelum berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas.
Bagi Indonesia, latihan seperti tabletop exercise menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh. Dengan kesiapan prosedur yang terus diuji, koordinasi lintas sektor yang semakin kuat, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia, respons terhadap ancaman penyakit diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat, terkoordinasi, dan efektif.

