Alat Pendeteksi Gempa Lewat Smartphone Sedang Dikembangkan

(Business Lounge – Tech & Gadget) Selain Jepang, Indonesia termasuk salah satu negara dengan frekuensi gempa bumi yang cukup tinggi. Bencana gempa bumi datang secara mendadak, dan biasanya tidak ada tanda yang disadari. Seandainya ada alat yang dapat mendeteksi datangnya bencana ini sehingga dapat memberikan peringatan dini, maka hal ini akan sangat berguna untuk mencegah dan mengurangi jatuhnya korban jiwa. Berdasarkan ide ini, sejumlah ilmuwan di Amerika Serikat melakukan penelitian untuk memanfaatkan smartphone sebagai alat pendeteksi gempa. Alasan pemilihan smartphone cukup beralasan, mengingat tingginya penggunaan smartphone di seluruh dunia dan juga bahwa fitur-fitur yang dibutuhkan seperti GPS sudah tertanam pada perangkat smartphone.

Dalam penelitian ini, didapatkan bahwa teknologi GPS (global positioning system) yang biasanya digunakan untuk menentukan lokasi, ternyata dapat juga digunakan sebagai pendeteksi gempa, hal ini dipublikasikan dalam jurnal Science Advances baru-baru ini. Fungsi GPS bisa direkayasa untuk bisa mendeteksi penanda awal gempa bumi, yang selama ini mengandalkan teknologi gelombang Seismic.  Kemudian dengan bantuan sensor accelerometer (dipakai untuk menyesuaikan posisi horizontal atau vertikal layar), smartphone bisa dipakai mendeteksi pusat gempa bumi. Lalu, koneksi internet bisa menyatukan data gempa bumi yang ditangkap oleh banyak smartphone. Kemudian data-data tersebut dapat disebarkan sebagai peringatan dini adanya gempa melalui smartphone. Ketiga teknologi sensor tersebut, GPS, Accelerometer, dan konektivitas data sudah tertanam dalam smartphone. Selain itu Perangkat smartphone nantinya juga bisa menentukan lokasi dan besarnya kekuatan gempa berdasarkan jumlah gerakan permukaan.

Penggunaan smartphone sebagai alat deteksi gempa ini bisa menjadi solusi bagi negara-negara berkembang yang tidak mampu melakukan sistem Seismograf. Akan tetapi pemanfaatan teknologi ini masih menghadapi beberapa kendala. Kendala pertama adalah bahwa kebanyakan data GPS yang ada di smartphone adalah data yang sudah dimodifikasi, sehingga hanya akan memperlihatkan posisi gadget penggunanya saja. Hal ini berakibat tingkat akurasinya menjadi lemah dibandingkan dengan alat deteksi menggunakan Seismograf. Peneliti membutuhkan akses ke data mentah GPS, untuk itu perlu kerjasama dari para vendor smartphone untuk memberikan akses tersebut. Kendala yang kedua adalah bahwa untuk dapat mendeteksi gempa, sebuah smartphone harus diletakkan pada permukaan yang datar dan tidak terkena goncangan sebelumnya. Kedua kendala di atas, dapat ditutupi karena jumlah pengguna smartphone yang sangat banyak, sehingga potensi data yang dihasilkan semakin banyak. Selanjutnya para ilmuwan juga berusaha untuk bisa menghilangkan kedua kendala tersebut dengan membuat sebuah aplikasi pemantau gempa yang bisa membantu smartphone lebih sensitif terhadap gempa bumi. Altenatif lain adalah untuk membuat smartphone dengan teknologi GPS baru yang bisa lebih diandalkan untuk mendeteksi gempa.  Selain itu kendala lainnya adalah masalah jaringan telekolmunikasi, di mana masih ada berbagai wilayah dunia yang belum memiliki jaringan telekomunikasi.

Rebecca Hayati/VMN/BL/Managing Partner E-Commerce
Editor: Ruth Berliana