Jerman Dorong Penguatan Kemitraan Energi Berkelanjutan dengan Indonesia

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Menteri Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali Radovan, menegaskan komitmen Jerman untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia dalam mempercepat transisi energi dan pengembangan energi terbarukan. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Indonesia Sustainable Energy Week, yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, akademisi, serta mitra internasional.

Dalam pidatonya, Reem menilai energi berkelanjutan menjadi kunci untuk menjembatani tiga kepentingan sekaligus, yakni pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan perlindungan iklim. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar karena kekayaan sumber daya energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, angin, panas bumi, hingga biomassa.

Indonesia memiliki kekayaan luar biasa dalam sumber daya terbarukan,” ujarnya. Potensi tersebut, lanjutnya, dapat menjadi fondasi bagi pengembangan energi yang ramah iklim, aman, dan terjangkau bagi masyarakat.

Kemitraan Indonesia-Jerman untuk Mempercepat Transisi Energi

Reem menekankan bahwa Indonesia Sustainable Energy Week menjadi ruang penting untuk membangun kemitraan dan mendorong investasi di sektor energi berkelanjutan. Ia menyampaikan apresiasi kepada Bappenas dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang turut menjadi tuan rumah, serta GIZ yang mengorganisasi konferensi tersebut.

Fokus utama kegiatan tahun ini adalah mempercepat transisi energi sekaligus memperdalam kerja sama dengan sektor swasta. Hal tersebut juga menjadi salah satu agenda utama kunjungan Reem ke Indonesia bersama delegasi perusahaan-perusahaan Jerman, khususnya yang bergerak di sektor energi.

Menurutnya, Jerman melihat transisi energi Indonesia sebagai peluang untuk membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan. Hubungan kedua negara sendiri telah berlangsung hampir 70 tahun, sementara kerja sama pembangunan telah dimulai sejak 1950-an dan kolaborasi di sektor energi telah berjalan selama lebih dari tiga dekade.

Reem juga menyoroti bahwa ketahanan dan keterjangkauan energi merupakan kepentingan bersama Indonesia dan Jerman. Ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil, menurutnya, membuat sistem energi rentan terhadap berbagai gangguan geopolitik dan perdagangan global.

Karena itu, ia menyambut langkah Indonesia untuk memperkuat pengembangan energi terbarukan, termasuk melalui inisiatif tenaga surya berkapasitas besar yang didorong pemerintah Indonesia. Menurut Reem, langkah tersebut menunjukkan komitmen terhadap aksi iklim sekaligus upaya meningkatkan kedaulatan energi.

Jerman, lanjutnya, siap mendukung Indonesia melalui teknologi, investasi, dan penguatan kerja sama ekonomi. Perusahaan-perusahaan Jerman dinilai memiliki pengalaman dalam berbagai bidang, mulai dari pembangunan infrastruktur energi berskala besar, solusi energi terdesentralisasi, perluasan jaringan listrik, penyimpanan energi, hingga integrasi sistem.

Pemerintah Jerman juga menyediakan layanan konsultasi bagi perusahaan Jerman yang ingin memasuki pasar Indonesia, mempertemukan pelaku usaha dengan mitra bisnis dan lembaga pembiayaan, serta membantu mengurangi risiko investasi. Di sisi lain, Jerman turut mendukung Indonesia dalam menciptakan lingkungan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta, termasuk melalui proses pengadaan yang transparan dan adil.

JET-P dan Peluang Investasi Energi Bersih

Salah satu instrumen penting dalam kerja sama tersebut adalah Just Energy Transition Partnership (JET-P). Jerman bersama Jepang mengambil peran sebagai co-lead dalam kemitraan ini untuk mendukung percepatan transisi energi Indonesia.

Melalui JET-P, sekitar US$20 miliar dimobilisasi untuk mendukung transisi energi Indonesia. Sekitar setengahnya berasal dari sumber pendanaan publik, sementara sisanya diharapkan berasal dari sektor swasta. Sebagian pendanaan publik JET-P telah disetujui untuk mendukung proyek infrastruktur utama dan berbagai reformasi sektor energi.

Jerman, misalnya, mendukung pembangunan jaringan transmisi listrik serta pembangkit listrik tenaga air dengan sistem pumped storage.

Menurut Reem, berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang besar. Pengembangan energi terbarukan dapat menciptakan pertumbuhan berkelanjutan, lapangan kerja berkualitas, serta meningkatkan nilai tambah lokal di Indonesia.

Pada saat yang sama, transisi energi Indonesia menawarkan peluang bagi perusahaan Jerman dan Eropa untuk berinvestasi sekaligus membangun hubungan bisnis jangka panjang.

Reem juga menilai kesepakatan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa yang disepakati pada September tahun lalu dapat memberikan dorongan tambahan bagi investasi perusahaan Jerman dan Eropa di Indonesia. Perjanjian tersebut diharapkan membuka lebih banyak ruang bagi kerja sama ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.

Transisi energi Indonesia adalah peluang besar bagi pertumbuhan berkelanjutan, lapangan kerja, penciptaan nilai lokal, serta investasi perusahaan Jerman dan Eropa,” kata Reem.

Ia menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa meskipun tantangan transisi energi masih besar, Indonesia dan Jerman memiliki modal yang kuat untuk menghadapinya: kekayaan sumber daya energi terbarukan, ambisi kebijakan, teknologi, serta komitmen jangka panjang.

Marilah kita membuka potensi besar kerja sama ini bersama-sama sebagai mitra yang setara,” ujarnya.