(Business Lounge Journal – Art)
Pernahkah kita berpikir bahwa banyak nama yang kita gunakan sehari-hari sesungguhnya merupakan warisan kolonial? Salah satu contohnya adalah Rafflesia arnoldii, bunga yang kini lebih dikenal dengan nama tersebut dibandingkan nama lokalnya, Padma Raksasa. Bagi seniman Indonesia Octora, persoalan penamaan bukan sekadar soal bahasa, melainkan juga tentang siapa yang memiliki kuasa untuk mendefinisikan manusia, alam, dan sejarah. Gagasan itulah yang menjadi dasar pameran tunggal Menamai | Naming, yang berlangsung di Gajah Gallery Jakarta mulai 25 Juli hingga 23 Agustus 2026.
Melalui karya berbasis tenun, fotografi, patung, dan instalasi, Octora mengajak pengunjung mempertanyakan kembali sistem pengetahuan yang diwariskan kolonialisme dan bagaimana warisan tersebut masih memengaruhi cara masyarakat memandang identitas Indonesia hingga hari ini.
Ketertarikan Octora terhadap tema ini berawal dari pengalaman pribadi. Ia pernah menemukan secarik kertas yang disembunyikan ibunya berisi peringatan mengenai kekerasan seksual terhadap perempuan keturunan Tionghoa saat Tragedi Mei 1998, disertai foto-foto yang mendokumentasikan kekerasan tersebut. Pengalaman itu membuatnya mempertanyakan hubungan antara gambar, ingatan, dan cara seseorang memahami sebuah peristiwa. Dari sana, ia menyadari bahwa melihat tidak pernah benar-benar netral; setiap citra lahir dari sudut pandang tertentu dan dipahami melalui pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki penikmatnya.
Kesadaran tersebut kemudian membawanya menelusuri arsip fotografi kolonial. Menurut Octora, pemerintah kolonial menggunakan sensus, klasifikasi, peta, dan penamaan sebagai cara memahami sekaligus mengendalikan masyarakat jajahan yang beragam. Fotografi etnografi menjadi bagian dari sistem tersebut dengan menjadikan manusia sebagai objek pengamatan, bukan subjek yang memiliki suara.



Menenun Arsip, Menghadirkan Perspektif Baru
Alih-alih mereproduksi arsip fotografi secara langsung, Octora memilih menerjemahkannya menjadi karya tapestry. Baginya, proses menenun yang lambat dan penuh ketelitian menghadirkan ruang untuk membangun hubungan yang lebih manusiawi dengan sejarah, sekaligus mengembalikan perhatian kepada individu-individu yang selama ini tersisih oleh cara pandang kolonial. Pendekatan ini tampak pada karya Liyan Menjadi Saksi (The Other Witness), yang berupaya menggeser fokus dari klasifikasi etnografis menuju kisah dan relasi antarmanusia yang selama ini tersembunyi.
Dalam After Stratz, Octora merespons karya Carl Heinrich Stratz, dokter dan etnolog Jerman yang mendokumentasikan masyarakat Jawa pada akhir abad ke-19 melalui sudut pandang ilmu pengetahuan kolonial. Sosok perempuan tanpa wajah yang membelakangi penonton menjadi simbol bagaimana identitas individu pernah direduksi menjadi sekadar objek penelitian. Sementara itu, karya Monalisa dari Jawa menghadirkan potret seorang perempuan dengan ekspresi gelisah yang seolah mengajak pengunjung menyadari posisi mereka sebagai pengamat dalam struktur tatapan kolonial.
Karya Word menghadirkan kalimat “Kurebahkan sukmaku dalam rekam cahaya abadimu” sebagai refleksi bahwa fotografi tidak pernah mampu sepenuhnya menangkap hakikat seseorang. Menurut Octora, makna selalu melampaui gambar maupun bahasa yang digunakan untuk merepresentasikannya.

Padma Raksasa, Memori yang Tak Terhapus
Salah satu karya yang menjadi sorotan adalah The Flower That Remembers, patung aluminium hasil kolaborasi pertama Octora dengan Yogya Art Lab. Karya ini menampilkan Padma Raksasa, nama yang sengaja dipilih Octora sebagai alternatif dari Rafflesia arnoldii. Di bagian tengah bunga terdapat mata yang terus mengawasi, menyiratkan bahwa alam menyimpan ingatan atas sejarah yang tidak dapat dihapus oleh sistem pengetahuan kolonial.
Gagasan tersebut berlanjut dalam instalasi Olfactory Field, yang menampilkan tujuh bunga Padma Raksasa lengkap dengan mata di bagian tengahnya. Melalui perpaduan antara unsur visual dan aroma khas bunga tersebut, Octora menunjukkan bahwa alam, organisme, dan pengetahuan budaya tidak pernah sekadar “ditemukan”, melainkan diklasifikasikan dan diberi makna melalui sistem kolonial yang pengaruhnya masih terasa hingga kini.
Melalui Menamai | Naming, Octora tidak hanya mengajak publik melihat karya seni, tetapi juga mempertanyakan cara pandang yang selama ini dianggap wajar. Pameran ini menunjukkan bahwa tindakan melihat, mengarsipkan, mengelompokkan, hingga memberi nama bukanlah proses yang netral, melainkan bagian dari sejarah relasi kuasa yang terus membentuk cara kita memahami dunia.

