(Business Lounge Journal – Medicine)
Selama kehamilan, seorang ibu tentu ingin melakukan apa pun yang terbaik untuk kesehatan dirinya dan bayinya. Namun, ada satu kebiasaan yang sering dianggap sepele tetapi perlu mendapat perhatian: mengonsumsi antibiotik tanpa resep atau tanpa petunjuk dokter. Alasannya bukan hanya karena antibiotik bisa berdampak pada kesehatan ibu, tetapi juga karena penggunaan antibiotik dapat berkaitan dengan munculnya gen resistensi antibiotik pada bayi sejak awal kehidupannya.
Temuan yang mengejutkan
Temuan terbaru yang dipresentasikan dalam ESCMID Global 2026 menunjukkan bahwa gen resistensi antibiotik atau antibiotic resistance genes (ARGs) dapat ditemukan pada mekonium, yaitu tinja pertama bayi, hanya dalam waktu singkat setelah kelahiran. Penelitian tersebut menganalisis sampel mekonium dari 105 bayi yang dirawat di unit perawatan intensif neonatal dan menemukan bahwa sebagian besar sampel memiliki sejumlah gen yang berkaitan dengan kemampuan bakteri bertahan terhadap antibiotik.
Salah satu temuan yang cukup mengejutkan adalah gen oqxA ditemukan pada 98 persen sampel, sedangkan qnrS ditemukan pada 96 persen sampel. Kedua gen tersebut berkaitan dengan resistensi terhadap kelompok antibiotik tertentu. Peneliti juga menemukan gen yang menghasilkan enzim beta-laktamase, termasuk blaCTX-M, blaCMY, dan blaSHV, yang dapat membuat sejumlah antibiotik menjadi tidak efektif. Bahkan, gen yang berkaitan dengan resistensi terhadap antibiotik karbapenem—kelompok antibiotik penting yang biasanya digunakan untuk menangani infeksi serius—ditemukan pada 21 persen sampel.
Bagaimana bayi bisa membawa gen resistensi antibiotik?
Tubuh bayi mulai mengalami kolonisasi mikroorganisme sejak periode yang sangat awal. Bakteri dari ibu, proses persalinan, lingkungan sekitar, maupun lingkungan rumah sakit dapat berperan dalam membentuk mikrobioma bayi.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa mikrobioma bayi dapat mengalami perubahan besar hanya dalam beberapa hari pertama setelah lahir. Paparan antibiotik selama periode tersebut dapat mengubah komposisi bakteri usus sekaligus meningkatkan jumlah gen resistensi antimikroba pada mikrobioma bayi.
Karena itu, penggunaan antibiotik oleh ibu selama kehamilan atau menjelang persalinan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Namun, bukan berarti ibu hamil tidak boleh menggunakan antibiotik sama sekali. Ada kondisi medis tertentu ketika antibiotik memang sangat diperlukan dan justru dapat menyelamatkan nyawa ibu maupun bayi. Yang menjadi masalah adalah penggunaan antibiotik tanpa indikasi yang jelas, tanpa resep dokter, atau tidak sesuai dosis dan lama pengobatan yang ditentukan.
Penelitian terbaru juga menemukan adanya hubungan antara sejumlah faktor maternal dan neonatal dengan keberadaan gen resistensi antibiotik. Misalnya, gen tertentu berkaitan dengan riwayat ibu yang dirawat di rumah sakit selama kehamilan. Para peneliti menyimpulkan bahwa pembentukan resistome—kumpulan gen resistensi antibiotik dalam mikrobioma—pada bayi kemungkinan dipengaruhi oleh kombinasi transmisi dari ibu, proses persalinan, serta paparan lingkungan rumah sakit pada periode awal kehidupan.
Antibiotik bukan obat untuk semua infeksi
Hal penting yang perlu dipahami ibu adalah bahwa antibiotik bekerja melawan bakteri, bukan virus. Flu, sebagian besar batuk pilek, dan banyak infeksi saluran pernapasan disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik tidak otomatis diperlukan.
Mengonsumsi antibiotik ketika tidak dibutuhkan dapat memberikan tekanan seleksi pada bakteri. Bakteri yang memiliki kemampuan bertahan terhadap antibiotik dapat tetap hidup dan berkembang, sehingga pada kemudian hari infeksi menjadi lebih sulit ditangani.
Bagi ibu hamil, prinsipnya sederhana: jangan membeli atau menggunakan antibiotik berdasarkan pengalaman sebelumnya, rekomendasi orang lain, atau sisa obat di rumah. Jika dokter memang meresepkan antibiotik, obat tersebut harus digunakan sesuai petunjuk.
Temuan tentang gen resistensi antibiotik pada bayi sejak awal kehidupan menjadi pengingat bahwa penggunaan antibiotik bukan hanya persoalan kesehatan seseorang. Apa yang dikonsumsi seorang ibu selama kehamilan dapat menjadi bagian dari lingkungan biologis yang membentuk awal kehidupan bayinya.
Karena itu, jangan takut menggunakan antibiotik ketika memang diperlukan secara medis, tetapi jangan pula menggunakannya sembarangan. Antibiotik yang tepat pada waktu yang tepat dapat menyelamatkan nyawa; antibiotik yang digunakan tanpa alasan yang tepat justru dapat ikut mendorong masalah resistensi antibiotik bagi generasi berikutnya.

