(BLJ – Kolom) Industri furnitur dan dekorasi Filipina memasuki 2026 dengan prospek yang semakin menarik. Pertumbuhan permintaan domestik, perkembangan properti dan hunian, meningkatnya penggunaan furnitur modular, serta ekspansi perdagangan digital menjadi sejumlah faktor yang mendorong industri ini. Pada saat yang sama, pemerintah Filipina semakin agresif membawa produk furnitur, dekorasi rumah, dan desain lokal ke pasar internasional.
Berdasarkan riset industri terbaru, nilai pasar furnitur dan home décor Filipina mencapai sekitar US$4,85 miliar pada 2025. Pasar tersebut diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR sekitar 6,9% selama 2026–2031 dan mencapai sekitar US$7,24 miliar pada 2031. Volume penjualan diperkirakan meningkat dari 38,8 juta unit pada 2025 menjadi sekitar 50 juta unit pada 2031.
Angka tersebut menunjukkan bahwa furnitur bukan lagi sekadar produk kebutuhan rumah tangga, tetapi berkembang menjadi bagian dari industri gaya hidup dan interior. Perubahan pola hunian, meningkatnya kebutuhan terhadap furnitur multifungsi, renovasi rumah, perkembangan apartemen dan kondominium, serta meningkatnya perhatian masyarakat terhadap desain interior ikut menciptakan pasar baru.

Sumber: Ken Research, Philippines Furniture and Home Décor Market 2026–2031.
Segmen furnitur modular dan multifungsi menjadi salah satu yang paling menjanjikan. Konsumen perkotaan membutuhkan produk yang dapat menyesuaikan dengan ruang hunian yang relatif terbatas. Karena itu, produk seperti modular storage, sofa bed, meja multifungsi, kitchen system, serta furnitur yang mudah dirakit dan dipindahkan semakin mendapat perhatian.
Riset yang dilakukan oleh lembaga lain memperkirakan pasar furnitur dan interior Filipina bernilai sekitar US$4,1 miliar pada 2025 dan dapat mencapai sekitar US$6,45 miliar pada 2031, dengan CAGR sekitar 7,85%. Pasar ini mencakup kebutuhan rumah tangga, properti, perkantoran, hotel, restoran, serta proyek interior komersial.

Sumber: Ken Research, Philippines Furniture and Home Décor Market 2026–2031.
Perkembangan Sektor Properti Menjadi Motor Permintaan
Perkembangan sektor konstruksi menjadi salah satu indikator penting bagi prospek furnitur. Setiap pembangunan rumah, apartemen, hotel, kantor, restoran, maupun pusat komersial pada akhirnya menciptakan kebutuhan terhadap furnitur dan perlengkapan interior.
Pasar Filipina memiliki basis konsumen yang besar. Jumlah penduduknya telah melampaui 112 juta jiwa, sementara urbanisasi terus berlangsung. Metro Manila, CALABARZON, Central Luzon, dan Cebu menjadi kawasan penting bagi aktivitas properti, perdagangan, serta distribusi produk furnitur.
Data riset industri menunjukkan sekitar 181.832 proyek konstruksi memperoleh izin pada 2025. Angka ini menjadi salah satu indikator besarnya pipeline permintaan untuk furnishing dan interior, meskipun kondisi konstruksi berbeda antarwilayah.
Pertumbuhan tersebut juga menciptakan peluang bagi produsen yang mampu menyediakan produk secara terintegrasi, mulai dari desain, produksi, pengiriman hingga instalasi. Model bisnis seperti ini semakin penting karena konsumen dan pengembang tidak hanya mencari produk, tetapi solusi interior secara keseluruhan.
Ekspor Furnitur Masih Menjadi Tantangan
Di tengah pertumbuhan pasar domestik, pemerintah Filipina masih menghadapi tantangan untuk memperbesar kontribusi furnitur terhadap ekspor nasional. Data Philippine Statistics Authority menunjukkan kategori woodcrafts and furniture menyumbang sekitar 0,2% dari ekspor barang Filipina pada 2025, turun dari 0,3% pada 2023.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Filipina memiliki tradisi craftsmanship yang kuat, industri furniturnya masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan skala ekspor. Oleh karena itu, strategi pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat branding, desain, akses buyer internasional, dan promosi produk bernilai tambah.
Salah satu instrumen utamanya adalah Manila FAME, pameran perdagangan yang menjadi platform penting bagi produk home, fashion, dan lifestyle Filipina. Pada 2026, Manila FAME dijadwalkan berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 di World Trade Center Metro Manila.
Melalui Manila FAME, produsen Filipina tidak sekadar menjual furnitur, tetapi menawarkan konsep desain, craftsmanship, material lokal, serta identitas budaya kepada buyer internasional.
Dari Kerajinan Tradisional ke Desain Global
Salah satu keunggulan Filipina terletak pada kemampuan menggabungkan craftsmanship tradisional dengan desain kontemporer. Material seperti kayu, bambu, abaca, buri, dan serat alam lainnya dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai estetika sekaligus berkarakter lokal.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan karena konsumen global mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap sustainability, material yang dapat ditelusuri asalnya, produksi yang bertanggung jawab, serta produk yang memiliki cerita.
CITEM, lembaga promosi perdagangan Filipina, juga terus mendorong produk kreatif dan manufaktur lokal memasuki pasar global. Pada 2026, program DESIGNPhilippines bahkan dipromosikan melalui partisipasi di High Point Market di Amerika Serikat, salah satu pusat perdagangan furnitur terbesar dunia. CITEM juga menyiapkan berbagai kegiatan business mission dan brand activation untuk memperkuat posisi desain Filipina di pasar internasional.
Langkah ini penting karena persaingan furnitur global semakin bergeser dari sekadar harga menuju desain, kualitas, diferensiasi, dan keberlanjutan.
Pengaruh Digitalisasi pada Cara Menjual Furnitur
Digitalisasi juga menjadi kekuatan baru industri furnitur Filipina. Riset industri memperkirakan penjualan online menyumbang sekitar 19,6% dari nilai pasar furnitur dan home décor pada 2025, naik signifikan dibandingkan sekitar 10,5% pada 2020. Porsinya diperkirakan mencapai sekitar 29% pada 2031.
Perubahan ini membuka peluang bagi produsen kecil dan menengah untuk menjangkau konsumen tanpa harus memiliki jaringan toko fisik di seluruh wilayah.
Platform digital juga memungkinkan konsumen melihat katalog, membandingkan harga, memilih material, melakukan konfigurasi desain, hingga memesan layanan pengiriman dan instalasi.
CITEM sendiri mengembangkan FAME+, platform digital yang mempertemukan brand dan produsen Filipina dengan buyer global. Platform tersebut dirancang untuk memperluas visibilitas produk dan melengkapi aktivitas perdagangan melalui pameran fisik.
Peluang Kerjasama dengan Indonesia
Perkembangan industri furnitur Filipina juga membuka peluang kerja sama bagi pelaku industri Indonesia. Melalui pasar domestik Filipina yang besar dengan pertumbuhan sekitar 7% per tahun, kebutuhan terhadap furnitur, home décor, material interior, aksesori, serta produk dekorasi diperkirakan terus meningkat.
Indonesia sendiri memiliki keunggulan kuat dalam produksi furnitur berbasis kayu, rotan, bambu, serta kerajinan dan dekorasi. Peluang dapat dikembangkan tidak hanya melalui ekspor produk jadi, tetapi juga material, komponen furnitur, desain, jasa interior, hingga kolaborasi dengan retailer dan developer Filipina.
Namun, persaingan juga semakin ketat. Produk dari China, Vietnam, Malaysia, Indonesia dan negara Asia lainnya telah mengisi pasar Filipina. Karena itu, produk Indonesia perlu menawarkan diferensiasi yang jelas melalui desain, kualitas, harga kompetitif, sustainability, serta kemampuan memenuhi pesanan dalam jumlah dan spesifikasi yang konsisten.
Dengan pasar furnitur dan home décor yang diproyeksikan mencapai US$7,24 miliar pada 2031, industri Filipina memiliki ruang ekspansi yang besar. Pertumbuhan tersebut akan semakin didorong oleh urbanisasi, pembangunan hunian, renovasi, perkembangan hospitality, furnitur modular, e-commerce, serta meningkatnya kebutuhan terhadap desain interior.
Selama ini, sesuai pengamatan penulis, tantangan utama Filipina adalah memperbesar kapasitas produksi dan ekspor tanpa kehilangan identitas desain lokal. Jika berhasil menggabungkan craftsmanship, teknologi, desain kontemporer, material berkelanjutan dan pemasaran digital, Filipina berpotensi memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain furnitur dan home décor yang semakin diperhitungkan di kawasan Asia.
Bagi pasar regional, perkembangan tersebut sekaligus menandakan bahwa persaingan industri furnitur Asia Tenggara pada 2026 tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas produksi. Desain, inovasi, sustainability dan kemampuan membangun merek global menjadi faktor baru yang menentukan siapa yang mampu memenangkan pasa

