(Business Lounge Journal – Foreign Insight)
Ekuador selama ini dikenal luas melalui Kepulauan Galápagos, salah satu destinasi alam paling ikonik di dunia. Namun, dalam wawancara dengan Business Lounge Journal, H.E. Luis Guillermo Arellano Jibaja, Duta Besar Republik Ekuador untuk Indonesia, menekankan bahwa daya tarik Ekuador tidak hanya berhenti pada Galápagos. Ekuador juga memiliki pesisir Pasifik, Pegunungan Andes, dan wilayah Amazon yang membentuk identitas negara tersebut sebagai “country of four worlds.”
Galápagos : Menjaga Kelestarian Alam
Dalam wawancara tersebut, H.E. Arellano Jibaja menjelaskan bahwa Ekuador menjaga Galápagos melalui kombinasi regulasi ketat, sistem pembiayaan inovatif, serta pendekatan pembangunan berbasis blue economy yang berkelanjutan. Menurutnya, strategi utama Ekuador adalah menjaga keseimbangan antara konservasi dan pembangunan nasional.
Ia menyampaikan bahwa Ekuador mendorong model ekowisata berkualitas tinggi dengan dampak rendah. Model ini bertujuan untuk mengurangi tekanan terhadap ekosistem Galápagos, terutama karena kawasan tersebut memiliki nilai ekologis yang sangat sensitif. H.E. Arellano Jibaja juga menyebut bahwa Galápagos National Park menerapkan pembatasan ketat terhadap jumlah pengunjung, sehingga aktivitas wisata tidak mengorbankan kelestarian alam.
Menurut H.E. Arellano Jibaja, peningkatan biaya masuk sejak Agustus 2024 juga menjadi bagian dari strategi pembiayaan konservasi. Dana tersebut diarahkan untuk mendukung perlindungan lingkungan dan masyarakat lokal. Ia juga menyebut adanya program pendidikan, eradikasi spesies invasif, serta pemantauan wilayah laut untuk mencegah penangkapan ikan ilegal.
Secara global, Galápagos menempati posisi yang sangat khusus dalam sejarah konservasi dan ilmu pengetahuan. UNESCO menyebut Kepulauan Galápagos sebagai “living museum and showcase of evolution,” yang terletak sekitar 1.000 kilometer dari benua Amerika Selatan. Kepulauan ini terdiri dari 19 pulau dan berbagai cagar laut. Kawasan ini berada di pertemuan tiga arus laut besar, sehingga menjadi salah satu ekosistem laut yang sangat kaya dengan keanekaragaman hayati.
Keunikan Galápagos juga berkaitan dengan isolasi geografisnya. Kondisi ini memungkinkan berkembangnya fauna yang tidak biasa, termasuk iguana darat, kura-kura raksasa, dan berbagai jenis burung finch.
Dari sisi kawasan lindung, UNESCO mencatat bahwa area daratan situs Galápagos mencapai 766.514 hektare, sementara cagar lautnya mencakup sekitar 7.990.000 hektare. Angka ini menunjukkan bahwa Galápagos bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga salah satu proyek konservasi alam paling penting di dunia.

Sumber: Wikipedia/Bernard Gagnon
Four Worlds of Ecuador
H.E. Arellano Jibaja menggambarkan Ekuador sebagai negara “four worlds” karena memiliki empat wilayah alam utama dalam satu negara: Galápagos, wilayah pesisir Pasifik, pegunungan Andes, dan hutan rimba Amazon. Menurutnya, setiap kawasan menawarkan pengalaman yang berbeda, baik dari sisi alam, budaya, maupun keanekaragaman hayati.
Galápagos, menurut H.E. Arellano Jibaja, merupakan laboratorium alam. Ia menyebut kawasan ini sebagai tempat flora dan fauna berkembang dalam isolasi, dengan keberadaan kura-kura raksasa, iguana laut, dan penguin Galápagos.
Wilayah pesisir Ekuador, menurutnya, ditandai oleh pantai tropis, mangrove yang luas, kekayaan perikanan, serta budaya Afro-Ekuador. Kawasan ini memiliki iklim hangat, keanekaragaman hayati laut, dan hutan kering tropis.
Sementara itu, kawasan Andes Ekuador ditandai oleh pegunungan, gunung berapi bersalju seperti Chimborazo dan Cotopaxi, lembah-lembah antarpegunungan, serta kota-kota kolonial seperti Quito dan Cuenca.
Untuk wilayah Amazon, H.E. Arellano Jibaja menyebutnya sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di planet ini. Wilayah ini memiliki hutan hujan lebat, sungai-sungai besar, dan komunitas adat yang masih mempertahankan hubungan kuat dengan lingkungan alamnya. Ia juga menekankan bahwa ketika banyak orang berbicara tentang Amazon, mereka sering langsung membayangkan bahwa hutan Amazon terletak di Brasil, padahal Ekuador juga memiliki sebagian kecil daripada wilayah hutan Amazon.

Wikipedia/Calyponte
Keanekaragaman Alam dan Budaya Ekuador
Kementerian Pariwisata Ekuador mencatat bahwa negara ini memiliki 74 kawasan lindung laut dan darat. Kawasan lindung tersebut mencakup lebih dari 13,77 persen wilayah kontinental Ekuador dan 97 persen wilayah Galápagos. Hal ini memperlihatkan bahwa kekayaan alam Ekuador tidak hanya dipromosikan sebagai aset wisata, tetapi juga dikelola sebagai bagian dari kebijakan perlindungan lingkungan.
Ekuador juga memiliki potensi besar dalam wisata burung. Ecuador Travel mencatat setidaknya 1.722 spesies burung, termasuk 39 spesies endemik dan 220 spesies migratori. Selain itu, kawasan pesisir Ekuador menjadi tempat pengamatan paus bungkuk dari Juni hingga Oktober, ketika paus datang ke perairan hangat untuk kawin dan melahirkan.

Potensi Wisata Ekuador bagi Wisatawan Indonesia
Dalam wawancara tersebut, H.E. Arellano Jibaja menekankan bahwa salah satu keunggulan Ekuador adalah ukuran geografisnya yang relatif kecil dibandingkan dengan negara-negara tetangganya di Amerika Selatan. Menurutnya, dari Amazon ke dataran tinggi Andes atau ke wilayah pesisir, perjalanan dapat dilakukan dengan pesawat dalam waktu sekitar 30 hingga 40 menit.
Ia menggambarkan bahwa seorang wisatawan dapat berada di Amazon pada pagi hari, menikmati kawasan pegunungan pada siang atau sore hari, lalu berada di wilayah pesisir pada malam hari. Namun, H.E. Arellano Jibaja juga menambahkan bahwa untuk menikmati budaya, gastronomi, iklim, dan sumber daya alam di setiap kawasan secara lebih baik, wisatawan sebaiknya menghabiskan dua hingga tiga hari di masing-masing wilayah.
Bagi wisatawan Indonesia, hal ini menjadikan Ekuador sebagai destinasi Amerika Selatan yang menarik karena menawarkan beberapa pengalaman besar dalam satu perjalanan: Galápagos untuk konservasi dan satwa endemik, Andes untuk lanskap pegunungan dan kota kolonial, pesisir Pasifik untuk budaya dan wisata laut, serta Amazon untuk hutan hujan tropis dan komunitas adat.
Dari sisi akses perjalanan, pemegang paspor Indonesia secara umum tidak memerlukan visa untuk kunjungan wisata singkat ke Ekuador hingga 90 hari. Informasi konsuler yang tersedia menyebut Indonesia sebagai negara yang bebas visa untuk masuk ke Ekuador dengan masa tinggal 90 hari. Namun, wisatawan tetap perlu memeriksa persyaratan terbaru sebelum keberangkatan, termasuk masa berlaku paspor, tiket kembali atau lanjutan, dan ketentuan tambahan yang dapat berubah sewaktu-waktu.

