(Businesslounge Journal-News & Insight) Seiring konsumen semakin mencari harga yang lebih terjangkau saat berbelanja, perusahaan minuman ringan mulai mengandalkan kemasan berukuran lebih kecil untuk menarik pembeli.
Kaleng mini milik Coca-Cola kini berkembang menjadi salah satu sumber pertumbuhan bisnis yang signifikan.
Pada kuartal pertama tahun ini, volume penjualan kaleng mini di Amerika Utara meningkat dalam kisaran satu digit tinggi. Pada periode yang sama, Coca-Cola mulai menjual kaleng mini secara satuan di toko-toko serba ada. Perusahaan tersebut menyebutkan bahwa kaleng mini saat ini telah menyumbang lebih dari 9 persen penjualan minuman bersoda di gerai ritel besar.
Coca-Cola pertama kali memperkenalkan kaleng mini berukuran 7,5 ons pada 2009 sebagai pilihan minuman 90 kalori yang membantu mengontrol porsi konsumsi dan dijual dalam paket multipack. Hampir 17 tahun kemudian, kemasan kecil ini justru menjadi cara praktis bagi produsen minuman untuk menawarkan harga yang lebih rendah kepada konsumen.
Langkah tersebut mulai diikuti para pesaingnya. PepsiCo saat ini tengah menguji pemasaran kaleng mini, botol soda berukuran 13 ons, serta mempertimbangkan peluncuran botol Gatorade yang lebih kecil.
Presiden bisnis minuman PepsiCo Amerika Serikat, Mike Del Pozzo, dalam forum tahunan Global Food Forum yang digelar Wall Street Journal, menjelaskan bahwa harga satu botol soda ukuran 20 ons bisa mencapai sekitar 3 dolar AS. Sebaliknya, kaleng mini dapat dijual dengan harga mendekati 1,50 dolar AS. Menurutnya, harga yang lebih rendah memberi peluang lebih besar bagi konsumen untuk mencoba produk seperti Poppi, merek soda yang kini dimiliki PepsiCo.
Tren kemasan kecil tidak hanya terjadi pada dua raksasa minuman bersoda tersebut. Keurig Dr Pepper dalam laporan tren minuman 2026 menyatakan sedang memperluas lini kaleng mini untuk menghadirkan pengalaman konsumsi yang lebih sesuai kebutuhan. Sementara itu, pendiri Supergoop, Holly Thaggard, baru meluncurkan merek air minum WaterOuai yang dikemas dalam kaleng aluminium berukuran 8,45 ons.
Mengapa ukuran kecil semakin diminati?
Strategi ini muncul ketika banyak konsumen masih menghadapi tekanan ekonomi. Dalam konferensi konsumen global Deutsche Bank, Chief Financial Officer Coca-Cola, John Murphy, menyoroti kelompok masyarakat dengan pendapatan tahunan sekitar 50.000 hingga 60.000 dolar AS yang mulai merasakan keterbatasan daya beli.
Murphy menilai kondisi tersebut membuat banyak konsumen kesulitan mempertahankan pola belanja sebelumnya karena pendapatan mereka tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup.
Temuan dari McKinsey juga menunjukkan bahwa konsumen berpenghasilan menengah hingga tinggi mengalami penurunan optimisme ekonomi yang cukup tajam.
Kaleng mini memungkinkan konsumen mengeluarkan uang lebih sedikit dalam satu kali pembelian sekaligus memberikan pilihan harga baru bagi perusahaan untuk menjangkau berbagai segmen pasar.
Strategi ini dikenal sebagai “price-pack architecture”, yaitu menjual produk yang sama dalam berbagai ukuran, format, saluran distribusi, dan tingkat harga agar dapat menjangkau konsumen dengan kemampuan belanja yang berbeda-beda. Dalam laporan kinerja kuartal pertama, Coca-Cola menyebutkan bahwa perusahaan bersama mitra pembotolannya terus memperkuat pilihan merek, harga, kemasan, dan saluran distribusi untuk produk bernilai ekonomis maupun premium.
Harga masuk yang lebih terjangkau
Bagi Coca-Cola, fokus pada kaleng mini telah memberikan hasil yang positif. Pada April lalu, perusahaan melaporkan pendapatan operasional bersih kuartal pertama meningkat 12 persen menjadi 12,5 miliar dolar AS, sementara volume penjualan global tumbuh 3 persen.
Kaleng mini menawarkan harga awal yang lebih rendah di tengah kondisi pasar yang semakin beragam. Meski harga per ons tidak selalu lebih murah dibanding kemasan besar, konsumen dapat mengeluarkan dana lebih sedikit dalam satu transaksi, sesuatu yang kini banyak dicari.
Apa yang awalnya diciptakan sebagai solusi pengendalian porsi konsumsi kini berubah menjadi strategi penetapan harga yang efektif. Uji coba yang dilakukan PepsiCo dan ekspansi produk serupa oleh Keurig Dr Pepper menunjukkan bahwa semakin banyak perusahaan minuman yang melihat potensi besar dari kemasan berukuran mini.

