(Business Lounge – Global News) Peritel perlengkapan rumah tangga, Bed Bath & Beyond, menunjukkan tanda pemulihan dengan mempersempit kerugian pada kuartal keempat. Perusahaan melaporkan rugi bersih sebesar 20,9 juta dolar AS, lebih baik dibanding periode sebelumnya, sekaligus mematok target pertumbuhan pendapatan pada 2026 di kisaran satu digit rendah hingga menengah.
Laporan yang dirangkum Reuters dan Bloomberg menggambarkan fase konsolidasi yang mulai membuahkan hasil. Setelah melewati periode restrukturisasi dan perubahan model bisnis, manajemen kini mencoba membangun fondasi pertumbuhan yang lebih stabil. Fokusnya bukan lagi sekadar bertahan, melainkan kembali ekspansif secara terukur.
Kerugian yang menyempit menjadi sinyal bahwa efisiensi biaya dan perampingan operasi mulai berdampak. Perusahaan memangkas beban operasional, menata ulang rantai pasok, serta menyederhanakan portofolio produk. Langkah tersebut membantu memperbaiki margin, walau tekanan pada sisi pendapatan belum sepenuhnya hilang.
Analis yang dikutip The Wall Street Journal menilai target pertumbuhan satu digit rendah hingga menengah untuk 2026 tergolong realistis, mengingat kondisi industri ritel rumah tangga masih kompetitif. Konsumen cenderung selektif dalam belanja barang non-esensial, terutama ketika tekanan biaya hidup belum sepenuhnya reda.
Bed Bath & Beyond juga memperkuat kanal digitalnya. Investasi pada platform online dan integrasi logistik menjadi bagian dari strategi baru. Dalam laporan yang dilaporkan CNBC, manajemen menyebut peningkatan pengalaman belanja daring sebagai prioritas utama untuk menarik pelanggan muda yang terbiasa bertransaksi lewat ponsel.
Transformasi perusahaan beberapa tahun terakhir cukup dramatis. Setelah menghadapi tekanan likuiditas dan perubahan kepemilikan, merek ini berupaya memulihkan citra di mata konsumen. Reposisi produk dengan fokus pada kategori inti seperti perlengkapan dapur, kamar tidur, dan dekorasi rumah menjadi langkah penting.
Pasar menyambut hasil kuartal keempat dengan optimisme hati-hati. Saham perusahaan bergerak fluktuatif setelah pengumuman, mencerminkan campuran harapan dan keraguan. Investor ingin melihat bukti bahwa target pertumbuhan 2026 bukan sekadar proyeksi ambisius.
Dalam paparan kepada investor yang dirangkum Financial Times, manajemen menekankan pentingnya disiplin inventaris. Pengendalian stok yang lebih ketat membantu mencegah diskon besar yang bisa menggerus margin. Pendekatan ini diharapkan menjaga profitabilitas sembari mendorong penjualan secara bertahap.
Industri perlengkapan rumah tangga memang sensitif terhadap siklus ekonomi. Saat pasar properti melambat atau konsumen menahan belanja, permintaan produk dekorasi dan furnitur kecil ikut terdampak. Karena itu, target pertumbuhan satu digit dianggap sebagai langkah aman sambil memulihkan kepercayaan pasar.
Bed Bath & Beyond juga berupaya memperkuat program loyalitas dan promosi berbasis data. Pemanfaatan analitik pelanggan memungkinkan penawaran lebih personal, meningkatkan peluang pembelian ulang. Di tengah persaingan dengan pemain e-commerce besar, pendekatan ini menjadi krusial.
Walau masih mencatat rugi, penyempitan kerugian menjadi pijakan penting. Perusahaan kini berada di titik transisi, mencoba membalikkan narasi dari bertahan menjadi bertumbuh. Target 2026 menjadi ujian apakah strategi baru mampu mengangkat pendapatan secara konsisten.
Bagi investor, cerita Bed Bath & Beyond adalah tentang kesabaran. Pemulihan ritel jarang terjadi seketika. Dibutuhkan kombinasi efisiensi, inovasi produk, dan eksekusi operasional yang rapi. Kuartal keempat yang lebih baik memberi secercah harapan bahwa arah perusahaan mulai stabil.
Tantangan tetap ada, mulai dari persaingan harga hingga perubahan preferensi konsumen. Namun dengan kerugian yang makin mengecil dan target pertumbuhan yang terukur, Bed Bath & Beyond berusaha menata ulang pijakan untuk kembali relevan di pasar ritel rumah tangga Amerika.

