Newmont

Newmont Kejar Margin di Tengah Emas Meroket

(Business Lounge – Global News) Rally harga emas yang mencetak rekor tidak otomatis membuat semua penambang berpesta laba. Itulah nada yang disampaikan bos Newmont, produsen emas terbesar di dunia. Di tengah lonjakan harga logam mulia, perusahaan justru menekankan fokus pada pelebaran margin, bukan euforia sesaat.

Dalam laporan yang dikutip Reuters, CEO Newmont menegaskan bahwa manajemen tidak ingin “bermata berbintang” melihat harga emas yang melesat. Sikap itu muncul setelah perusahaan membukukan penurunan laba kuartal keempat, tertekan oleh kenaikan royalti dan pajak. Jadi, walau harga jual naik, beban ikut menanjak.

Harga emas memang sedang berada di puncak baru, didorong ketidakpastian ekonomi global, ekspektasi penurunan suku bunga, serta permintaan lindung nilai dari investor. Namun bagi penambang, harga tinggi tidak selalu berarti margin otomatis melebar. Struktur biaya, regulasi, serta beban fiskal di berbagai negara tambang turut memainkan peran.

Menurut Bloomberg, Newmont kini memusatkan perhatian pada efisiensi operasional dan optimalisasi portofolio tambang. Setelah menyelesaikan sejumlah akuisisi besar dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan memiliki aset yang tersebar di berbagai wilayah. Fokus berikutnya adalah memastikan setiap tambang memberi kontribusi laba yang solid, bukan sekadar volume produksi.

Penurunan laba kuartal keempat menjadi pengingat bahwa industri pertambangan sarat variabel eksternal. Royalti yang lebih tinggi di sejumlah yurisdiksi serta kenaikan tarif pajak membuat sebagian kenaikan harga emas tergerus sebelum masuk ke kas perusahaan. Dalam situasi seperti ini, disiplin biaya menjadi krusial.

Financial Times menulis bahwa banyak investor kini menuntut perusahaan tambang untuk lebih selektif dalam ekspansi. Alih-alih memburu pertumbuhan agresif saat harga komoditas naik, pasar lebih menyukai pendekatan yang menekankan pengembalian modal dan stabilitas arus kas. Newmont tampaknya membaca arah angin itu.

Perusahaan juga berupaya merampingkan portofolio dengan melepas aset yang dianggap kurang strategis. Strategi ini bertujuan memperkuat neraca dan memusatkan sumber daya pada tambang dengan margin lebih tebal. Dalam industri yang padat modal, alokasi investasi menjadi faktor penentu daya tahan jangka panjang.

Lonjakan harga emas memberi ruang napas tambahan, tetapi manajemen Newmont memilih bersikap realistis. Harga komoditas bisa berbalik arah sewaktu-waktu. Dengan memperlebar margin sekarang—melalui efisiensi dan pengendalian biaya—perusahaan berharap lebih tahan jika siklus berubah.

Analis yang dikutip Reuters menilai pendekatan ini sebagai langkah hati-hati yang masuk akal. Euforia harga tinggi sering menggoda perusahaan untuk meningkatkan belanja modal atau akuisisi besar. Namun sejarah industri tambang menunjukkan bahwa siklus naik sering diikuti koreksi tajam.

Di sisi lain, investor tetap memantau apakah strategi margin ini akan berdampak pada volume produksi. Jika penghematan terlalu agresif, ada risiko output tertekan. Newmont perlu menjaga keseimbangan antara disiplin biaya dan kapasitas produksi agar tetap kompetitif.

Emas selama ini dipandang sebagai aset lindung nilai ketika pasar keuangan bergejolak. Permintaan global yang kuat memberi peluang bagi penambang seperti Newmont. Namun perusahaan tampaknya tak ingin terbuai oleh harga spot semata. Fokus mereka kini adalah memastikan setiap ons emas yang diproduksi memberi keuntungan optimal setelah pajak dan royalti.

Pendekatan yang lebih berhati-hati ini mencerminkan perubahan budaya di industri pertambangan global. Investor tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan cadangan, melainkan menginginkan pengelolaan modal yang cermat. Dalam lanskap harga emas yang sedang panas, Newmont memilih jalan yang lebih dingin: mempertebal margin dan menjaga fondasi bisnis tetap kokoh.