NEC membuka peluang akuisisi perusahaan manufaktur untuk mengembangkan bisnis physical AI dan aerospace
NEC memperluas strategi M&A dengan membuka peluang akuisisi perusahaan manufaktur untuk mendukung ekspansi physical AI, aerospace, dan defense.

NEC Incar Akuisisi Manufaktur untuk Physical AI & Aerospaced

(Business Lounge Journal –  News)

NEC Corporation membuka peluang lebih luas untuk melakukan akuisisi perusahaan manufaktur sebagai bagian dari strategi memperbesar bisnis di sektor physical AI, aerospace, dan defense. Langkah ini menandai upaya perusahaan teknologi Jepang tersebut untuk memperkuat kemampuan di dunia nyata, tidak hanya mengandalkan bisnis perangkat lunak dan layanan digital.

Chief Financial Officer NEC, Kunikazu Amamiya, mengatakan perusahaan tidak ingin membatasi strategi merger dan akuisisi (M&A) pada pasar tertentu. Sikap tersebut memberikan ruang bagi NEC untuk mengevaluasi berbagai target, termasuk perusahaan yang memiliki keahlian manufaktur dan teknologi yang dapat melengkapi bisnis AI serta keamanan nasional.

Fokus pada manufaktur memiliki arti strategis. Physical AI menghubungkan kecerdasan buatan dengan lingkungan fisik melalui robot, mesin otomatis, sensor, sistem kendali, dan berbagai perangkat yang dapat berinteraksi dengan dunia nyata.

Bagi NEC, masuk lebih jauh ke area tersebut berarti membutuhkan kemampuan yang berbeda dari pengembangan software konvensional. Akuisisi perusahaan manufaktur dapat menjadi jalan lebih cepat untuk memperoleh teknologi, talenta, proses produksi, sekaligus pengalaman industri yafng sulit dibangun dari nol.

Strategi tersebut juga sejalan dengan langkah NEC untuk memperluas ekosistem physical AI. Pada Agustus 2026, NEC Orchestrating Future Fund berinvestasi di Dexmate, perusahaan Amerika Serikat yang mengembangkan robot humanoid VEGA dan platform pengembangan physical AI. Investasi itu diarahkan untuk mengeksplorasi penerapan teknologi robotika di dunia nyata.

Dana ekspansi besar

NEC sebelumnya telah menyiapkan kapasitas investasi pertumbuhan hingga sekitar ¥1,2 triliun–¥1,3 triliun sampai akhir tahun fiskal 2031. Dana tersebut tidak secara otomatis akan seluruhnya digunakan untuk M&A, karena NEC mengatakan investasi akan dipilih berdasarkan peluang pertumbuhan dan tingkat pengembalian modal yang dapat dipertanggungjawabkan. Area yang dipertimbangkan mencakup IT services, consulting, space, defense, dan communications.

Dengan demikian, akuisisi manufaktur bukan sekadar upaya memperbesar skala bisnis. NEC tampaknya ingin membangun kombinasi antara software, AI, data, dan kemampuan fisik yang dapat digunakan untuk memasuki pasar baru.

Sektor aerospace dan defense menjadi salah satu bidang yang semakin penting. NEC sendiri baru-baru ini memperkuat kerja sama dengan Mitsubishi Heavy Industries dalam bidang pertahanan, termasuk sistem komando dan kendali serta aset nirawak. Kedua perusahaan juga menempatkan kedaulatan data dan AI sebagai bagian penting dari pengembangan industri pertahanan Jepang.

Bagi NEC, peluang di aerospace dan defense juga menawarkan karakter bisnis yang berbeda dari pasar teknologi konsumen. Proyek-proyek di sektor tersebut cenderung membutuhkan teknologi dengan tingkat keandalan tinggi yang dapat beroperasi dalam jangka panjang.

Strategi ke Depan

Ke depan, strategi M&A NEC kemungkinan akan semakin diarahkan pada perusahaan yang mampu menjembatani kemampuan digital dengan kebutuhan fisik. Jika berhasil, akuisisi tersebut dapat mempercepat transformasi NEC dari perusahaan teknologi informasi menjadi pemain yang lebih luas di ekosistem AI, manufaktur cerdas, aerospace, dan defense.

Langkah ini sekaligus menunjukkan perubahan penting dalam persaingan AI: nilai teknologi tidak lagi hanya ditentukan oleh model AI dan software, tetapi juga oleh kemampuan membawa kecerdasan tersebut ke mesin, robot, fasilitas produksi, hingga sistem pertahanan.