(Business Lounge Journal – News, Automotive)
Mitsubishi Motors mengambil langkah baru dalam memperluas portofolio kendaraan listrik (EV) dengan menggandeng perusahaan Taiwan, Foxtron Vehicle Technologies. Kolaborasi ini akan menghadirkan sebuah kendaraan listrik untuk pasar Australia dan Selandia Baru pada paruh kedua 2026. Langkah tersebut juga menjadi salah satu kolaborasi OEM pertama Mitsubishi Motors dengan perusahaan perakitan dan pengembangan kendaraan asal Taiwan.
Dalam kerja sama tersebut, Foxtron—anak usaha Foxconn yang berfokus pada pengembangan kendaraan listrik—akan mengembangkan model EV untuk Mitsubishi. Kendaraan tersebut kemudian diproduksi di Taiwan oleh Yulon Motor, perusahaan otomotif Taiwan yang juga merupakan mitra Foxtron. Mitsubishi selanjutnya akan memasarkannya melalui jaringan distribusinya di Australia dan Selandia Baru.
Kesepakatan ini bermula dari memorandum of understanding (MOU) yang ditandatangani Mitsubishi Motors dan Foxtron pada Mei 2025. Mitsubishi menyebut kendaraan tersebut dirancang dengan karakteristik yang sesuai untuk kawasan Oseania, termasuk performa berkendara dan sistem infotainment yang menjadi bagian penting dari pengalaman berkendara modern.
Menariknya, proyek ini bukan sekadar upaya Mitsubishi untuk menambah satu model listrik. Kolaborasi tersebut mencerminkan perubahan strategi produsen Jepang dalam menghadapi tingginya biaya dan risiko pengembangan kendaraan listrik secara mandiri. Mitsubishi pada 2026 menyatakan akan lebih mengandalkan kolaborasi dengan mitra seperti Nissan dan Foxconn untuk pengembangan EV, sementara perusahaan menilai pertumbuhan permintaan kendaraan listrik global masih menghadapi ketidakpastian.
Bagi Foxconn, kerja sama ini juga menjadi langkah penting untuk memperluas bisnis otomotifnya. Melalui Foxtron, Foxconn tidak hanya ingin menjadi pemasok komponen elektronik, tetapi juga membangun kemampuan dalam desain, pengembangan, dan manufaktur kendaraan secara keseluruhan. Model bisnis Foxtron menggunakan pendekatan contract design and manufacturing service (CDMS), yang memungkinkan perusahaan bekerja sama dengan merek otomotif lain.
Australia dan Selandia Baru dipilih sebagai pasar awal untuk kendaraan hasil kolaborasi ini. Mitsubishi saat ini tengah melakukan pengujian dan penyempurnaan kendaraan agar sesuai dengan kondisi berkendara lokal. Insinyur dan spesialis produk Mitsubishi di Australia turut terlibat dalam proses evaluasi dan pengembangan kendaraan tersebut.
Kehadiran EV baru ini juga penting bagi Mitsubishi karena perusahaan sebelumnya belum memiliki jajaran kendaraan listrik baterai yang kuat di pasar Australia. Model baru tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari strategi Mitsubishi menuju 2030, di tengah meningkatnya persaingan dari produsen EV China di kawasan tersebut.
Dari sisi industri, kolaborasi Mitsubishi dan Foxtron menunjukkan semakin kaburnya batas antara industri otomotif Jepang dan ekosistem teknologi Taiwan. Perusahaan seperti Foxconn memiliki pengalaman besar dalam produksi elektronik berskala global, sementara produsen otomotif Jepang memiliki kekuatan pada desain kendaraan, distribusi, dan pemahaman pasar. Perpaduan keduanya dapat menjadi model baru bagi pengembangan EV yang lebih cepat dan efisien.
Dengan peluncuran yang ditargetkan pada paruh kedua 2026, Mitsubishi berharap kendaraan listrik hasil kerja sama dengan Foxtron dapat memperkuat posisinya di Australia dan Selandia Baru sekaligus mempercepat transisi menuju jajaran kendaraan yang semakin elektrifikasi.

