(Business Lounge Journal – Culture)
Kedutaan Besar Republik Filipina di Jakarta membuka babak baru diplomasi budaya melalui Re-Dedication of Sentro Rizal Jakarta, Jumat (28/8/2026). Setelah satu dekade hadir sebagai ruang pengenalan budaya Filipina, Sentro Rizal Jakarta kini diarahkan untuk memperluas perannya melalui pendidikan, pertukaran pengetahuan, sastra, serta hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Filipina.
Duta Besar Filipina untuk Indonesia H.E. Christopher B. Montero mengatakan bahwa re-dedikasi tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum untuk memberikan energi dan tujuan baru bagi Sentro Rizal dalam memperkenalkan Filipina, masyarakatnya, dan budayanya kepada masyarakat Indonesia.
Dengan semangat yang diperbarui, kami mendedikasikan kembali tempat ini untuk memberikan energi baru pada cara kita berbagi tentang Filipina, masyarakatnya, dan budayanya dengan sahabat-sahabat Indonesia,” ujar Dubes Montero.
![]()
Diplomasi yang Berangkat dari Kedekatan Sejarah
Dalam sambutannya, Dubes Montero menekankan bahwa hubungan Filipina dan Indonesia memiliki akar sejarah yang jauh lebih dalam daripada kedekatan geografis. Ia menyoroti sosok Dr. José Protacio Rizal, pahlawan nasional Filipina yang pemikiran dan perjuangannya turut menjadi inspirasi bagi gerakan anti-kolonial awal di Asia Tenggara.
Meskipun Rizal tidak pernah menginjakkan kaki di Indonesia, gagasannya dikenal di kalangan pemimpin nasionalis dan intelektual Indonesia. Dubes Montero juga menyebut Presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang beberapa kali mengutip Rizal dalam pidato-pidatonya untuk membangkitkan semangat patriotisme. Hubungan historis tersebut juga tercermin melalui karya Rizal, Mi Último Adiós atau My Last Farewell. Puisi tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pada era perjuangan kemerdekaan dan, menurut Dubes Montero, turut dikenal di kalangan para pejuang muda Indonesia.
Bagi Dubes Montero, berbagai jejak tersebut memperlihatkan bahwa hubungan kedua bangsa tidak hanya terbentuk melalui hubungan diplomatik modern.
Masyarakat kita telah berinteraksi melintasi lautan selama beberapa generasi, dan kita terus menemukan kesamaan dalam tradisi, bahasa, makanan, musik, sastra, dan cara hidup,” katanya.
Sentro Rizal dan People-to-People Connection
Kesamaan tersebut menjadi dasar penting bagi pengembangan diplomasi budaya.
Menurut Dubes Montero, diplomasi budaya memberikan kesempatan untuk menghidupkan kembali berbagai koneksi historis tersebut. Dalam konteks ini, Sentro Rizal Jakarta memiliki posisi khusus sebagai ruang yang mempertemukan masyarakat kedua negara.
Sentro Rizal menjadi tempat bagi masyarakat Filipina di Indonesia untuk tetap terhubung dengan warisan budaya mereka. Di saat yang sama, masyarakat Indonesia dapat mengenal Filipina lebih dekat, sementara kedua komunitas memiliki kesempatan untuk belajar satu sama lain. Pendekatan tersebut membuat Sentro Rizal tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk menampilkan budaya Filipina, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun people-to-people connection.
Dubes Montero berharap re-dedikasi tersebut menjadi awal dari babak baru Sentro Rizal Jakarta dan terus mempertemukan masyarakat melalui budaya, pengetahuan, kreativitas, dan persahabatan.
Memperluas Program, Menjangkau Generasi Muda
Arah baru tersebut kemudian dijabarkan oleh Deputy Chief of Mission and Consul General Kedutaan Besar Filipina, Gonaranao B. Musor.
Musor menjelaskan bahwa Sentro Rizal Jakarta telah menyelenggarakan berbagai program yang mempertemukan masyarakat Filipina dan Indonesia. Program tersebut mencakup sejarah bersama kedua negara, pertukaran sastra, gastro-diplomacy, seni pertunjukan, musik, serta kegiatan yang melibatkan generasi muda. Pengalaman tersebut menjadi fondasi untuk membangun program yang lebih beragam ke depan.
Salah satu prioritasnya adalah program bahasa Filipina bagi pelajar muda, yang direncanakan mulai September 2026.
Program tersebut dinilai dapat menjadi sarana untuk membangun hubungan sejak usia muda sekaligus memberikan akses yang lebih dekat kepada generasi Indonesia terhadap bahasa dan budaya Filipina.
Selain bahasa, Sentro Rizal juga merencanakan festival otomotif Filipina pada November. Tema tersebut dipilih untuk memanfaatkan ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap dunia otomotif sebagai medium baru dalam memperkenalkan budaya Filipina. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa diplomasi budaya tidak harus selalu berlangsung melalui bentuk seni konvensional. Minat bersama masyarakat juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun koneksi antarnegara.
Dari Pertukaran Sastra ke Philippine Studies
Agenda yang disiapkan Sentro Rizal juga bergerak semakin jauh ke ranah akademik. Musor mengatakan Sentro Rizal Jakarta akan memperluas program pertukaran sastra dan memperkuat kemitraan akademik antara institusi Filipina dan Indonesia.
Yang lebih strategis, Sentro Rizal juga akan bekerja sama dengan universitas untuk menjajaki pembentukan Philippine Studies Program.
Program tersebut dapat membuka ruang bagi kajian yang lebih mendalam mengenai Filipina, tidak hanya dari perspektif budaya dan sejarah, tetapi juga masyarakat, bahasa, sastra, serta berbagai aspek kehidupan Filipina dalam konteks Asia Tenggara.
Jika terealisasi, pengembangan Philippine Studies juga dapat menjadi jembatan baru bagi mahasiswa, akademisi, dan peneliti Indonesia untuk memahami Filipina secara lebih komprehensif.
Budaya sebagai Jembatan Hubungan Indonesia–Filipina
Perkembangan Sentro Rizal Jakarta menunjukkan bagaimana diplomasi budaya dapat bergerak melampaui kegiatan seremonial.cBahasa, sastra, makanan, musik, otomotif, pendidikan, dan penelitian akademik menjadi berbagai pintu yang memungkinkan masyarakat kedua negara berinteraksi secara lebih intensif.
Karena itu, babak baru Sentro Rizal Jakarta bukan semata mengenai bagaimana Filipina memperkenalkan budayanya kepada Indonesia, tetapi juga bagaimana kedua masyarakat menemukan ruang untuk saling memahami dan berbagi pengetahuan. Dengan melibatkan pelajar, akademisi, profesional muda, diplomat, seniman, dan komunitas kedua negara, Sentro Rizal diharapkan berkembang menjadi ruang interaksi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Seperti disampaikan Dubes Montero, kekuatan hubungan Filipina dan Indonesia pada akhirnya tidak hanya berada pada hubungan antarpemerintah, tetapi juga pada hubungan antarmanusia yang dibangun melalui budaya, pengetahuan, kreativitas, dan persahabatan.




