(Business Lounge – Tech) Meta Platforms sedang menghadapi pertarungan antimonopoli besar-besaran dengan Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat, dan strategi pembelaannya mengandalkan argumen yang tak terduga: bahwa TikTok adalah pesaing kuat Facebook dan Instagram, bukan sekadar aplikasi hiburan remaja. Dalam sidang yang dapat menentukan masa depan struktur perusahaan Meta, raksasa teknologi itu berusaha meyakinkan pengadilan bahwa pasar media sosial sangat kompetitif—dan bahwa Meta bukanlah monopolis, seperti yang dituduhkan FTC.
Kasus ini bermula dari upaya FTC untuk memaksa Meta melepaskan kepemilikan atas dua akuisisi besar: Instagram yang dibeli pada 2012 dan WhatsApp yang diakuisisi dua tahun kemudian. Menurut FTC, akuisisi ini memperkuat dominasi Meta di pasar jejaring sosial, menciptakan hambatan besar bagi pesaing baru, dan membatasi inovasi. Namun, Meta punya satu senjata kunci: TikTok. Aplikasi milik ByteDance itu telah merebut perhatian generasi muda, mendorong Meta mengembangkan fitur serupa seperti Reels dan bahkan memicu penurunan waktu yang dihabiskan pengguna di Instagram dan Facebook.
Meta berargumen bahwa TikTok bukan hanya pesaing, tetapi telah menjadi kekuatan dominan di pasar hiburan digital, terutama dalam hal video pendek, monetisasi kreator, dan algoritma konten. Dalam dokumen pengadilan, Meta menyebutkan bahwa TikTok telah mengubah lanskap media sosial secara mendasar dan memaksa Meta untuk berinovasi lebih cepat. Jika pengadilan menerima argumen bahwa TikTok berada dalam “pasar yang sama” dengan produk Meta, maka klaim FTC bahwa Meta memonopoli pasar media sosial bisa kehilangan dasar hukumnya.
Namun FTC tidak tinggal diam. Mereka menegaskan bahwa pasar media sosial tidak bisa disamakan begitu saja dengan platform video hiburan. Menurut mereka, fokus Meta adalah pada jejaring sosial berbasis hubungan sosial dan pertukaran pribadi, sedangkan TikTok lebih mirip platform penyiaran publik berbasis minat. FTC juga menyoroti bahwa meskipun TikTok sangat populer, perusahaan seperti Meta masih mengendalikan sebagian besar data sosial, iklan yang dipersonalisasi, dan integrasi antarlayanan yang memperkuat dominasi mereka.
Para ahli hukum antimonopoli menyebut kasus ini sebagai ujian penting terhadap pendekatan FTC yang lebih agresif di bawah kepemimpinan Lina Khan. Khan dikenal karena pandangan bahwa platform teknologi besar harus diawasi lebih ketat karena potensi penyalahgunaan kekuasaan pasar. Namun pembuktian hukum atas definisi pasar dan dampak persaingan sering kali menjadi batu sandungan. Jika pengadilan memutuskan bahwa pasar yang dimaksud lebih luas dari sekadar jejaring sosial berbasis teks dan foto, maka upaya memecah Meta bisa kandas.
Dalam konteks global, argumen Meta juga mencerminkan dinamika yang terjadi di banyak negara. Di Eropa, regulator telah lama memperdebatkan apakah dominasi platform tertentu melanggar prinsip persaingan sehat, tetapi pendekatan mereka sering kali fokus pada perilaku antipersaingan—bukan sekadar ukuran perusahaan. Sementara itu, di Amerika Serikat, kasus ini akan menjadi preseden penting. Jika FTC gagal, maka perusahaan teknologi besar lain bisa menggunakan preseden ini untuk menghindari pembubaran atau pembatasan bisnis mereka, dengan mengandalkan klaim bahwa persaingan justru datang dari arah yang tak terduga—seperti dari aplikasi buatan Tiongkok.
Di sisi lain, beberapa analis melihat langkah Meta memanfaatkan TikTok dalam pembelaannya sebagai pedang bermata dua. Meta telah lama menjadi salah satu kritikus keras TikTok, terutama karena kekhawatiran akan data pengguna dan potensi pengaruh pemerintah Tiongkok. Namun sekarang, Meta justru “memuji” kekuatan TikTok di hadapan pengadilan demi menyelamatkan struktur perusahaannya. Ini menunjukkan betapa fleksibelnya strategi hukum korporasi besar ketika menghadapi tekanan regulasi yang serius.
Bagi pengguna, hasil dari kasus ini mungkin tidak akan langsung terasa. Tetapi dalam jangka panjang, keputusan pengadilan bisa menentukan apakah perusahaan seperti Meta boleh terus mengonsolidasikan kekuasaan digital mereka melalui akuisisi, atau apakah mereka harus membuka jalan bagi lebih banyak inovasi dan pesaing. Dengan begitu, pertarungan hukum ini tidak hanya soal Meta dan FTC, tetapi juga masa depan media sosial itu sendiri.

