(Business Lounge Journal – Event)
Seniman Indonesia Uji “Hahan” Handoko Eko Saputro kembali menghadirkan eksplorasi artistik terbarunya melalui pameran tunggal bertajuk Days That Slip Away Untouched di Gajah Gallery Jakarta. Pameran yang berlangsung mulai 2 hingga 31 Mei 2026 ini menampilkan rangkaian karya baru yang mengeksplorasi hubungan antara realitas fisik dan mediasi digital dalam kehidupan kontemporer.
Melalui medium lukisan, patung, hingga tata suara, Hahan mengajak pengunjung menelaah bagaimana persepsi dan makna dibentuk oleh lingkungan yang semakin dipenuhi sistem digital. Karyanya mempertanyakan bagaimana manusia saat ini memahami realitas, membedakan antara yang autentik dan yang dikonstruksi, sekaligus menyoroti bagaimana citra dan pengalaman terus diproduksi serta disebarkan dalam era algoritma.
Berbeda dengan budaya digital yang serba cepat dan instan, praktik artistik Hahan justru menekankan proses yang lambat dan keterlibatan material secara langsung. Banyak karya dalam pameran ini lahir melalui kolaborasi bersama kolektif seni Ace House Collective dan para artisan di studionya. Ia menyebut proses tersebut sebagai “aesthetic kinship”, yakni pendekatan berbasis kerja bersama, pertukaran gagasan, dan relasi kolektif dalam penciptaan karya.
Mengolah Ulang Sejarah dan Imaji Kolonial
Dalam sejumlah karya, Hahan melakukan apropriasi terhadap visual karya tokoh-tokoh seperti Raden Saleh, Walter Spies, dan Tomás Sánchez. Referensi tersebut digunakan untuk menelaah bagaimana pengetahuan, relasi kuasa, dan cara pandang terhadap “yang lain” dibentuk dalam konteks sejarah kolonial.
Lanskap-lanskap tenang dan indah dalam karya Hahan tidak hadir sebagai ruang yang sepenuhnya damai. Di dalamnya muncul figur-figur hibrida dengan proporsi tubuh yang terdistorsi: mata membesar, kepala menggelembung, mulut terbuka lebar, hingga tubuh yang melengkung aneh. Warna-warna mencolok pada figur tersebut menciptakan gangguan visual yang terasa seperti “glitch” di tengah suasana lanskap yang sunyi.
Salah satu elemen yang kembali muncul adalah sosok kucing liar—avatar personal Hahan—yang hadir sebagai simbol kebebasan sekaligus mekanisme pembelajaran mandiri. Kehadiran figur ini menjadi bentuk gangguan kecil terhadap sistem representasi dominan dan membuka kemungkinan cara pandang baru terhadap realitas.
Kritik terhadap Dunia yang Kehilangan Kedalaman
Pameran ini juga menyuarakan keresahan Hahan terhadap dunia digital yang dipenuhi “non-things”, di mana batas antara kenyataan, nilai, dan kebenaran semakin kabur akibat algoritma visibilitas. Dalam situasi tersebut, kedalaman proses berpikir maupun berkarya dinilai perlahan memudar.
Melalui Days That Slip Away Untouched, Hahan menawarkan semacam antidot terhadap kondisi itu: kembali terhubung dengan sejarah, cerita, pengalaman sehari-hari, dan alam. Judul pameran sendiri merefleksikan kesadaran tentang waktu yang sering berlalu tanpa perhatian penuh.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, Hahan menempatkan perhatian, proses, dan refleksi sebagai bentuk perlawanan terhadap kehilangan makna. Autentisitas, dalam pandangannya, bukan sesuatu yang tetap, melainkan terus dinegosiasikan dalam kehidupan modern.
Praktik Artistik yang Satir dan Interaktif
Lahir di Kebumen pada 1983, Hahan dikenal sebagai salah satu seniman kontemporer Indonesia yang konsisten menjembatani batas antara seni “tinggi” dan budaya populer. Karyanya sering mengeksplorasi ketegangan antara urbanisasi dan agraria, lokal dan global, sekaligus mengkritik mekanisme pasar seni kontemporer yang semakin komersial.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga semakin menekankan interaksi pengunjung dalam praktik seninya. Dengan bahasa visual yang penuh metafora dan humor satir, Hahan membahas isu nilai, waktu, produksi, konsumsi, hingga spekulasi dalam dunia seni global.
Selain berkarya secara individual, Hahan merupakan pendiri Ace House Collective, ruang kreatif independen di Yogyakarta yang berdiri sejak 2011. Kolektif ini dikenal aktif mendukung seniman muda melalui pameran, forum diskusi, dan kolaborasi lintas disiplin.
Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai institusi internasional, termasuk National Gallery of Australia, National Gallery of Victoria, serta Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art. Karyanya juga menjadi bagian dari koleksi sejumlah museum besar di Australia. Pameran Days That Slip Away Untouched terbuka untuk publik hingga 31 Mei 2026 di Gajah Gallery Jakarta.

