Bisnis Xiaomi Terganjal Di India

(Business Lounge – Business Insight)-Gegap gempita Xiaomi terganjal di tengah perjalanan menapak puncak kesuksesan. Pekan ini kehadiran Xiaomi  di India berbenturan dengan keputusan Pengadilan Tinggi Delhi yang mengeluarkan larangan sementara atas penjualan dan impor produk Xiaomi. Pengadilan tengah menunggu gugatan paten atas merek tersebut yang diajukan oleh Ericsson, pabrikan telekomunikasi Swedia yang mencurigai bahwa perusahaan Tiongkok itu mengadopsi teknologinya tanpa membayar royalti.

Sontak saja keputusan pengadilan ini membuat rencana bisnis Xiaomi di India terancam. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan.  Menurut data dari firma penelitian Counterpoint Research, produk-produk Xiaomi telah mengambil 1,5% pangsa pasar pada kuartal ketiga setelah mulai menjual produk di pasaran pada bulan Juli.

Seperti yang kita ketahui, Sejak tahun 2014, Xiaomi memutuskan untuk berekspansi ke Asia Tenggara dan India. Penjualan secara global diproyeksikan dapat mencapai 60 juta unit, naik dari 18,7 juta unit pada tahun 2013.

Perintah pengadilan di India mencerminka bahwa para produsen telepon seluler asal Tiongkok takkan mudah menguasai pasar dunia. Padahal, dipimpin oleh Xiaomi, setengah dari 10 vendor smartphone teratas dunia berasal dari Tiongkok, berdasarkan data dari Strategy Analytics. Namun, untuk menggapai kesuksesan di luar Tiongkok, perusahaan harus berhadapan dengan pelbagai hambatan seperti biaya paten, kekhawatiran pengguna atas celah kebocoran informasi, dan brand yang tidak dikenal dengan baik.

Seperti yang dikutip The Wall Street Journal, sengketa urusan paten adalah hal wajar di industri teknologi tinggi. “Situasi [yang kami hadapi] saat berurusan dengan paten sama dengan yang dihadapi [pemain] lain,” ujar Hugo Barra, wakil presiden Xiaomi global, pada bulan Oktober lalu. Sementara, Kwang Jun Kim, direktur hak kekayaan intelektual Samsung Display, mengatakan bahwa seiring dengan ekspansi perusahaan Tiongkok ke luar negeri, masalah yang harus dihadapi adalah gugatan hukum. “[Amerika Serikat] sejauh ini menjadi medan pertempuran urusan legal yang paling intens bagi firma teknologi dunia,” ujar Kim.

Saat ini sesungguhnya telah terjadi suatu pergeseran. Perang karena kualitas produk yang tidak memuaskan telah menjadi “perang siber antarnegara.”Beberapa waktu lalu, regulator Taiwan mulai mempelajari data yang dikumpulkan oleh produsen smartphone setelah muncul tudingan bahwa Xiaomi menggalang informasi tanpa sepengetahuan penggunanya. Kesimpulannya, 12 produsen smartphone patut dihukum.

Selain itu, pihak berwenang di Singapura dan India juga telah menelusuri apakah gawai Xiaomi aman. Agustus lalu, F-Secure, firma keamanan komputer asal Finlandia, menguji gawai Xiaomi dan menemukan bahwa unit itu yang mengirimkan data yang tidak terenkripsi kepada server di Beijing.

Lalu bagaimana kelanjutannya? Akankah Xiaomi bertahan di India? Sepertinya Xiaomi akan lebih bercahaya di Indonesia yang lebih leluasa memberi ruang bagi Xiaomi untuk berkembang.

 

 

Febe/Journalist/VMN/BL

Editor: Tania Tobing

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x