Tajikistan dan Turkmenistan Dukung Deklarasi Cholpon-Ata, AS Tekankan C5+1

(Business Lounge – News & Insight)

Tajikistan dan Turkmenistan mendukung Deklarasi Cholpon-Ata yang diadopsi dalam pertemuan informal para kepala negara Asia Tengah dan Azerbaijan di Cholpon-Ata, Kyrgyzstan, pada 31 Juli 2026. Deklarasi tersebut menegaskan komitmen negara-negara peserta untuk memperkuat persahabatan, hubungan bertetangga yang baik, rasa saling menghormati, kepercayaan, dan kerja sama regional.

Tajikistan Dorong Proyek Energi dan Transportasi

Dalam pernyataan yang diterima Vibiznews dan Business Lounge Journal, Tajikistan mengatakan Deklarasi Cholpon-Ata dapat memperkuat kepercayaan dan kerja sama praktis antara negara-negara Asia Tengah dan Azerbaijan.

Dushanbe menekankan bahwa kerja sama regional harus berlandaskan penghormatan terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, kesetaraan negara, prinsip nonintervensi, serta hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tajikistan mendorong peningkatan kerja sama dalam bidang transportasi dan logistik, energi, perdagangan, investasi, industri, digitalisasi, ketahanan pangan, serta keamanan regional.

Dalam sektor energi, Presiden Tajikistan Emomali Rahmon mengusulkan agar negara-negara di kawasan mempertimbangkan pembangunan fasilitas pengolahan minyak berskala besar di Asia Tengah dengan memperhatikan perkembangan pasar energi regional dan global. Tajikistan juga mendukung pengembangan koridor transportasi regional dan peningkatan konektivitas antara Asia Tengah dan kawasan lain. Pemerintah Tajikistan berharap komitmen dalam deklarasi diwujudkan melalui proyek bersama dan mekanisme kerja sama yang konkret serta saling menguntungkan.

Salah satu proyek energi regional yang sedang dikembangkan adalah CASA-1000. Proyek senilai US$1,2 miliar tersebut dirancang untuk menyalurkan hingga 1.300 megawatt surplus tenaga air dari Tajikistan dan Kyrgyzstan menuju Afghanistan dan Pakistan. Menurut Bank Dunia, pembangunan fasilitas di Tajikistan, Kyrgyzstan, dan Pakistan sebagian besar telah selesai, sementara bagian di Afghanistan ditargetkan rampung pada akhir 2027.

Dalam bidang transportasi, Lapis Lazuli Corridor menghubungkan Afghanistan dengan Turkmenistan, kemudian menyeberangi Caspian Sea menuju Azerbaijan, Georgia, dan Türkiye. Jalur tersebut memberikan akses menuju kawasan Caucasus dan Eropa.

Turkmenistan Siapkan Pertemuan Lanjutan di Avaza

Turkmenistan memandang format Asia Tengah–Azerbaijan sebagai landasan bagi pelaksanaan proyek investasi, energi, dan transportasi berskala besar. Kerja sama enam negara tersebut juga diharapkan meningkatkan perdagangan dan membentuk jaringan transportasi serta energi yang lebih terintegrasi antara Asia dan Eropa.

Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov mengatakan mekanisme kerja sama enam negara tersebut dapat semakin mendekatkan masyarakat dan negara-negara peserta sekaligus memperkuat hubungan persaudaraan.

Turkmenistan akan menjadi tuan rumah pertemuan konsultatif berikutnya di Avaza pada 8 Oktober 2026. Agenda yang disiapkan mencakup keamanan regional, hubungan politik dan diplomatik, perdagangan, energi, koridor transportasi dan logistik, perubahan iklim, pengelolaan sumber daya air, pemulihan Laut Aral, serta kerja sama budaya, pendidikan, dan ilmu pengetahuan.

Amerika Serikat Tekankan Peran C5+1

Amerika Serikat menanggapi perkembangan kerja sama Asia Tengah dengan menekankan pentingnya platform C5+1. Departemen Luar Negeri AS mengatakan mekanisme tersebut berperan dalam memperluas kerja sama di bidang energi, infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi.

C5+1 merupakan forum diplomatik yang dibentuk pada 2015 untuk mempertemukan Amerika Serikat dengan lima negara Asia Tengah, yaitu Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Platform ini bukan organisasi integrasi atau aliansi formal, melainkan mekanisme konsultasi bersama mengenai keamanan regional, perdagangan, energi, lingkungan, konektivitas, investasi, dan pengembangan mineral kritis.

Menurut Washington, kemitraan melalui C5+1 dapat membuat Amerika Serikat dan negara-negara mitranya lebih aman, kuat, dan sejahtera.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan Amerika Serikat melalui platform tersebut adalah menyelenggarakan pertemuan perdana C5+1 Critical Minerals Dialogue pada 8 Februari 2024. Pertemuan itu membahas kerja sama eksplorasi geologi serta peluang investasi dalam penambangan dan pengolahan mineral kritis dengan melibatkan kelima negara Asia Tengah.

Amerika Serikat juga menyatakan terbuka untuk melibatkan negara lain melalui platform C5+1 apabila negara tersebut berkomitmen mendukung keamanan dan stabilitas yang lebih luas di Asia Tengah.