Menopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan, tetapi bagi perempuan yang memiliki diabetes tipe 2 (T2D), masa transisi ini dapat menghadirkan tantangan tambahan. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa perempuan dengan diabetes tipe 2 lebih sering mengalami sejumlah gejala menopause, terutama masalah seksual, kekeringan vagina, gangguan tidur, serta keluhan pada saluran kemih. Beberapa gejala tersebut juga dapat dirasakan dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan tanpa diabetes.
Penelitian yang dilakukan di Ramathibodi Hospital, Bangkok, Thailand, melibatkan 599 perempuan berusia 40–70 tahun. Sebanyak 81 peserta atau 13,5 persen memiliki diabetes tipe 2. Para peneliti menggunakan beberapa instrumen untuk menilai gejala menopause, kualitas tidur, serta gejala pada sistem genitourinari. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang cukup jelas pada beberapa aspek kesehatan perempuan menopause dengan diabetes.
Masalah seksual dan kekeringan vagina lebih sering terjadi
Perempuan dengan T2D memiliki kemungkinan sekitar tiga kali lebih tinggi untuk mengalami masalah seksual dibandingkan perempuan tanpa diabetes. Risiko kekeringan vagina juga lebih tinggi, dengan odds ratio sebesar 1,82. Kondisi ini dapat membuat hubungan seksual terasa tidak nyaman dan pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup serta hubungan dengan pasangan.
Diabetes juga berkaitan dengan meningkatnya keluhan pada sistem genitourinari, termasuk gejala yang berhubungan dengan vagina dan saluran kemih. Dalam penelitian tersebut, perempuan dengan T2D menunjukkan tingkat keparahan gejala genitourinari yang lebih tinggi. Para peneliti menilai bahwa kondisi ini penting untuk diperhatikan karena keluhan tersebut sering kali dianggap sekadar bagian normal dari menopause, padahal diabetes dapat menjadi faktor yang ikut memperburuknya.
Gangguan tidur juga lebih banyak dialami
Tidur menjadi masalah lain yang menonjol. Perempuan dengan diabetes tipe 2 memiliki kemungkinan sekitar dua kali lebih tinggi untuk melaporkan gangguan tidur dibandingkan dengan perempuan tanpa diabetes. Dalam penelitian tersebut, gangguan tidur dilaporkan oleh 76,5 persen perempuan dengan T2D, dibandingkan dengan 61,6 persen pada kelompok tanpa diabetes.
Hubungan antara diabetes dan gejala menopause juga telah terlihat dalam penelitian sebelumnya. Studi pada perempuan pascamenopause dengan diabetes menemukan bahwa kontrol gula darah yang buruk, ditandai dengan HbA1c lebih dari 7 persen, berkaitan dengan tingkat keparahan gejala menopause yang lebih tinggi. Perempuan dengan kontrol gula darah yang lebih buruk memiliki skor gejala menopause total lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki kontrol gula darah lebih baik.
Mengapa diabetes dapat memperburuk menopause?
Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah perubahan hormon estrogen selama menopause. Penurunan estrogen dapat memengaruhi sensitivitas insulin dan metabolisme glukosa. Di sisi lain, diabetes dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah dan saraf serta meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan yang dapat memperburuk keluhan menopause.
Namun, penting untuk dipahami bahwa penelitian terbaru tersebut bersifat cross-sectional. Artinya, penelitian menunjukkan adanya hubungan antara diabetes tipe 2 dan gejala menopause, tetapi belum dapat membuktikan bahwa diabetes secara langsung menyebabkan gejala tersebut.
Jangan menunggu menopause untuk mulai memperbaiki gula darah
Jika Anda masih berada pada fase pramenopause atau perimenopause, justru inilah waktu yang baik untuk mulai memperkuat kesehatan metabolik. Penurunan estrogen selama transisi menopause dapat disertai perubahan distribusi lemak dan meningkatnya resistensi insulin. Namun, penelitian besar terbaru menunjukkan bahwa usia atau jenis menopause itu sendiri tidak terbukti sebagai penyebab independen diabetes; faktor seperti berat badan, tekanan darah, kolesterol, pola makan, dan aktivitas fisik jauh lebih dapat dimodifikasi.
Langkah pertama adalah mengetahui kondisi gula darah sebelum munculnya diabetes. Perempuan yang memasuki usia 40-an, terutama yang memiliki berat badan berlebih atau faktor risiko lain, sebaiknya mendiskusikan pemeriksaan gula darah dan HbA1c dengan dokter. Jika sudah ditemukan prediabetes, jangan menganggapnya sebagai vonis bahwa diabetes pasti akan terjadi. Pedoman diabetes 2026 menegaskan bahwa pengelolaan berat badan dapat membantu menunda perkembangan prediabetes menjadi diabetes tipe 2.
Apa yang bisa dilakukan sejak pramenopause?
Mulailah dari pola makan yang realistis dan dapat dipertahankan. Perbanyak sayuran, buah dalam porsi yang sesuai, biji-bijian utuh, makanan tinggi serat, ikan dan sumber protein rendah lemak. Kurangi minuman manis, makanan ultra-proses, serta makanan yang tinggi gula tambahan dan lemak jenuh. Pola makan sehat bukan hanya membantu mengendalikan gula darah, tetapi juga mendukung kesehatan jantung yang semakin penting pada masa menopause.
Aktivitas fisik juga menjadi investasi penting sebelum menopause. Targetkan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, seperti jalan cepat, dan tambahkan latihan kekuatan secara rutin. Aktivitas fisik membantu menjaga massa otot, berat badan, tekanan darah, gula darah, dan kesehatan jantung. Pedoman diabetes 2026 juga semakin menekankan pentingnya aktivitas fisik serta latihan penguatan otot dan tulang.
Jangan melupakan tidur. Gangguan tidur merupakan salah satu keluhan yang dapat muncul selama transisi menopause dan juga ditemukan lebih sering pada perempuan dengan diabetes. Karena itu, menjaga jadwal tidur yang teratur, menciptakan kamar yang nyaman, dan menangani hot flashes atau keluhan menopause yang mengganggu tidur dapat menjadi bagian dari strategi kesehatan secara keseluruhan. Perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan tidur juga merupakan faktor gaya hidup yang penting selama transisi menopause.
Bagaimana jika sudah memiliki diabetes sebelum menopause?
Bagi perempuan yang sudah didiagnosis diabetes tipe 2 sebelum menopause, masa perimenopause sebaiknya menjadi periode untuk lebih aktif memantau kondisi. Pemeriksaan HbA1c secara berkala sesuai anjuran dokter, pemantauan berat badan, tekanan darah dan kolesterol, serta evaluasi obat diabetes penting dilakukan. Perubahan pola tidur, aktivitas, nafsu makan, dan berat badan selama menopause dapat membuat pengelolaan diabetes terasa berbeda dari sebelumnya.
Jangan pula mengubah dosis obat diabetes sendiri hanya karena gula darah berubah. Jika terjadi peningkatan atau penurunan gula darah yang tidak biasa, konsultasikan dengan dokter agar terapi dapat disesuaikan dengan aman.
Bagaimana dengan terapi hormon menopause?
Terapi hormon dapat menjadi pilihan bagi sebagian perempuan untuk menangani gejala menopause yang mengganggu, tetapi bukan berarti semua perempuan dengan diabetes harus menggunakan hormon. Pemilihannya harus mempertimbangkan usia, waktu sejak menopause, gejala, faktor risiko kardiovaskular, riwayat kesehatan, serta kondisi individual. The Menopause Society mencatat bahwa terapi hormon dapat memiliki manfaat terhadap resistensi insulin dan risiko diabetes pada kelompok tertentu, tetapi keputusan terapi tetap harus dilakukan bersama tenaga kesehatan.
Intinya, pramenopause bukan sekadar masa menunggu datangnya menopause. Ini merupakan kesempatan untuk membangun fondasi kesehatan yang lebih kuat. Menjaga berat badan, aktif bergerak, mengonsumsi makanan bergizi, tidur cukup, memeriksa gula darah, dan menangani diabetes secara teratur dapat membantu perempuan memasuki menopause dengan kondisi metabolik yang lebih baik. Dengan begitu, perubahan hormon tidak perlu dihadapi sendirian, tetapi menjadi bagian dari perjalanan kesehatan yang bisa dipersiapkan sejak dini.
Karena itu, perempuan dengan diabetes yang memasuki masa menopause sebaiknya tidak menganggap gangguan tidur, kekeringan vagina, masalah seksual, atau keluhan saluran kemih sebagai sesuatu yang harus ditahan begitu saja. Pengendalian gula darah yang baik, pola makan sehat, aktivitas fisik, tidur cukup, serta konsultasi dengan dokter dapat membantu menangani kedua kondisi secara lebih menyeluruh. Menopause dan diabetes bukan dua masalah yang harus ditangani secara terpisah, melainkan kondisi yang perlu diperhatikan bersama demi menjaga kualitas hidup perempuan di usia paruh baya.

