(Business Lounge Journal – Foreign Insight)
Ekuador memandang Indonesia sebagai mitra strategis penting di kawasan Asia Tenggara, terutama setelah hubungan diplomatik kedua negara terjalin sejak 29 April 1980. Dalam wawancara dengan Business Lounge Journal, Duta Besar Ekuador untuk Indonesia, H.E Luis Arellano Jibaja, menyampaikan bahwa Indonesia dipandang bukan hanya sebagai pasar besar, tetapi juga sebagai mitra dengan kepentingan bersama dalam isu kawasan Pasifik, keamanan maritim, perdagangan, dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Hubungan Indonesia dan Ekuador telah berkembang melalui berbagai jalur diplomatik sejak 1980. Ekuador membuka kedutaan besarnya di Jakarta pada 2004, sementara Indonesia membuka Kedutaan Besar RI di Quito pada 11 November 2010. Hubungan tersebut kemudian semakin terlihat melalui sejumlah kunjungan tingkat tinggi dan kerja sama sektoral. Pada 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan ke Quito dan bertemu dengan Presiden Rafael Correa, dengan pembahasan kerja sama di bidang energi, pertanian, kehutanan, telekomunikasi, serta penanganan kejahatan transnasional.

Dalam wawancara tersebut, duta besar Ekuador menyampaikan bahwa setelah 46 tahun hubungan diplomatik, Ekuador kini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pintu masuk penting untuk memperluas hubungan dagang dengan negara-negara yang ada di kawasan ASEAN. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis karena skala ekonominya yang besar, letak geografisnya, serta perannya yang semakin penting dalam kerja sama kawasan Indo-Pasifik.
Dari sisi perdagangan, hubungan kedua negara menunjukkan ruang pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan data perdagangan pada tahun 2024, ekspor Ekuador ke Indonesia mencapai sekitar US$442,11 juta, sementara impor Ekuador dari Indonesia tercatat sekitar US$135,08 juta. Dengan demikian, arus perdagangan dua arah kedua negara berada di kisaran US$577 juta. Komoditas kakao menjadi tulang punggung utama ekspor Ekuador ke Indonesia, dengan nilai sekitar US$436,86 juta pada 2024. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Ekuador mencakup antara lain kendaraan, layar video, dan alas kaki.
Arellano menjelaskan bahwa kerja sama kedua negara saat ini berfokus pada penguatan perdagangan bilateral, investasi, pendidikan, kebudayaan, serta manajemen risiko bencana. Ia juga menyebut bahwa pada awal 2026, kedua negara kembali menegaskan komitmen untuk memperdalam hubungan di bidang politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya.
Salah satu agenda penting yang disampaikan Arellano dalam wawancara tersebut adalah pertemuan ketiga dari Kelompok Kerja Perdagangan dan Investasi Indonesia–Ekuador yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026 di Ekuador. Pertemuan ini diharapkan menjadi kelanjutan dari upaya kedua negara untuk memperkuat perdagangan dan investasi, sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku usaha Indonesia dan Ekuador. Forum ini juga dapat menjadi ruang pembahasan teknis mengenai hambatan tarif, standar produk, prosedur kepabeanan, sertifikasi, dan biaya logistik.
Dalam sektor perdagangan, Arellano melihat potensi besar pada pengembangan supply chain untuk produk-produk unggulan seperti kakao, pisang, dan udang. Kakao Ekuador memiliki posisi penting dalam perdagangan global dan sudah menjadi komoditas utama dalam hubungan dagang dengan Indonesia. Pisang juga merupakan salah satu produk ekspor paling dikenal dari Ekuador; negara tersebut dikenal sebagai salah satu eksportir pisang terbesar di dunia. Sementara itu, udang menjadi salah satu kekuatan ekspor nonmigas Ekuador, dengan nilai ekspor yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Produk-produk tersebut juga relevan dengan kebutuhan penguatan ketahanan pangan serta diversifikasi perdagangan antara Amerika Latin dan Asia Tenggara. Bagi Indonesia, kerja sama ini dapat membuka peluang dalam pasokan bahan baku pangan dan agroindustri. Bagi Ekuador, Indonesia dapat menjadi pasar besar sekaligus pintu menuju konsumen ASEAN.
Selain perdagangan, Arellano juga menyoroti peluang kerja sama dalam pengelolaan keanekaragaman hayati. Ekuador memiliki pengalaman melalui Kepulauan Galápagos, sementara Indonesia memiliki kawasan konservasi penting seperti Taman Nasional Komodo. Pertukaran pengalaman dalam pengelolaan taman nasional, konservasi laut, dan pariwisata berkelanjutan menjadi salah satu bidang yang dinilai penting untuk dikembangkan.

Kedua negara sama-sama memiliki kekayaan biodiversitas yang besar. Ekuador dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia meski memiliki wilayah yang relatif kecil, sementara Indonesia merupakan negara kepulauan besar dengan ekosistem tropis, laut, hutan, dan spesies endemik yang sangat beragam. Kesamaan ini membuat kerja sama konservasi dan pengelolaan kawasan alam menjadi semakin relevan bagi kedua negara.
Di bidang diplomasi, Arellano menyampaikan bahwa kedua negara juga tengah mendorong penguatan kapasitas melalui rencana penandatanganan nota kesepahaman terkait peningkatan kapasitas diplomatik antara kementerian luar negeri kedua negara. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat hubungan kelembagaan dan memperluas kerja sama jangka panjang.

Untuk memperkuat hubungan dagang, Arellano menilai diperlukan langkah-langkah praktis seperti pembentukan kerangka perdagangan, penyederhanaan prosedur kepabeanan, serta pengurangan biaya logistik. Hambatan tarif, standar teknis, dan jarak geografis masih menjadi tantangan yang perlu diatasi agar perdagangan antara kedua negara dapat tumbuh lebih kuat.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan promosi dagang melalui pertemuan bisnis, misi perdagangan, serta penguatan peran kantor promosi perdagangan. Sektor yang dinilai memiliki potensi antara lain pertanian, perikanan, pertambangan, energi, dan produk pangan.
Dengan posisi Indonesia di ASEAN dan posisi Ekuador di Amerika Latin, kedua negara memiliki peluang untuk menjadi penghubung antarwilayah. Jika kerja sama ini diperkuat secara konkret, hubungan Indonesia–Ekuador dapat berkembang tidak hanya sebagai hubungan bilateral, tetapi juga sebagai jembatan ekonomi antara Asia Tenggara dan Amerika Latin.

