Air India Bertaruh pada Pemimpin Ethiopian Airlines untuk Memimpin Transformasi Besar

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Ketika sebuah perusahaan menghadapi krisis yang kompleks, pergantian CEO sering kali menjadi simbol dimulainya babak baru. Namun bagi Air India, keputusan menunjuk mantan CEO Ethiopian Airlines, Tewolde Gebremariam, bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ini merupakan taruhan besar bahwa pengalaman membangun maskapai kelas dunia dapat diterjemahkan menjadi keberhasilan membangkitkan salah satu maskapai paling bersejarah di Asia.

Maskapai yang kini dimiliki oleh Tata Group bersama Singapore Airlines tersebut tengah menghadapi tekanan besar mulai dari kerugian finansial, sorotan regulator terhadap keselamatan penerbangan, hingga tantangan operasional akibat konflik geopolitik. Dalam kondisi seperti ini, Air India membutuhkan lebih dari sekadar administrator; perusahaan membutuhkan seorang turnaround leader yang telah terbukti mampu membawa organisasi melewati masa-masa paling sulit.

Dari Membangun Ethiopian Airlines Menuju Menyelamatkan Air India

Nama Tewolde bukanlah sosok asing di industri penerbangan global. Selama lebih dari satu dekade memimpin Ethiopian Airlines, ia berhasil mengubah maskapai tersebut menjadi grup penerbangan terbesar di Afrika.

Di bawah kepemimpinannya, pendapatan Ethiopian Airlines meningkat lebih dari empat kali lipat, armada pesawat hampir tiga kali lebih besar, sementara jaringan internasional berkembang secara agresif. Bahkan ketika industri penerbangan terpukul oleh pandemi COVID-19, Ethiopian Airlines mampu bertahan tanpa bailout pemerintah dengan cepat mengalihkan kapasitasnya ke bisnis kargo yang saat itu mengalami lonjakan permintaan.

Kemampuan tersebut diuji kembali setelah kecelakaan Boeing 737 MAX pada 2019 yang menewaskan 157 orang. Saat banyak maskapai menghadapi krisis kepercayaan, Tewolde dikenal karena pendekatannya yang transparan, cepat, dan berorientasi pada pemulihan jangka panjang.

Rekam jejak inilah yang menjadi alasan utama Tata Group mempercayakan transformasi Air India kepadanya. Namun tantangan yang menunggu jauh dari mudah.

Air India baru saja mencatat kerugian lebih dari US$2 miliar pada tahun fiskal 2025–2026. Di saat yang sama, maskapai tersebut masih berupaya memulihkan reputasi pasca kecelakaan fatal tahun 2025 yang menewaskan 260 orang, sambil menghadapi keterlambatan modernisasi armada, kenaikan biaya operasional, dan pembatasan rute akibat penutupan wilayah udara Pakistan.

Turnaround Dimulai dari Kepemimpinan, Bukan Armada

Sering kali transformasi perusahaan diasosiasikan dengan investasi teknologi atau pembelian aset baru. Namun pengalaman Air India menunjukkan bahwa perubahan terbesar justru dimulai dari kepemimpinan.

Sejak diakuisisi Tata Group pada 2022, Air India telah melakukan berbagai langkah besar, mulai dari rebranding, merger dengan Vistara, hingga pemesanan lebih dari 500 pesawat baru. Meski demikian, hasil finansial belum mengikuti besarnya investasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi organisasi bukan hanya soal strategi ekspansi, tetapi juga soal eksekusi, budaya kerja, disiplin operasional, dan konsistensi dalam menjalankan perubahan.

Tewolde dikenal sebagai pemimpin yang memberi ruang profesional bagi para manajer untuk mengambil keputusan berdasarkan data, sekaligus menjaga organisasi tetap fokus pada keselamatan dan efisiensi operasional. Pendekatan seperti ini menjadi semakin penting ketika perusahaan menghadapi tekanan regulator dan ekspektasi publik yang tinggi.

Bagi Air India, prioritas kini bukan lagi sekadar bertumbuh, melainkan memastikan bahwa fondasi organisasi cukup kuat untuk menopang pertumbuhan tersebut.

Mengapa Perusahaan Sering Merekrut Pemimpin dari Luar Industri Domestik?

Penunjukan Tewolde juga memperlihatkan tren yang semakin sering terjadi dalam dunia bisnis global: perusahaan memilih pemimpin berdasarkan rekam jejak transformasi, bukan asal negara.

Dalam situasi krisis, dewan direksi biasanya mencari seseorang yang pernah menghadapi tantangan serupa dan berhasil melewatinya. Pengalaman praktis sering kali lebih bernilai dibanding pemahaman terhadap budaya organisasi yang telah lama ada.

Langkah Tata Group ini juga menunjukkan bahwa turnaround bukan proyek jangka pendek. Chairman Tata Sons, N. Chandrasekaran, bahkan memperkirakan pemulihan penuh Air India dapat memerlukan waktu hingga satu dekade. Artinya, keberhasilan CEO baru tidak akan diukur dari perubahan dalam beberapa kuartal, melainkan dari kemampuannya membangun organisasi yang lebih aman, lebih efisien, dan kembali dipercaya pelanggan dalam jangka panjang.

Bagi para pemimpin bisnis, kasus Air India menjadi pengingat bahwa ketika organisasi menghadapi krisis multidimensi, investasi paling penting bukan selalu pada aset atau teknologi baru, melainkan pada pemimpin yang telah membuktikan mampu membawa perubahan nyata.