Moving Lines: Peta Baru Seni Asia Tenggara di Art Basel Hong Kong 2026

(Business Lounge Journal – Art & Culture)

Galeri seni asal Singapura, Gajah Gallery, kembali berpartisipasi dalam ajang seni internasional bergengsi Art Basel Hong Kong pada tahun 2026. Dalam edisi tahun ini, galeri tersebut menghadirkan sebuah presentasi bertajuk “Moving Lines: Cartographies of Southeast Asia”, yang menampilkan karya dari 18 seniman kontemporer dari berbagai negara di Asia Tenggara.

Pameran ini menghadirkan beragam medium—mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi—yang menggambarkan dinamika kawasan Asia Tenggara sebagai ruang yang terus bergerak, bereksperimen, dan mengalami transformasi budaya. Melalui pendekatan lintas generasi, karya-karya yang ditampilkan mencerminkan bagaimana sejarah, identitas, serta perubahan sosial membentuk praktik seni kontemporer di kawasan ini.

Beberapa karya baru bahkan melakukan debutnya dalam pameran ini. Di antaranya adalah sejumlah patung perunggu yang diproduksi melalui kolaborasi dengan Yogya Art Lab. Karya-karya tersebut termasuk “Vault” karya Mark Justiniani, “Teko II (Teapot II)” karya Yunizar, “The Time Walker” karya Charlie Co, serta karya debut patung perunggu “Future Relic: Vakrasana” dari Jemana Murti.

Pameran ini juga menghadirkan karya terbaru dari sejumlah seniman terkemuka di kawasan. Salah satunya adalah Benedicto Cabrera, yang dikenal luas sebagai salah satu seniman nasional Filipina, serta keramik kontemporer karya seniman Indonesia Dzikra Afifah.

BenCab _Three Muses_2025_Bronze _70 x 60 x 45 cm 86.76 kg_

Suzan Victor -Still Life at Large – Ed 3

Sementara itu, seniman asal Singapura Suzann Victor menampilkan rangkaian patung aluminium yang mengangkat simbol keseharian—terong—sebagai refleksi tentang bagaimana objek sehari-hari dapat mengalami politisasi. Seri ini melanjutkan eksplorasi artistiknya dari karya penting “Still Life” yang saat ini dipamerkan di National Gallery Singapore.

Di pusat presentasi ini terdapat kumpulan praktik artistik yang merefleksikan “peta” baru Asia Tenggara yang terus berkembang. Seniman seperti Rodel Tapaya, Leslie de Chavez, Rudi Mantofani, Mangu Putra, dan Arin Dwihartanto Sunaryo mengeksplorasi memori nasional dan sejarah melalui bahasa visual yang menjembatani estetika klasik dan pendekatan kontemporer.

Di sisi lain, karya-karya figuratif yang khas dari I Gusti Ayu Kadek Murniasih menghadirkan interpretasi baru atas tradisi lukisan Bali. Melalui warna-warna kuat dan narasi visual yang berani, karyanya menempatkan tubuh perempuan sebagai ruang ekspresi, agensi, dan refleksi diri.

Presentasi ini juga menampilkan eksplorasi budaya populer dan masa depan spekulatif melalui karya-karya Uji ‘Hahan’ Handoko Eko Saputro, Rosit Mulyadi, serta Kayleigh Goh. Karya-karya mereka memadukan referensi pop culture, dunia digital, serta elemen arsitektural untuk menggambarkan ketegangan antara tradisi dan masa depan yang terus berubah.

Sementara itu, dua pelukis—Erizal As dan Ridho Rizki—menampilkan pendekatan berbeda terhadap bentuk dan persepsi visual. Erizal mengeksplorasi abstraksi gestural yang sarat emosi dan energi material, sementara Ridho menghadirkan permainan optik yang menantang cara penonton memandang ruang dan bentuk.

Salah satu sorotan penting dalam partisipasi Gajah Gallery tahun ini adalah instalasi kinetik monumental “City Lantern” karya Suzann Victor yang ditampilkan dalam sektor Encounters—bagian khusus dalam Art Basel Hong Kong yang menampilkan instalasi berskala besar, patung monumental, serta pertunjukan artistik. Didukung oleh National Arts Council Singapore, instalasi ini mengubah ruang pamer menjadi lingkungan imersif yang mengajak pengunjung merefleksikan sejarah visibilitas dan invisibilitas, serta warisan citra kolonial dalam budaya visual.

Erizal As Untitled 2025 Oil and Acrylic on Canvas 180 x 140 cm | ramed: 190 x 150 x 8 cm

Kayleigh Goh, Inflorescence, 2026, Gesso, Cement, Acrylic Paint, Charcoal Powder on Wood, 145 x 90 x 3 cm

Dalam konteks global yang lebih luas, “Moving Lines: Cartographies of Southeast Asia” menawarkan pembacaan baru tentang Asia Tenggara sebagai wilayah yang kaya eksperimen artistik dan pemikiran kritis. Presentasi ini menggambarkan kawasan tersebut layaknya sebuah “monsun konseptual”—dinamis, tidak terduga, dan sarat kompleksitas mengenai apa yang pernah terjadi, sedang berlangsung, dan mungkin akan muncul di masa depan.

Pengunjung dapat menyaksikan presentasi Gajah Gallery di Booth 1B39 serta instalasi khusus di Booth EN12 dalam ajang Art Basel Hong Kong 2026 yang berlangsung pada 27–29 Maret 2026 di Hong Kong Convention and Exhibition Centre. Pameran ini menjadi salah satu upaya penting untuk menempatkan seni Asia Tenggara dalam percakapan global seni kontemporer.