(Business Lounge Journal – Art)
Di tengah dinamika seni kontemporer Indonesia yang semakin reflektif terhadap identitas, medium, dan narasi, Dini Nur Aghnia menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam membaca lanskap. Melalui pameran tunggal bertajuk What Gathers, What Holds, yang digelar di Gajah Gallery Yogyakarta pada 25 April hingga 24 Mei 2026, ia mengajak publik melihat lanskap bukan sebagai objek visual semata, tetapi sebagai hasil relasi yang terus terbentuk.
Pameran ini hadir berdekatan dengan momentum Hari Kartini, sebuah konteks yang secara subtil memperkuat pembacaan atas praktik Aghnia—terutama dalam kaitannya dengan kerja, material, dan ekspresi perempuan. Alih-alih menggunakan pendekatan lukisan lanskap konvensional, Aghnia memilih jalur eksplorasi material: tanah liat, resin, dan tekstil patchwork menjadi medium utama yang membentuk komposisi berlapis.
Pendekatan ini menandai pergeseran penting. Lanskap tidak lagi diposisikan sebagai panorama utuh yang dapat “ditangkap” dari kejauhan, melainkan sebagai fragmen-fragmen yang saling terhubung. Dalam karya-karyanya, elemen-elemen kecil disusun dengan presisi hampir seperti piksel—menciptakan ilusi bentuk seperti gunung, laut, atau hutan ketika dilihat dari jauh, namun terurai menjadi bagian-bagian independen saat diamati dari dekat.
Di sinilah Aghnia menghadirkan kritik halus terhadap tradisi lanskap dalam sejarah seni Indonesia, khususnya gaya Mooi Indie yang kerap merepresentasikan alam secara estetis melalui perspektif kolonial. Berbeda dengan itu, lanskap dalam karya Aghnia tidak berada di luar subjek, melainkan lahir dari hubungan antara tubuh, ingatan, material, dan pengalaman hidup.
Material yang digunakan juga membawa lapisan makna tersendiri. Teknik menjahit dan patchwork—yang selama ini identik dengan kerja domestik dan perempuan—ditransformasikan menjadi bahasa artistik. Proses ini bukan sekadar teknik, tetapi juga bentuk artikulasi: tentang repetisi, ketelatenan, dan keberlanjutan. Setiap jahitan menjadi penanda waktu, setiap lapisan menjadi rekaman pengalaman.
Judul What Gathers, What Holds sendiri merefleksikan proses mengumpulkan dan mempertahankan fragmen-fragmen tersebut. Objek-objek kecil yang terbungkus resin, serta potongan tekstil yang disusun ulang, menciptakan ruang di mana ingatan tidak disajikan secara linear, melainkan mengendap dan terakumulasi. Dalam konteks ini, “menahan” bukan hanya tindakan fisik, tetapi juga cara memahami hal-hal yang kerap luput dari perhatian.
Lebih jauh, karya-karya ini mengaburkan batas antara representasi dan pengalaman. Lanskap tidak lagi sekadar digambarkan, tetapi “terjadi” melalui interaksi antara karya dan pengamat. Pendekatan ini menempatkan praktik Aghnia dalam diskursus seni kontemporer yang lebih luas—khususnya terkait materialitas relasional dan eksplorasi pengalaman subjektif.
Dengan demikian, pameran ini tidak hanya menjadi presentasi karya visual, tetapi juga ruang refleksi tentang bagaimana kita melihat, mengingat, dan membangun hubungan dengan lingkungan. Dalam konteks seni Asia Tenggara yang terus berkembang, kontribusi Aghnia membuka kemungkinan baru—bahwa lanskap bukan sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang terus dikumpulkan, dirawat, dan dibentuk ulang.



