Corporate bonds

Obligasi Korporasi Menarik, Asal Jangan Terlalu Dicermati

(Business Lounge – Finance) Investor yang tergoda untuk memburu imbal hasil obligasi korporasi yang terus meningkat mungkin sedang mengambil risiko yang tidak sepenuhnya mereka sadari.Indeks obligasi perusahaan-perusahaan terbesar dan paling layak kredit di Amerika Serikat mencatat imbal hasil sebesar 5,3% pada pekan lalu, level tertinggi dalam sekitar satu tahun berdasarkan data ICE BofA. Dengan tingkat inflasi tersirat jangka panjang 10 tahun berada di kisaran 2,4%, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa obligasi korporasi berkualitas tinggi berpotensi memberikan imbal hasil riil—setelah disesuaikan dengan inflasi—mendekati 3% per tahun selama dekade mendatang.

Angka tersebut tentu sangat menggoda. Namun ada cara lain untuk melihat tingkat imbal hasil tersebut, yakni dengan mengukur seberapa besar kompensasi yang diterima investor atas risiko tambahan yang melekat pada kredit korporasi dibandingkan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Saat ini, kompensasi yang diterima investor untuk menanggung risiko tambahan tersebut berada di level terendah dalam satu generasi terakhir. Selisih imbal hasil atau spread antara obligasi korporasi dan Treasury terus menyempit seiring melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah. Menurut indeks ICE BofA, spread tersebut kini berada di dekat level terendah sejak dekade 1990-an.

Situasi ini bukan tanpa alasan. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat terus bermunculan, sementara perusahaan-perusahaan besar AS baru saja melaporkan pertumbuhan laba terkuat dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan terdapat sejumlah penerbit obligasi korporasi yang memiliki peringkat kredit setara atau lebih tinggi dibanding pemerintah AS. Microsoft, misalnya, masih menyandang peringkat AAA, sedangkan pemerintah Amerika berada satu tingkat di bawahnya.

Namun, meskipun kondisi tersebut tidak dapat dianggap tidak masuk akal, bukan berarti situasinya akan bertahan selamanya. Ada sejumlah alasan yang membuat obligasi korporasi kemungkinan tidak seharusnya diperdagangkan dengan spread yang begitu sempit terhadap Treasury. Pada tingkat spread yang sangat rendah seperti saat ini, perubahan harga yang relatif kecil saja dapat memberikan dampak yang besar.

Nathaniel Rosenbaum, Kepala Strategi Kredit Berkualitas Tinggi AS di JPMorgan Chase, bersama rekan-rekannya, dalam sebuah catatan riset terbaru menyatakan bahwa spread kemungkinan sudah berada di ambang memasuki wilayah yang terlalu mahal (overshoot territory).

Salah satu risiko berasal dari prospek keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Penerbitan obligasi korporasi berperingkat tinggi di Amerika Serikat memang melambat sepanjang Mei, sebagian karena lonjakan imbal hasil telah meningkatkan biaya pinjaman. Namun para analis tetap memperkirakan akan terjadi gelombang penerbitan obligasi baru yang didorong oleh kebutuhan pendanaan proyek-proyek kecerdasan buatan (AI) serta kebangkitan kembali aktivitas merger dan akuisisi. Strategi kredit Goldman Sachs bahkan memperkirakan penerbitan obligasi investasi-grade di AS pada 2026 akan melampaui US$2 triliun.

Jika penerbitan tambahan tersebut mendorong spread menjadi lebih lebar, peningkatan spread itu dapat menarik minat investor baru sehingga kenaikan imbal hasil tidak berlangsung terlalu tajam. Namun bertambahnya jumlah emiten teknologi juga berarti bertambahnya risiko kredit di pasar obligasi.Secara historis, banyak perusahaan besar yang membangun infrastruktur kecerdasan buatan merupakan perusahaan dengan tingkat utang rendah dan cadangan kas yang sangat besar. Akan tetapi, kondisi tersebut mulai berubah.

Menurut perhitungan Lotfi Karoui, ahli strategi kredit multi-aset di Pimco, spread imbal hasil pada indeks utang perusahaan hyperscaler berperingkat investasi telah melebar dibandingkan pasar obligasi investasi-grade secara keseluruhan sejak awal tahun.Karoui menilai bahwa pasar kini menuntut kompensasi yang lebih tinggi terhadap risiko apabila dorongan peningkatan penggunaan utang (releveraging) tersebut menjadi semakin agresif.

Pertimbangan lain adalah kemungkinan perusahaan mulai lebih banyak menerbitkan obligasi jangka panjang. Meski kenaikan imbal hasil Treasury tenor 30 tahun sejak akhir April cukup mencolok, kenaikannya hanya sekitar setengah dari lonjakan yang terjadi pada Treasury tenor lima tahun. Karena itu, perusahaan dapat melihat adanya nilai lebih dalam menerbitkan utang dengan jatuh tempo yang lebih panjang.

Namun semakin panjang tenor obligasi, semakin lama pula investor terikat pada tingkat kupon tetap yang ditawarkan. Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi yang harus ditanggung investor. Jika harga konsumen terus naik seperti yang terjadi belakangan ini akibat lonjakan harga minyak, spread obligasi korporasi berpotensi melebar lebih cepat.

Bagi investor yang merasa imbal hasil di atas 5% sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pendapatan jangka panjang, menambah kepemilikan obligasi pada level saat ini mungkin tetap menjadi pilihan yang masuk akal. Namun bagi mereka yang membeli obligasi dengan harapan aset tersebut akan mengalami kenaikan nilai ketika pasar saham melemah, membeli obligasi yang saat ini diperdagangkan pada valuasi yang nyaris sempurna mungkin bukan langkah yang tepat.

Di Indonesia, kondisi pasar obligasi korporasi memang berbeda dengan Amerika Serikat. Jika di AS kekhawatirannya adalah spread atau selisih imbal hasil terhadap obligasi pemerintah yang sudah sangat sempit, di Indonesia spread obligasi korporasi terhadap Surat Berharga Negara (SBN) masih relatif lebih lebar. Artinya, investor masih memperoleh kompensasi yang cukup menarik untuk menanggung risiko tambahan dari obligasi perusahaan.

Namun, investor tetap perlu berhati-hati karena risiko utama di Indonesia bukan hanya pergerakan suku bunga, melainkan juga kualitas kredit emiten dan likuiditas pasar. Tidak semua obligasi korporasi diperdagangkan secara aktif, sehingga investor yang ingin menjual sebelum jatuh tempo bisa menghadapi kesulitan mendapatkan harga yang optimal. Karena itu, pemilihan perusahaan penerbit menjadi faktor yang sangat penting.

Bagi investor yang mencari pendapatan tetap, obligasi korporasi berperingkat tinggi masih menawarkan peluang menarik di tengah tingkat suku bunga yang relatif tinggi. Meski demikian, seperti yang terjadi di pasar AS, investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada besarnya kupon, tetapi juga mempertimbangkan apakah imbal hasil yang diperoleh benar-benar sebanding dengan risiko yang ditanggung.