AI

AI Ternyata Tetap Membutuhkan Konsultan Manajemen

(Business Lounge – General Management) Kecerdasan buatan pada awalnya diperkirakan akan menggantikan peran para konsultan. Namun kenyataannya, teknologi ini justru memberi dorongan baru bagi industri konsultasi—setidaknya untuk sementara waktu.

Perusahaan-perusahaan pengembang AI terbesar kini justru menggandeng firma konsultan global untuk menyelesaikan satu persoalan utama: banyak perusahaan belum memanfaatkan AI secara maksimal. Padahal, potensi keuntungan terbesar dari teknologi ini muncul ketika AI benar-benar terintegrasi dalam operasi bisnis sehari-hari.

Survei yang dilakukan oleh McKinsey & Company pada musim panas lalu terhadap hampir 2.000 karyawan menunjukkan sekitar dua pertiga responden mengatakan organisasi mereka belum mulai menerapkan AI secara luas di seluruh perusahaan. Sementara itu, lebih dari separuh dari hampir 4.500 CEO yang disurvei oleh PricewaterhouseCoopers pada akhir tahun lalu menyatakan bahwa mereka belum merasakan manfaat finansial yang signifikan dari penggunaan AI hingga saat ini.

Dalam upaya mendorong adopsi teknologi mereka, perusahaan AI seperti OpenAI dan Anthropic mulai menjalin kemitraan dengan berbagai firma konsultan. Dalam kerja sama yang dilakukan dengan McKinsey & Company, Boston Consulting Group, Accenture, dan Capgemini, tim teknisi OpenAI akan bekerja berdampingan dengan para konsultan dari perusahaan-perusahaan tersebut. Sementara itu, Anthropic tahun lalu mengumumkan kerja sama dengan Deloitte untuk mengembangkan solusi industri berbasis AI, selain juga menjalin kemitraan dengan beberapa firma lain.

Bill Achtmeyer, ketua di Acropolis Advisors yang sebelumnya menjual firma konsultasi strategi Parthenon kepada Ernst & Young pada 2014, mengatakan hampir semua firma kini berusaha mengaitkan diri dengan salah satu pemain AI besar sambil mencari tahu mitra mana yang paling tepat bagi mereka.

Platform Frontier milik OpenAI dirancang untuk membantu perusahaan membangun, menerapkan, dan mengelola agen AI. Perusahaan ini memiliki sekitar 70 insinyur yang disebut sebagai forward-deployed engineers, yang bekerja langsung dengan perusahaan klien untuk menyesuaikan penggunaan platform tersebut sesuai kebutuhan spesifik mereka. Dalam kerja sama baru ini, perusahaan konsultan akan membantu bisnis merumuskan strategi, mengintegrasikan sistem AI, serta merancang ulang alur kerja mereka agar selaras dengan teknologi tersebut.

Sebagai contoh, Colin Jarvis, kepala global tim forward-deployed engineering di OpenAI, menunjuk sebuah bank besar di Eropa di mana OpenAI bekerja sama dengan salah satu firma konsultan. Tim tersebut mengevaluasi delapan kemungkinan penggunaan Frontier, termasuk fungsi terkait risiko kredit dan kemampuan berbasis suara.

Kemitraan antara perusahaan AI dan firma konsultan bertujuan menjembatani kesenjangan antara potensi AI yang sebenarnya dengan cara teknologi itu digunakan saat ini dalam dunia bisnis.

Namun, menjalin kemitraan dengan perusahaan AI bukanlah praktik konsultasi seperti biasanya. Klien kini tidak lagi terlalu tertarik membayar banyak analis junior untuk mengumpulkan dan merangkum data. Sebaliknya, semakin banyak kontrak konsultasi yang menggunakan model outcome-based pricing, di mana pembayaran sebagian bergantung pada apakah proyek tersebut berhasil mencapai hasil tertentu, bukan pada berapa banyak orang yang terlibat dalam proyek tersebut.

Menurut Rodenhauser, perubahan ini berpotensi mengubah cara industri konsultasi bekerja secara mendasar. Model konsultasi yang dikenal selama 50 tahun terakhir kemungkinan akan mengalami transformasi besar, meskipun ia juga menilai keuntungan yang dirasakan dalam jangka pendek mungkin tidak akan bertahan lama.

Di McKinsey, struktur tim klasik juga mulai berubah. Ben Ellencweig, pemimpin unit AI McKinsey yang bernama QuantumBlack, mengatakan tim konsultasi kini semakin banyak melibatkan insinyur. Menurutnya, kecerdasan buatan justru memungkinkan konsultan untuk lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar membedakan mereka dari teknologi.

Boston Consulting Group juga memandang kemitraannya dengan OpenAI sebagai cara untuk mengubah bagaimana perusahaan sebenarnya menjalankan bisnis mereka. Dylan Bolden, salah satu mitra senior di BCG, mengatakan kolaborasi ini diharapkan mempercepat perubahan yang sebenarnya sudah mulai berlangsung di perusahaan tersebut, yaitu membantu klien beralih dari sekadar proyek percontohan AI menuju transformasi penuh dalam cara kerja mereka.

Meski demikian, Achtmeyer dari Acropolis Advisors mengatakan ada kemungkinan ukuran industri konsultasi akan menyusut di masa depan. Kemampuan AI dalam melakukan analisis data dan pemrosesan informasi telah memunculkan pertanyaan eksistensial bagi industri yang selama ini bergantung pada keahlian manusia.

Namun ia menilai para eksekutif perusahaan tetap akan menginginkan pandangan dari mitra senior ketika menghadapi keputusan bisnis yang paling krusial.

Mo Koyfman, pendiri firma modal ventura Shine Capital, mengungkapkan hal itu dengan cara yang lebih lugas: perusahaan tetap membutuhkan manusia yang dapat dimintai pertanggungjawaban jika sesuatu berjalan salah.

Seperti yang ia katakan, perusahaan ingin memiliki seseorang yang bisa dihubungi ketika masalah muncul—seseorang yang bisa mereka telepon dan katakan secara langsung, “Anda yang membuat kami rugi.”