Jebakan Valuasi Unicorn di Era AI

(Businesslounge Journal-News & Insight) Di pasar modal ventura saat ini, status “unicorn” atau perusahaan rintisan dengan valuasi lebih dari US$1 miliar justru menjadi beban berat bagi banyak pendiri startup.

Pada masa puncak ledakan startup beberapa tahun lalu, investor modal ventura memberikan valuasi fantastis kepada berbagai perusahaan teknologi di Amerika Serikat yang sebenarnya masih berada pada tahap awal pembuktian bisnis. Namun kemudian gelombang kecerdasan buatan (AI) hadir dan mengalihkan lebih dari US$250 miliar investasi ke perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic.

Perubahan arah investasi tersebut membuat ratusan startup yang lahir sebelum era AI tertinggal. Banyak di antaranya masih dibebani valuasi yang terlalu tinggi dibanding kondisi bisnis saat ini, sementara teknologi yang mereka miliki mulai dianggap usang. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan tersebut juga belum cukup menguntungkan untuk masuk ke pasar saham. Akibatnya, akses terhadap pendanaan baru menjadi semakin sulit.

Mitra di Khosla Ventures, Samir Kaul, mengatakan bahwa kemunculan ChatGPT mengubah cara pandang industri terhadap pembangunan perusahaan teknologi. Menurutnya, kemampuan AI memungkinkan jumlah insinyur yang jauh lebih sedikit menghasilkan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tim berkali-kali lebih besar. Karena itu, metode penilaian terhadap startup pun harus dirombak secara menyeluruh.

Dampaknya, startup yang lahir setelah era ChatGPT terus melesat meninggalkan perusahaan-perusahaan yang lebih lama berdiri. Kesenjangan antara kedua kelompok tersebut semakin melebar dari waktu ke waktu.

Data dari PitchBook yang dikutip CNBC menunjukkan terdapat 857 startup berstatus unicorn di Amerika Serikat. Namun hampir separuh di antaranya tidak memperoleh pendanaan baru selama tiga tahun atau lebih, sehingga valuasinya semakin tidak relevan dengan kondisi pasar saat ini. Lebih dari 220 perusahaan yang pernah menyandang valuasi di atas US$1 miliar bahkan telah kehilangan status tersebut.

Startup yang terakhir menggalang dana pada 2021 kini mengalami penurunan nilai rata-rata sekitar 68 persen. Sementara perusahaan yang terakhir memperoleh pendanaan pada 2022 mengalami penurunan sekitar 52 persen.

Beberapa nama yang terdampak antara lain Rothy’s, Brooklinen, Savage X Fenty, Glossier, The Farmer’s Dog, serta AG1.

Tanda-tanda tekanan semakin terlihat jelas. CEO perusahaan fintech Mercury, Immad Akhund, menilai perusahaan yang tidak berfokus pada AI kini harus menunjukkan kinerja keuangan yang sangat kuat jika ingin menarik investor.

Kondisi tersebut tercermin pada AG1. Menurut laporan Reuters, perusahaan suplemen nutrisi itu tengah mempertimbangkan berbagai opsi strategis, termasuk penjualan sebagian atau seluruh perusahaan dengan valuasi sekitar US$2 miliar yang telah memperhitungkan utangnya.

Kehadiran AI generatif telah mengubah peta persaingan industri teknologi secara drastis. Arus modal kini lebih banyak mengalir ke perusahaan yang sejak awal dibangun berbasis AI, sementara startup generasi sebelumnya kesulitan mempertahankan valuasi tinggi yang pernah mereka nikmati.

Bagi ratusan startup yang masih berada di tengah situasi tersebut, ruang untuk menemukan jalan keluar semakin sempit. Kasus AG1 menunjukkan bahwa bahkan perusahaan dengan nama besar sekalipun tidak kebal terhadap tekanan yang sedang melanda ekosistem startup global.