(Business Lounge – Global News) Lebih dari US$8 miliar kontrak yang berkaitan dengan program pertahanan Amerika Serikat berhasil masuk ke kantong SpaceX sepanjang 2026. Nilainya menjadi gambaran betapa pentingnya perusahaan yang dipimpin Elon Musk tersebut bagi strategi Washington di luar angkasa. SpaceX tidak lagi hanya dikenal sebagai perusahaan peluncuran roket atau operator Starlink, melainkan semakin diposisikan sebagai penyedia infrastruktur strategis untuk komunikasi, pertahanan, pelacakan rudal, dan sistem berbasis orbit yang dibutuhkan pemerintah Amerika Serikat.
Salah satu sumber kontrak terbesar datang dari program Golden Dome, proyek pertahanan rudal yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Donald Trump. SpaceX memperoleh kontrak bernilai miliaran dolar untuk membantu mengembangkan satelit pelacak rudal serta menyediakan layanan peluncuran. Menurut The Wall Street Journal, upaya Pentagon untuk memperluas persaingan menghadapi kenyataan bahwa hanya sedikit perusahaan memiliki kemampuan teknis dan kapasitas peluncuran yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan program tersebut. SpaceX memiliki kombinasi roket Falcon 9, pengalaman penerbangan berulang, jaringan satelit Starlink, dan kemampuan produksi internal yang membuat posisinya sulit disaingi.
Keunggulan tersebut menciptakan situasi yang menarik bagi pemerintah. Washington secara politik ingin memiliki lebih banyak pemasok agar tidak terlalu bergantung pada satu perusahaan, terutama untuk proyek yang berkaitan dengan keamanan nasional. Namun, kebutuhan terhadap kemampuan SpaceX terus meningkat. Pemerintah membutuhkan peluncuran dalam jumlah besar dengan biaya relatif rendah, sementara sistem pertahanan baru membutuhkan jaringan satelit yang dapat dibangun dan diganti secara cepat. SpaceX sudah memiliki infrastruktur yang memungkinkan pola tersebut dijalankan dalam skala yang belum dapat ditandingi banyak pesaing.
Pemerintahan Trump juga membuka ruang yang lebih besar melalui kebijakan deregulasi. Pada Agustus 2026, Trump menandatangani memorandum yang menargetkan peningkatan drastis jumlah peluncuran dan penerbangan kembali kendaraan antariksa komersial Amerika Serikat. Targetnya mencapai sedikitnya 1.000 peluncuran dan reentry setiap tahun pada 2030, dibandingkan 178 kegiatan pada 2025. Kebijakan tersebut meminta lembaga federal mempercepat perizinan, mengidentifikasi lahan pemerintah yang dapat digunakan sebagai lokasi peluncuran, serta mengurangi hambatan administratif. Reuters melaporkan bahwa kebijakan tersebut dirancang untuk memperkuat industri antariksa komersial Amerika dan mempercepat pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk ekspansi.
SpaceX berada dalam posisi yang sangat menguntungkan jika target tersebut benar-benar dijalankan. Perusahaan telah memiliki fasilitas peluncuran, roket yang dapat digunakan kembali, sistem produksi dengan volume tinggi, serta jaringan pelanggan pemerintah dan komersial. Setiap penyederhanaan izin atau perluasan kapasitas lokasi peluncuran berpotensi meningkatkan jumlah misi yang dapat dilakukan. Bagi pesaing seperti Blue Origin, Rocket Lab, United Launch Alliance, dan perusahaan peluncuran lainnya, deregulasi memang membuka kesempatan baru. Tetapi SpaceX memasuki perlombaan tersebut dengan skala yang sudah jauh lebih besar.
Dukungan regulasi tidak hanya berkaitan dengan roket. Federal Communications Commission juga memberikan sejumlah keputusan yang memperkuat posisi Starlink. Salah satunya adalah pengecualian bagi router Starlink dari pembatasan perangkat jaringan yang dibuat di luar Amerika Serikat. Menurut Ars Technica, pengecualian tersebut berlaku hingga Februari 2028 dan memungkinkan SpaceX terus memperoleh persetujuan untuk perangkat Starlink tertentu. Kebijakan itu penting karena Starlink menggunakan kombinasi perangkat keras yang diproduksi di Amerika Serikat dan negara lain, sementara Washington semakin memperketat aturan terhadap perangkat jaringan yang dianggap memiliki risiko keamanan nasional.
FCC juga telah memberikan ruang bagi ekspansi teknologi satelit SpaceX melalui penggunaan spektrum dan jaringan satelit. Langkah tersebut membuka kemungkinan Starlink berkembang dari layanan internet rumah menjadi infrastruktur komunikasi yang lebih luas, termasuk konektivitas langsung antara satelit dan perangkat bergerak. SpaceX dengan demikian tidak hanya membangun konstelasi satelit untuk konsumen, tetapi juga menciptakan jaringan komunikasi yang dapat digunakan dalam situasi ketika infrastruktur darat terganggu.
Hubungan SpaceX dengan pemerintah Amerika semakin terlihat dalam proyek NASA. Lembaga antariksa tersebut memilih teknologi laser Starlink untuk membantu mengirimkan data berkecepatan tinggi dari misi Artemis III. Dua terminal laser Starlink akan dipasang pada pesawat Orion untuk mengirimkan gambar dan video 4K ke pusat kendali NASA. NASA menyebut SpaceX mendapatkan kontrak sekitar US$69,95 juta untuk demonstrasi layanan komunikasi optik berkecepatan tinggi menggunakan jaringan Starlink. Penggunaan teknologi komersial dalam misi pemerintah menunjukkan bahwa batas antara infrastruktur milik negara dan teknologi perusahaan swasta semakin tipis.
Pertumbuhan tersebut mengubah profil SpaceX sebagai kontraktor pemerintah. Perusahaan memiliki sumber pendapatan dari peluncuran komersial, Starlink, kontrak NASA, serta berbagai proyek pertahanan. Menurut data yang dikutip MarketWatch dari dokumen perusahaan, sekitar 20% pendapatan SpaceX pada 2025 berasal dari kontrak pemerintah dan pertahanan Amerika Serikat. Angka tersebut cukup besar untuk menunjukkan pentingnya pemerintah bagi bisnis SpaceX, tetapi juga memperlihatkan bahwa perusahaan telah membangun basis komersial yang luas sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada Washington.
Persoalan yang mulai muncul adalah konsentrasi kekuatan. Jika SpaceX terus memenangkan kontrak strategis dan mendapatkan keuntungan dari deregulasi, perusahaan dapat semakin dominan dalam infrastruktur antariksa Amerika. Ketergantungan tersebut dapat menciptakan dilema bagi Pentagon. Pemerintah membutuhkan kemampuan SpaceX, tetapi semakin banyak sistem penting menggunakan roket, satelit, atau jaringan milik perusahaan yang sama, semakin sulit bagi pemerintah untuk berpindah ke pemasok alternatif apabila terjadi masalah.
Kekhawatiran semacam itu sudah mulai muncul di Capitol Hill. Sejumlah anggota parlemen mendorong pemerintah mempertahankan persaingan dalam kontrak luar angkasa dan pertahanan agar tidak menciptakan ketergantungan terhadap satu penyedia. Kritik tersebut bukan semata-mata menyangkut SpaceX, melainkan persoalan strategis tentang bagaimana Amerika Serikat menjaga kemampuan nasional ketika teknologi komersial menjadi bagian penting dari pertahanan. Pemerintah ingin perusahaan swasta bergerak cepat dan mengambil risiko yang tidak dapat dilakukan birokrasi, tetapi konsekuensinya adalah sebagian fungsi strategis negara semakin berada di tangan perusahaan.
Kedekatan antara SpaceX dan pemerintahan Trump juga menjadi perhatian karena hubungan personal Elon Musk dengan presiden Amerika telah lama menjadi sorotan. Musk pernah menjadi salah satu tokoh yang dekat dengan Trump sebelum hubungan keduanya memburuk pada 2025. Setelah itu, SpaceX tetap memperoleh sejumlah kontrak penting dan terus menjadi bagian dari agenda antariksa pemerintah. Pada Agustus 2026, Reuters melaporkan bahwa Trump bahkan membeli saham SpaceX senilai hingga US$50.000 pada Juni berdasarkan laporan keuangan pribadinya. Gedung Putih mengatakan portofolio investasinya dikelola pihak ketiga dan Trump tidak menentukan transaksi tersebut.
Kondisi itu membuat keberhasilan SpaceX di Washington memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar performa bisnis. Perusahaan sedang berada di titik ketika kemampuan teknologinya bertemu dengan kebutuhan strategis pemerintah. Amerika ingin memperbanyak peluncuran, membangun sistem pertahanan rudal berbasis ruang angkasa, memperluas komunikasi satelit, dan kembali mendorong eksplorasi Bulan. Hampir semua agenda tersebut membutuhkan kemampuan yang sudah dimiliki SpaceX dalam bentuk roket, satelit, jaringan komunikasi, dan pengalaman operasional.
Persaingan dengan perusahaan lain tetap akan berlangsung. Blue Origin terus mengembangkan kemampuan peluncuran, perusahaan pertahanan tradisional mempertahankan posisi dalam proyek pemerintah, sementara pemain baru mencoba mengambil bagian dalam pasar satelit dan komunikasi. Pemerintah juga memiliki alasan kuat untuk menjaga beberapa alternatif agar tidak seluruh ekosistem bergantung pada SpaceX. Namun, kemampuan untuk mengirim satelit dalam jumlah besar, menggunakan roket yang dapat digunakan kembali, dan menggabungkan peluncuran dengan jaringan satelit membuat SpaceX memiliki keunggulan yang sulit dibangun dalam waktu singkat.
Washington kini menghadapi sebuah paradoks. Pemerintah ingin mengurangi regulasi agar perusahaan swasta bergerak lebih cepat, tetapi semakin sukses perusahaan seperti SpaceX memanfaatkan kelonggaran tersebut, semakin besar pula kekuatan ekonomi dan strategis yang terkonsentrasi pada mereka. Bagi SpaceX, situasinya sangat menguntungkan: kontrak pemerintah bertambah, pasar komersial terus berkembang, dan aturan yang menghambat ekspansi mulai dilonggarkan. Bagi Amerika Serikat, tantangannya adalah memastikan bahwa ketergantungan terhadap perusahaan paling maju di industrinya tidak berubah menjadi ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu pemain.

