(Business Lounge Journal – News)
Upaya menekan emisi karbon di sektor penerbangan semakin menarik perhatian perusahaan-perusahaan besar di dunia. Salah satu langkah terbaru datang dari Mitsubishi Corporation yang memperkuat strategi bisnis hijaunya melalui kerja sama dengan perusahaan agribisnis Amerika Serikat, Archer Daniels Midland (ADM), untuk mengembangkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Kolaborasi ini menjadi bagian dari transformasi Mitsubishi yang tidak lagi hanya mengandalkan bisnis energi konvensional, tetapi juga memperluas portofolio investasi di sektor pangan dan energi terbarukan. Perusahaan perdagangan asal Jepang tersebut bahkan menyiapkan investasi lebih dari US$600 juta dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan industri makanan dan biomassa, sebagai fondasi pengembangan bisnis rendah karbon di masa depan.
SAF dipandang sebagai salah satu solusi paling realistis untuk mengurangi jejak karbon industri penerbangan. Berbeda dengan pesawat listrik yang masih menghadapi keterbatasan teknologi untuk penerbangan jarak jauh, SAF dapat langsung digunakan pada mesin pesawat yang ada saat ini dengan modifikasi yang sangat minimal. Karena itu, banyak maskapai penerbangan dan produsen pesawat menjadikan SAF sebagai pilar utama menuju target emisi nol bersih (net-zero emissions).
Dalam kerja sama tersebut, Mitsubishi dan ADM akan memanfaatkan keahlian masing-masing. ADM memiliki jaringan global dalam pengolahan hasil pertanian seperti kedelai, jagung, dan minyak nabati yang dapat menjadi bahan baku produksi biofuel. Sementara Mitsubishi membawa kekuatan pada sisi investasi, perdagangan internasional, logistik, hingga pengembangan proyek skala besar di berbagai negara.
Bahan bakar penerbangan berkelanjutan umumnya diproduksi dari minyak jelantah, limbah pertanian, minyak nabati, lemak hewan, hingga biomassa lainnya. Dibandingkan dengan bahan bakar jet berbasis minyak bumi, SAF mampu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan sepanjang siklus hidupnya, tergantung jenis bahan baku yang digunakan. Hal inilah yang membuat permintaan terhadap SAF diperkirakan akan terus meningkat dalam dekade mendatang.
Langkah Mitsubishi juga mencerminkan perubahan arah investasi perusahaan-perusahaan dagang Jepang (sogo shosha). Selama puluhan tahun, perusahaan seperti Mitsubishi dikenal aktif berinvestasi di sektor minyak, gas, batu bara, dan pertambangan. Kini, seiring meningkatnya tekanan terhadap isu perubahan iklim, investasi mulai bergeser ke sektor yang mendukung ekonomi hijau, termasuk energi terbarukan, hidrogen, biomassa, hingga pangan berkelanjutan.
Selain mendukung target dekarbonisasi, investasi di sektor pangan dinilai memiliki prospek yang menarik. Pertumbuhan populasi dunia, meningkatnya konsumsi protein, serta kebutuhan terhadap bahan baku biofuel menciptakan peluang bisnis baru yang menjanjikan. Bagi Mitsubishi, pengembangan SAF tidak hanya menjadi proyek lingkungan, tetapi juga strategi bisnis jangka panjang yang memanfaatkan keterkaitan antara industri pertanian, energi, dan logistik global.
Meski demikian, tantangan pengembangan SAF masih cukup besar. Kapasitas produksi global saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan industri penerbangan, sementara biaya produksinya masih lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakar jet konvensional. Untuk mempercepat adopsi SAF, dibutuhkan investasi besar, inovasi teknologi, serta dukungan kebijakan pemerintah di berbagai negara.
Kolaborasi Mitsubishi dan ADM menunjukkan bahwa masa depan industri penerbangan kemungkinan besar tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi pesawat, tetapi juga oleh inovasi dalam menghasilkan bahan bakar yang lebih bersih. Dengan memadukan kekuatan sektor agribisnis dan perdagangan global, kedua perusahaan berharap dapat mempercepat ketersediaan SAF sekaligus membuka peluang ekonomi baru di tengah transisi menuju industri penerbangan yang lebih berkelanjutan.

