(Business Lounge – Art) Pada malam Natal 1776, kurang dari enam bulan setelah Deklarasi Kemerdekaan diumumkan, dan di tengah suhu yang membekukan, hujan deras, serta badai nor’easter yang kuat, George Washington memimpin armada kecil pasukan menyeberangi sungai yang membeku menuju kemenangan mengejutkan atas Inggris keesokan harinya di dekat Trenton, New Jersey. Momen epik ini, yang membangkitkan semangat dan menyelamatkan Perang Revolusi Amerika dari kehancuran, kemudian diabadikan oleh Emanuel Leutze dalam lukisan Washington Crossing the Delaware (1851), yang kini berada di Metropolitan Museum of Art, New York. Awan kelabu menggelapkan langit, tetapi Leutze menyelimuti Washington dengan cahaya, menggambarkannya sebagai pemimpin teguh yang memimpin sekelompok pria yang sengaja mencakup seorang penduduk asli Amerika dan seorang pria kulit hitam.

Meski terdapat beberapa ketidakakuratan—misalnya bendera yang ditampilkan saat itu sebenarnya belum diadopsi—lukisan raksasa karya Leutze segera mendapat sambutan luas. Sebuah surat kabar pada masanya menyebutnya sebagai “lukisan paling megah, paling agung, dan paling mengesankan yang pernah dipamerkan di Amerika.” Karya itu direproduksi, dipasang di ruang-ruang kelas, digunakan untuk mengilustrasikan buku sejarah, dan menjadi representasi kuat semangat tahun 1776.
Para seniman Amerika selalu mencatat, merayakan, sekaligus mengkritik peristiwa sejarah, nilai-nilai, pencapaian, dan kekurangan bangsa mereka melalui lukisan, sehingga membantu masyarakat memahami sejarahnya sendiri.
George Caleb Bingham menciptakan beberapa karya tentang proses demokrasi, tetapi tidak ada yang lebih terkenal daripada The County Election (1852) yang berada di Saint Louis Art Museum. Adegan padat yang ia lukiskan menggambarkan keruwetan demokrasi. Para pemilihnya, yang seluruhnya pria kulit putih namun berasal dari berbagai latar belakang ekonomi dan karakter, ada yang terlibat percakapan serius, ada yang membungkuk membaca koran, dan ada pula yang mabuk. Seorang calon pemilih—yang konon seorang imigran—sedang mengucapkan sumpah, sementara yang lain tampak berusaha membeli suara. Meski demikian, dengan menampilkan proses itu sebagai sesuatu yang penting, Bingham membanjiri lukisan tersebut dengan cahaya hangat dan menempatkan papan biru bertuliskan, “Kehendak rakyat adalah hukum tertinggi.”

Bahkan sebelum kemerdekaan, orang Amerika mulai bergerak ke arah barat untuk mencari tanah dan peluang. Kabar tentang keagungan alam dan kekayaan sumber daya negara itu menyebar kembali ke timur, dan pada pertengahan abad ke-19 gagasan Manifest Destiny—keyakinan bahwa ekspansi ke seluruh benua adalah takdir yang ditetapkan Tuhan—menjadi seruan populer. The Rocky Mountains, Lander’s Peak (1863) karya Albert Bierstadt, yang juga berada di Metropolitan Museum of Art, menyampaikan pesan tersebut dengan jelas. Pemandangan Pegunungan Rocky yang megah dan diidealkan, yang digambarkan di wilayah Wyoming, membantu menarik para pionir menuju barat. Namun Bierstadt juga menyadari harga yang harus dibayar oleh penduduk asli Amerika yang ia lukiskan di bagian depan kanvas. Ia pernah menulis bahwa “sekarang adalah waktu untuk melukis mereka, karena mereka sedang menghilang dengan cepat dan kelak hanya akan dikenal melalui sejarah.”

Our Banner in the Sky (1861) karya Frederic Edwin Church, yang berada di De Young Museum, San Francisco, juga berfungsi sebagai pernyataan politik yang menggugah emosi. Tidak lama setelah Perang Saudara pecah, Church mengubah efek atmosfer matahari terbit, awan bergaris, dan bintang-bintang yang tampak di sela langit menjadi bentuk bendera Union yang compang-camping. Dengan pohon gersang sebagai tiang bendera, simbol tersebut berkibar di atas lanskap yang dilanda perang. Seperti Bierstadt, Church tidak hanya membangkitkan patriotisme, tetapi juga menyiratkan bahwa campur tangan ilahi berpihak pada perjuangan wilayah Utara.

Pada masa itu Amerika masih merupakan negara agraris, sebagaimana tergambar indah dalam Fall Plowing (1931) karya Grant Wood, yang dipinjamkan oleh Deere & Co. kepada Figge Art Museum di Davenport, Iowa. Karya tersebut hanyalah satu dari banyak lanskap yang ia lukis untuk menghormati kesuburan lahan pertanian di jantung Amerika. Namun Amerika Serikat kemudian berkembang menjadi kekuatan industri dan kekuatan dunia berkat sistem keuangan, kemampuan industri, serta daya cipta yang dimilikinya.

Tidak ada gambaran Wall Street—yang lahir di bawah pohon buttonwood pada tahun 1792—yang lebih menarik daripada The Bulls and Bears in the Market (1879) karya William Holbrook Beard di New York Historical. Kemungkinan merupakan sindiran terhadap kepanikan finansial tahun 1873, lukisan ini dengan humor mengubah hewan-hewan menjadi tokoh manusia untuk menunjukkan kekacauan pasar, dengan masing-masing kubu berjuang memperebutkan kendali. Namun Beard membuat para banteng tampak lebih dominan dan menyorot banteng putih di tengah dengan cahaya matahari.

Inovasi dan ambisi memainkan peran penting dalam keberhasilan Amerika, dan itulah tema utama Brooklyn Bridge: Variation on an Old Theme (1939) karya Joseph Stella yang berada di Whitney Museum, New York. Ketika diresmikan pada Mei 1883, Jembatan Brooklyn merupakan kemenangan besar dunia teknik dan menjadi jembatan gantung terpanjang di dunia. Stella melukis jembatan itu berkali-kali, terkadang dengan pendekatan yang semakin abstrak. Dalam karya ini, ia menampilkan jembatan secara langsung sebagaimana terlihat oleh pengemudi mobil. Kabel, pilar, dan lengkungan gotiknya—yang pernah ia sebut sebagai “tempat suci yang menyimpan seluruh upaya peradaban baru Amerika”—diubah menjadi karya seni yang memukau.

Charles Demuth menciptakan metafora berbeda mengenai industri Amerika. Dalam My Egypt (1927), yang juga berada di Whitney Museum, ia menyamakan pabrik dan kekuatan industri Amerika dengan bangunan monumental para firaun Mesir. Dilukis dengan gaya Precisionist yang sangat realistis, elevator gandum dari baja dan beton itu menjulang tinggi di atas sekitarnya, sementara sinar matahari yang menyilang menghubungkannya dengan langit.

Secara sosial dan ekonomi, Amerika Serikat berubah dengan cepat. Perubahan itu semakin dipercepat ketika, antara tahun 1910-an hingga 1970-an, sekitar enam juta warga kulit hitam meninggalkan kekerasan rasial dan pembatasan kebebasan di Selatan dalam peristiwa yang dikenal sebagai Great Migration. From every southern town migrants left by the hundreds to travel north (1940–1941), yang merupakan bagian dari The Migration Series karya Jacob Lawrence dan kini berada di Phillips Collection, Washington, menggambarkan eksodus tersebut secara sederhana namun menyentuh. Seri yang terdiri dari 60 panel ini dibagi kepemilikannya dengan Museum of Modern Art. Tokoh-tokoh dalam lukisan Lawrence dibuat tanpa detail individu, hanya membawa seluruh harta mereka dalam karung di punggung, berharap menemukan kehidupan yang lebih baik di tujuan akhir mereka. Sebagian memperoleh pekerjaan yang dibutuhkan industri, sementara yang lain terjebak dalam kemiskinan. Bersama-sama, mereka mengubah arah sejarah Amerika.

Baik dalam sisi positif maupun negatif, mobil membentuk budaya Amerika. Mobil mendorong mobilitas yang memperkuat ekonomi, menciptakan romantisme jalan raya terbuka, mendorong tradisi berkendara santai di hari Minggu, dan menjadi penanda identitas bagi pengemudinya. Orang Amerika pun menjadi sangat terobsesi dengan mobil. Ed Ruscha mengambil foto-foto sederhana pom bensin di sepanjang Route 66, lalu melukis Standard Station, Amarillo, Texas (1963), yang kini berada di Hood Museum, Dartmouth, New Hampshire. Dengan gaya yang sederhana dan mencerminkan latar belakangnya di dunia periklanan, pom bensin itu bersinar terang dalam cahaya lampu fluoresen, seolah mengundang para pengemudi. Namun di saat yang sama, karya tersebut juga menyiratkan dampak negatif yang kemudian muncul, seperti pusat perbelanjaan memanjang di pinggir jalan, motel murahan, papan reklame, dan berbagai konsekuensi lain dari budaya otomotif.

Pada pertengahan abad ke-20, Hollywood berkembang pesat bukan hanya dari sisi pendapatan, tetapi juga dalam penyebaran budaya selebritas ke seluruh dunia. Andy Warhol menangkap fenomena itu melalui Marilyn Diptych (1962), yang kini berada di Tate Modern, London. Apa cara yang lebih tepat untuk mengomentari obsesi terhadap bintang film selain mengulang citra Marilyn Monroe, yang diambil dari foto promosi, sebanyak 50 kali? Warhol menempatkan dua panel yang masing-masing berisi 25 gambar berdampingan; separuh berwarna dan separuh hitam-putih, mengingatkan pada diptych religius masa lalu. Karya ini sekaligus mengomentari dan memperkuat budaya selebritas.

Bendera Amerika juga dikenal luas sebagai simbol kebebasan, meskipun terkadang menjadi objek perdebatan. Dalam Three Flags (1958), yang kini berada di Whitney Museum, Jasper Johns mengajak penonton merenungkan makna simbol tersebut dan makna negara itu sendiri. Ia memodifikasi bendera dengan menciptakan permukaan bertekstur, variasi warna, dan apa yang bisa dianggap sebagai ketidaksempurnaan. Ia juga menumpuk tiga bendera dengan ukuran yang semakin kecil di atas satu sama lain sehingga tampak maju sekaligus mundur. Namun pada akhirnya tetap hanya ada satu bendera, satu Amerika. Apakah makna yang ditangkap adalah patriotisme, kesadaran akan banyaknya dimensi negara tersebut, atau sesuatu yang lain, keputusan itu diserahkan kepada setiap penonton. Bukankah kebebasan untuk menentukan makna sendiri itulah inti dari Amerika?
