SoftBank

SoftBank Masuk Bisnis Baterai untuk Dukung Ledakan AI dan Data Center Global

(Business Lounge Journal –  News)

Raksasa teknologi Jepang, SoftBank, resmi memasuki bisnis baterai skala besar untuk menopang kebutuhan energi pusat data kecerdasan buatan (AI) yang terus meningkat. Langkah strategis ini menunjukkan bagaimana perlombaan AI global kini tidak hanya soal chip dan software, tetapi juga tentang pasokan listrik yang stabil dan efisien.

Melalui unit telekomunikasinya, SoftBank menggandeng dua startup asal Korea Selatan, yakni Cosmos Lab dan DeltaX, untuk mengembangkan baterai generasi baru dan sistem penyimpanan energi berkapasitas besar. Perusahaan menargetkan pendapatan tahunan lebih dari 100 miliar yen atau sekitar US$640 juta dari bisnis ini pada 2030.

Investasi tersebut berfokus pada pembangunan infrastruktur energi untuk pusat data AI yang terkenal sangat rakus listrik. Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan AI generatif seperti ChatGPT, model video AI, hingga komputasi cloud skala besar telah memicu lonjakan kebutuhan energi global. Banyak perusahaan teknologi kini mulai mencari solusi agar pusat data mereka tetap efisien dan tidak bergantung penuh pada jaringan listrik konvensional.

SoftBank akan memanfaatkan bekas pabrik Sharp di Sakai, Osaka, sebagai pusat operasional proyek ini. Lokasi tersebut sedang diubah menjadi kompleks AI besar yang mencakup pusat data, fasilitas manufaktur perangkat AI, serta pabrik baterai dan panel surya.

Dalam kolaborasi ini, Cosmos Lab akan membantu mengembangkan baterai zinc-halogen berbasis air yang diklaim lebih aman dibandingkan dengan baterai lithium-ion konvensional. Teknologi ini menarik perhatian karena tidak menggunakan elektrolit mudah terbakar, sehingga risiko kebakaran jauh lebih rendah. Selain itu, bahan bakunya seperti seng dan halogen dinilai lebih mudah diperoleh dan dapat membantu memperkuat rantai pasok domestik Jepang.

Sementara itu, DeltaX akan berfokus pada pengembangan sistem penyimpanan energi berkapasitas tinggi untuk mendukung pusat data AI dan kebutuhan industri lainnya. SoftBank juga berencana mengintegrasikan sistem manajemen energi berbasis AI agar penggunaan listrik dapat diprediksi dan dioptimalkan secara otomatis.

Produksi massal baterai ditargetkan dimulai sekitar tahun fiskal 2027–2028 dengan kapasitas mencapai skala gigawatt-hour (GWh) per tahun. Jika target tersebut tercapai, fasilitas SoftBank dapat menjadi salah satu pabrik baterai terbesar di Jepang.

Langkah SoftBank ini mencerminkan perubahan besar dalam industri teknologi global. Di tengah booming AI, perusahaan-perusahaan kini menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya menciptakan model AI yang lebih pintar, tetapi juga memastikan infrastruktur fisik — terutama energi — mampu menopang pertumbuhan tersebut.

Pendiri SoftBank, Masayoshi Son, memang dikenal agresif dalam investasi AI. Selain memiliki saham besar di berbagai perusahaan teknologi, SoftBank juga terus memperluas investasinya pada pusat data, robotika, dan infrastruktur digital. Bisnis baterai ini dipandang sebagai bagian penting dari strategi jangka panjang perusahaan untuk menguasai ekosistem AI dari hulu hingga hilir.

Dengan meningkatnya kebutuhan energi akibat AI, langkah SoftBank bisa menjadi awal dari tren baru di mana perusahaan teknologi tidak lagi hanya membeli listrik, tetapi mulai memproduksi dan mengelola energinya sendiri.