Seni Menulis

Steven Pinker dan Seni Menulis yang Jelas di Era Modern

(Business Lounge – Ideas) Steven Pinker adalah seorang ilmuwan kognitif, ahli linguistik, dan penulis produktif yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari bahasa, pikiran, dan bagaimana manusia berkomunikasi. Melalui karya-karyanya, ia tidak hanya menjelaskan bagaimana bahasa bekerja, tetapi juga mengkritisi cara manusia—terutama kalangan akademisi—menggunakannya secara tidak efektif.

Dalam pembahasannya, Pinker menyoroti satu konsep utama yang menurutnya menjadi akar dari banyaknya tulisan yang buruk: “curse of knowledge” atau kutukan pengetahuan. Ini adalah kondisi ketika seseorang yang sudah memahami suatu hal dengan sangat baik justru kesulitan menjelaskannya kepada orang lain yang belum memiliki pemahaman yang sama. Pengetahuan yang dimiliki menjadi penghalang, bukan alat komunikasi.

Menurut Pinker, banyak orang beranggapan bahwa tulisan yang rumit sengaja dibuat untuk terlihat cerdas atau eksklusif. Namun ia menolak pandangan ini dan mengacu pada prinsip Hanlon’s razor—bahwa kesalahan lebih sering disebabkan oleh ketidaktahuan daripada niat buruk. Banyak penulis sebenarnya tidak bermaksud membingungkan, tetapi tidak sadar bahwa mereka gagal menempatkan diri di posisi pembaca.

Ia memberikan contoh nyata dari sebuah konferensi TED, di mana seorang ilmuwan brilian gagal menjelaskan penelitiannya kepada audiens luas karena langsung menggunakan jargon teknis tanpa konteks. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan tidak otomatis berbanding lurus dengan kemampuan komunikasi.

Pinker menekankan bahwa menulis yang baik dimulai dari empati—kemampuan untuk memahami apa yang diketahui dan tidak diketahui oleh pembaca. Tanpa empati ini, tulisan akan dipenuhi istilah teknis, singkatan, dan abstraksi yang sulit dipahami. Ia juga menyoroti pentingnya membuat tulisan menjadi konkret, karena manusia memahami dunia tidak hanya melalui kata-kata, tetapi melalui gambaran mental, pengalaman sensorik, dan emosi.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa menulis berbeda secara fundamental dari berbicara. Berbicara terjadi dalam konteks bersama dan dilengkapi dengan umpan balik langsung, sementara menulis harus berdiri sendiri tanpa bantuan konteks atau interaksi. Oleh karena itu, penulis harus bekerja lebih keras untuk memastikan kejelasan.

Pinker juga menekankan keseimbangan antara generalisasi dan contoh. Generalisasi tanpa contoh terlalu abstrak, sementara contoh tanpa generalisasi kehilangan arah. Keduanya harus berjalan beriringan agar pembaca dapat memahami ide sekaligus melihat penerapannya.

Dalam aspek gaya, ia mendorong penggunaan bahasa yang ringkas dan efektif. Prinsip dari The Elements of Style—“omit needless words”—menjadi pedoman penting. Setiap kata harus memiliki fungsi, karena semakin banyak kata, semakin besar beban kognitif bagi pembaca.

Ia juga menyinggung peran estetika dalam menulis, seperti ritme, bunyi, dan keindahan bahasa. Membaca tulisan dengan suara keras dapat membantu menemukan bagian yang tidak mengalir dengan baik. Bahkan dalam humor, kesingkatan menjadi kunci, sebagaimana tercermin dalam ungkapan terkenal dari Hamlet: “brevity is the soul of wit.”

Di era modern, Pinker mengamati bahwa bahasa cenderung menjadi lebih informal, seiring dengan perubahan sosial menuju nilai keaslian dan kesetaraan. Namun, ia juga mencatat bahwa tulisan masa lalu sering memiliki kekayaan gaya yang lebih tinggi karena penulisnya terbiasa dengan literatur klasik dan belum bergantung pada jargon atau klise.

Ketika membahas kecerdasan buatan, ia melihat bahwa model bahasa modern mampu menghasilkan tulisan yang jelas dan terstruktur, tetapi sering terasa generik dan kurang orisinal. Hal ini mencerminkan sifatnya sebagai gabungan dari berbagai teks yang sudah ada.