(Business Lounge – Global News) Pertumbuhan trafik pelanggan dan permintaan terhadap barang bermerek dengan harga lebih rendah membuat Ross Stores menaikkan proyeksi laba, sekaligus mempercepat ekspansi tokonya. Ross Stores mencatat kuartal kedua 2026 yang jauh lebih kuat dari perkiraan pasar, menunjukkan bahwa konsumen Amerika masih aktif berbelanja meskipun semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Penjualan perusahaan meningkat 13% menjadi US$6,26 miliar, sementara penjualan toko yang sama melonjak 10%. The Wall Street Journal melaporkan bahwa peningkatan trafik pelanggan menjadi salah satu faktor utama di balik kinerja tersebut dan mendorong Ross menaikkan proyeksi laba setahun penuh.
Laba bersih Ross Stores mencapai US$851,3 juta atau US$2,66 per saham, dibandingkan US$508 juta atau US$1,56 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut mendapat dorongan sekitar US$253 juta dari pengembalian tarif, yang meningkatkan laba per saham sekitar 60 sen. Reuters mencatat bahwa bahkan setelah memperhitungkan manfaat tarif tersebut, kinerja Ross tetap menunjukkan permintaan yang kuat terhadap format ritel diskon.
Konsumen Mencari Nilai, Bukan Berhenti Belanja
Kinerja Ross memberikan gambaran menarik mengenai kondisi konsumen Amerika. Mereka memang semakin selektif, tetapi tidak berarti menghentikan belanja. Sebaliknya, konsumen lebih banyak mencari kombinasi antara harga rendah, merek yang dikenal, dan produk yang dianggap memberikan nilai lebih baik. Reuters melaporkan bahwa tekanan inflasi dan kehati-hatian konsumen justru membantu peritel off-price seperti Ross menarik pembeli yang sebelumnya berbelanja di department store atau peritel dengan harga lebih tinggi.
Model off-price bekerja dengan menjual barang bermerek dan produk fesyen dengan harga lebih rendah melalui pembelian persediaan berlebih, perubahan musim, atau kesempatan pembelian dari pemasok. Bagi konsumen, model ini memberikan sensasi berburu barang murah tanpa harus sepenuhnya meninggalkan merek. Bagi Ross, fleksibilitas dalam memperoleh barang menjadi keunggulan karena perusahaan dapat menyesuaikan persediaan dengan kondisi pasar.
Trafik Menjadi Mesin Pertumbuhan
Kenaikan penjualan toko yang sama sebesar 10% menjadi indikator paling penting dari laporan Ross. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari meningkatnya jumlah transaksi, bukan sekadar kenaikan harga barang. Laporan resmi Ross Stores menunjukkan bahwa perusahaan mendapatkan pelanggan baru, pelanggan lama yang kembali berbelanja, serta peningkatan frekuensi kunjungan dari pelanggan yang sudah ada.
Perusahaan juga memperluas pilihan produk dan meningkatkan pengalaman di dalam toko. Kombinasi tersebut membuat Ross tidak hanya mengandalkan reputasi sebagai tempat mencari harga murah, tetapi juga berusaha menjadikan kunjungan ke toko sebagai pengalaman menemukan produk yang menarik. The Wall Street Journal mencatat bahwa perluasan pilihan barang, pemasaran yang lebih baik, dan peningkatan pengalaman berbelanja menjadi bagian dari strategi yang mendorong momentum Ross.
Fashion Menjadi Penentu
Kekuatan Ross juga menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya mencari diskon untuk kebutuhan dasar. Fesyen, aksesori, produk rumah tangga, dan kosmetik ikut mendapatkan permintaan. Reuters mencatat bahwa pertumbuhan Ross semakin luas di berbagai kategori dan wilayah, termasuk peningkatan aktivitas pelanggan di Midwest serta bisnis rumah tangga dan kosmetik.
Hal tersebut penting karena bisnis off-price sangat bergantung pada kemampuan menyediakan barang yang menarik secara konsisten. Harga murah saja tidak cukup apabila pilihan produknya tidak relevan. Ross harus menjaga keseimbangan antara harga, merek, tren, dan ketersediaan barang agar pelanggan memiliki alasan untuk kembali ke toko.
Pandangan Laba Naik Tajam
Ross kini memperkirakan laba per saham fiskal 2026 berada pada kisaran US$8,61 hingga US$8,77, naik cukup jauh dari proyeksi sebelumnya sebesar US$7,50 hingga US$7,74. Laporan resmi perusahaan menyebut proyeksi terbaru tersebut sudah memasukkan sekitar US$0,60 per saham dari pengembalian tarif yang diterima pada kuartal kedua.
Kenaikan panduan tersebut menjadi lebih menarik karena Ross sebenarnya menghadapi perbandingan tahunan yang lebih sulit pada paruh kedua tahun ini. Penjualan toko yang sama sudah meningkat kuat pada tahun sebelumnya, sehingga mempertahankan pertumbuhan akan semakin menantang. Namun, manajemen tetap menaikkan proyeksi untuk kuartal ketiga dan keempat.
Paruh Kedua Masih Diproyeksikan Kuat
Untuk kuartal ketiga, Ross memperkirakan penjualan toko yang sama meningkat 6% hingga 7%, dengan laba per saham US$1,75 hingga US$1,83. Untuk kuartal keempat, perusahaan memperkirakan pertumbuhan penjualan toko yang sama sebesar 4% hingga 5% dan laba per saham US$2,17 hingga US$2,26. Data perusahaan menunjukkan kedua proyeksi tersebut tetap menunjukkan pertumbuhan meskipun basis pembandingnya semakin tinggi.
Pasar merespons positif karena proyeksi tersebut menunjukkan bahwa momentum belum berhenti setelah kuartal kedua. Reuters melaporkan saham Ross sempat melonjak sekitar 9% dalam perdagangan sebelum pembukaan pasar setelah perusahaan menaikkan panduan laba.
Ekspansi Toko Dipercepat
Ross juga semakin percaya diri terhadap ekspansi fisiknya. Perusahaan kini menargetkan pembukaan 115 toko baru pada fiskal 2026, naik dari rencana sebelumnya sebanyak 110 toko. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 akan menggunakan format Ross Dress for Less dan 25 menggunakan format dd’s discounts. Laporan perusahaan menunjukkan Ross telah membuka 47 toko baru hanya selama kuartal kedua.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan melihat ruang pertumbuhan bukan hanya melalui peningkatan penjualan toko yang sudah ada, tetapi juga melalui perluasan jaringan. Ross mengatakan kinerja toko baru maupun toko yang sudah lama beroperasi memberikan keyakinan terhadap strategi ekspansi. The Wall Street Journal mencatat bahwa perusahaan melihat peluang untuk memperoleh pangsa pasar lebih besar dalam jangka panjang.
Inventori Naik untuk Menangkap Trafik
Ada konsekuensi dari meningkatnya trafik. Persediaan Ross naik sekitar 18% karena perusahaan memperluas pilihan barang untuk memenuhi permintaan pelanggan. MarketBeat mencatat bahwa meskipun inventori meningkat cukup besar, manajemen mengatakan perputaran persediaan, tingkat clearance, dan margin barang tetap berada dalam kondisi sehat.
Ini merupakan bagian penting dari model bisnis Ross. Perusahaan membutuhkan cukup banyak persediaan untuk menciptakan pengalaman treasure hunt, tetapi terlalu banyak barang yang tidak terjual dapat memaksa perusahaan memberikan diskon lebih besar. Karena itu, kemampuan mengelola inventori menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah pertumbuhan penjualan benar-benar berubah menjadi pertumbuhan laba.
Tarif Memberikan Bantuan, Tapi Bukan Segalanya
Pengembalian tarif memberikan kontribusi cukup besar terhadap hasil kuartal kedua. Ross menerima sekitar US$253 juta dan memperoleh tambahan sekitar 60 sen terhadap laba per saham. Laporan resmi perusahaan menegaskan bahwa manfaat tersebut termasuk dalam hasil kuartal kedua dan proyeksi setahun penuh.
Namun, pertumbuhan operasional tetap terlihat bahkan tanpa menghitung seluruh manfaat tarif. Investing.com mencatat bahwa margin operasi Ross meningkat 205 basis poin secara tahunan setelah manfaat tarif dikeluarkan dari perhitungan. Ini menunjukkan bahwa peningkatan laba tidak semata-mata berasal dari keuntungan satu kali, tetapi juga dari perkembangan bisnis inti.
Ross Berbeda dari TJX
Kinerja Ross juga menarik karena muncul hanya sehari setelah TJX, salah satu pesaing utama dalam bisnis off-price, melaporkan hasil yang lebih beragam. Reuters melaporkan bahwa divisi Marmaxx milik TJX, yang mencakup TJ Maxx dan Marshalls, mengalami perlambatan pertumbuhan penjualan toko yang sama menjadi 1% dari 6% pada kuartal sebelumnya.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa konsumen yang mencari diskon belum tentu memberikan respons yang sama kepada seluruh peritel off-price. Eksekusi merchandising, lokasi toko, pengalaman pelanggan, dan ketersediaan produk dapat membuat perbedaan besar. Ross tampaknya berhasil menangkap permintaan melalui kombinasi harga, variasi produk, dan peningkatan trafik.
Peluang dari Perubahan Perilaku Konsumen
Kondisi ekonomi juga menciptakan peluang struktural bagi Ross. Konsumen dengan pendapatan menengah semakin memperhatikan harga dan menunda pembelian besar, tetapi tetap ingin membeli barang yang memberikan kesenangan atau peningkatan kualitas hidup. Reuters menggambarkan pola tersebut sebagai konsumen yang semakin selektif dalam membelanjakan uang, bukan konsumen yang sepenuhnya berhenti berbelanja.
Model Ross sangat cocok dengan perilaku tersebut. Konsumen dapat membeli pakaian, kosmetik, dekorasi rumah, atau aksesori dengan harga lebih rendah daripada harga reguler. Bahkan dalam kondisi ekonomi yang lebih sulit, kesempatan memperoleh barang bermerek dengan diskon dapat menjadi alasan untuk tetap mengunjungi toko.
Pertumbuhan Tidak Hanya Berasal dari Pelanggan Lama
Salah satu hal yang membuat manajemen optimistis adalah luasnya sumber pertumbuhan pelanggan. Retail TouchPoints melaporkan bahwa Ross memperoleh kontribusi dari pelanggan baru di berbagai demografi, pelanggan yang kembali setelah lama tidak berkunjung, serta pelanggan lama yang semakin sering datang dan membelanjakan lebih banyak per kunjungan.
Jika pola tersebut bertahan, Ross tidak hanya mendapatkan keuntungan dari konsumen yang melakukan trade-down akibat tekanan ekonomi. Perusahaan juga dapat memperoleh pangsa pasar baru secara struktural. Inilah yang membuat manajemen melihat peluang pertumbuhan jangka panjang, bukan sekadar lonjakan penjualan akibat kondisi ekonomi sementara.
Uang Juga Kembali ke Pemegang Saham
Kinerja operasional yang kuat berjalan bersamaan dengan pengembalian modal. Selama kuartal kedua, Ross membeli kembali 1,4 juta saham dengan nilai sekitar US$319 juta. Laporan resmi perusahaan menunjukkan bahwa Ross tetap berada di jalur untuk melakukan pembelian kembali saham senilai US$1,275 miliar sepanjang fiskal 2026.
Pembelian kembali saham memberikan sinyal bahwa perusahaan merasa memiliki kapasitas kas yang cukup untuk membiayai ekspansi sekaligus mengembalikan modal kepada investor. Strategi tersebut menjadi lebih menarik ketika pertumbuhan laba dan penjualan masih kuat, karena perusahaan tidak harus memilih secara ekstrem antara investasi dan pengembalian modal.
Tantangan Mulai Terlihat di Depan
Meski prospeknya positif, Ross tidak sepenuhnya terbebas dari risiko. Perusahaan akan menghadapi perbandingan yang lebih sulit pada paruh kedua tahun, sementara tekanan biaya, perubahan tarif, dan ketidakpastian ekonomi masih dapat memengaruhi konsumen. The Wall Street Journal melaporkan bahwa manajemen sendiri mengakui tantangan perbandingan tahunan yang lebih berat, meskipun tetap menaikkan panduan.
Persediaan yang meningkat juga harus terus diawasi. Jika trafik pelanggan melemah secara tiba-tiba, stok yang lebih besar dapat meningkatkan kebutuhan diskon dan menekan margin. Karena itu, keberhasilan Ross pada paruh kedua akan sangat bergantung pada kemampuan mempertahankan trafik sekaligus menjaga kualitas persediaan.
Off-Price Menjadi Cerita Besar Ritel
Kinerja Ross memperlihatkan perubahan penting dalam lanskap ritel Amerika. Konsumen tidak meninggalkan belanja, tetapi semakin memperhatikan nilai. Mereka masih membeli fesyen, produk rumah tangga, kosmetik, dan berbagai barang diskresioner, tetapi semakin mencari harga yang terasa masuk akal. Barron’s menilai hasil pekan ritel terbaru memperlihatkan bahwa fokus konsumen terhadap nilai menjadi salah satu tema utama menjelang musim belanja akhir tahun.
Dalam situasi tersebut, Ross memiliki posisi yang menarik. Perusahaan menawarkan harga rendah tanpa harus sepenuhnya bersaing sebagai supermarket atau peritel barang kebutuhan dasar. Keunggulannya justru berada pada kemampuan menemukan barang bermerek dengan harga diskon, sebuah model yang dapat menarik konsumen dari berbagai tingkat pendapatan.
Kenaikan panduan Ross Stores menunjukkan bahwa kekuatan peritel off-price tidak hanya berasal dari konsumen yang sedang kesulitan. Model tersebut semakin relevan bagi konsumen yang secara sadar ingin mendapatkan nilai terbaik dari setiap dolar yang dibelanjakan. The Wall Street Journal, Reuters, dan laporan resmi Ross Stores menunjukkan bahwa kombinasi trafik pelanggan, variasi produk, pengalaman toko, ekspansi jaringan, dan disiplin biaya telah menghasilkan momentum yang cukup kuat hingga mendorong perusahaan menaikkan target laba tahunannya.
Jika tren tersebut berlanjut, Ross tidak hanya berpotensi menikmati siklus belanja hemat, tetapi juga memperoleh pangsa pasar secara lebih permanen. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah konsumen Amerika bersedia mencari diskon, melainkan seberapa besar bagian dari belanja mereka yang akan berpindah ke format off-price. Kinerja Ross pada kuartal kedua memberikan indikasi bahwa perpindahan tersebut masih memiliki ruang untuk berkembang.

