(Business Lounge – Travel) Semakin jauh perjalanan bergerak ke utara, Armenia memperlihatkan wajah yang sama sekali berbeda. Pegunungan berbatu yang mendominasi kawasan tengah perlahan berubah menjadi hutan lebat yang menutupi lereng-lereng bukit. Jalan raya membelah kawasan hijau yang dipenuhi pohon ek, beech, dan pinus. Udara terasa lebih lembap, angin membawa aroma dedaunan, sementara kabut tipis sesekali turun menyelimuti lembah. Lanskap seperti ini membuat banyak orang sulit percaya bahwa mereka masih berada di negara yang sama.
Di tengah kawasan hijau itu terletak Dilijan, kota kecil yang sering dijuluki sebagai paru-paru Armenia. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Hampir seluruh kota dikelilingi hutan yang menjadi bagian dari Taman Nasional Dilijan, salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati paling kaya di negara ini. Suasananya jauh dari kesan kota wisata yang ramai. Rumah-rumah kayu, balkon-balkon tua, jalan berbatu, serta kafe-kafe kecil menghadirkan suasana yang hangat dan bersahaja.
Pada masa Uni Soviet, Dilijan menjadi tempat peristirahatan favorit para ilmuwan, seniman, dan pejabat tinggi. Hingga kini, kota itu masih mempertahankan atmosfer yang sama. Tidak sedikit pelukis memilih menghabiskan waktu berhari-hari di sini hanya untuk menangkap perubahan cahaya yang menyelimuti hutan sepanjang hari. Ketika pagi datang, kabut menggantung di antara pepohonan. Menjelang siang, cahaya matahari menembus celah-celah daun, menciptakan pemandangan yang terus berubah setiap jamnya.
Jalur-jalur pendakian dari Dilijan membawa pengunjung menuju dua kompleks biara yang menjadi kebanggaan kawasan utara Armenia, Haghartsin dan Goshavank. Keduanya berdiri jauh di dalam hutan, seolah sengaja disembunyikan dari keramaian dunia luar. Perjalanan menuju lokasi melewati jalan sempit yang diapit pepohonan tinggi hingga akhirnya terbuka pada sebuah halaman batu yang tenang.
Haghartsin dibangun antara abad ke-10 hingga ke-13 dan pernah menjadi salah satu pusat pembelajaran paling penting di Armenia. Kompleks gereja, ruang belajar, perpustakaan, hingga tempat tinggal para biarawan tersusun sederhana tanpa ornamen berlebihan. Kesunyian justru menjadi daya tarik utamanya. Burung-burung hutan terdengar lebih dominan daripada suara manusia, sementara embusan angin yang melewati pepohonan menjadi irama alami yang menemani setiap langkah.
Tidak jauh dari sana berdiri Goshavank yang memiliki sejarah sama pentingnya. Biara ini didirikan oleh Mkhitar Gosh, seorang cendekiawan, ahli hukum, sekaligus tokoh yang berperan besar dalam perkembangan pendidikan Armenia. Selain menjadi tempat ibadah, Goshavank berkembang sebagai pusat ilmu pengetahuan yang melahirkan banyak naskah penting. Hingga kini, beberapa khachkar atau salib batu di kompleks tersebut masih dianggap sebagai karya ukiran terbaik yang pernah dihasilkan para seniman Armenia.
Melanjutkan perjalanan ke arah barat laut, lanskap kembali berubah. Jalan mulai menurun menuju Lembah Debed, sebuah kawasan yang selama berabad-abad menjadi jalur perdagangan penting di Pegunungan Kaukasus. Di dua sisi lembah berdiri dua kompleks biara yang telah menjadi simbol kejayaan intelektual Armenia, yaitu Haghpat dan Sanahin.
Haghpat berdiri kokoh di atas perbukitan yang menghadap langsung ke lembah. Batu-batu vulkanik berwarna gelap membuat seluruh kompleks tampak menyatu dengan alam sekitarnya. Kabut sering kali turun perlahan memasuki halaman gereja, menciptakan suasana yang nyaris magis. Tempat ini dahulu bukan hanya pusat kehidupan religius, tetapi juga sekolah tinggi tempat para biarawan mempelajari filsafat, astronomi, matematika, sastra, hingga musik.
Sanahin, yang berada tidak jauh dari Haghpat, menghadirkan panorama berbeda. Kompleks ini lebih terbuka dengan pemandangan luas ke arah lembah dan pegunungan di kejauhan. Di halaman gereja berdiri sejumlah khachkar dengan ukiran yang begitu halus sehingga sulit membayangkan semuanya dibuat hanya menggunakan peralatan sederhana berabad-abad silam. Kedua kompleks tersebut kini diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan menjadi bukti bahwa Armenia pernah menjadi salah satu pusat pendidikan terpenting di kawasan Kaukasus.
Tidak jauh dari sana berdiri Gereja Odzun yang berasal dari abad keenam. Bangunannya tampak sederhana jika dibandingkan dengan biara-biara lain di Armenia, tetapi justru kesederhanaan itu menghadirkan daya tarik tersendiri. Batu berwarna kemerahan yang digunakan sebagai material utama tampak kontras dengan hijaunya perbukitan di sekelilingnya. Menurut tradisi setempat, gereja ini menyimpan relikui yang dikaitkan dengan Yohanes Pembaptis, menjadikannya salah satu tempat ziarah penting di wilayah utara.
Perjalanan kemudian membawa langkah menuju Gyumri, kota terbesar kedua di Armenia. Kesan pertama yang muncul adalah warna bangunannya. Sebagian besar rumah tua dibangun menggunakan batu tuf hitam yang memberi karakter kuat sekaligus elegan. Jalan-jalannya terasa lebih lapang dibandingkan Yerevan, sementara ritme kehidupan berlangsung dengan santai. Tidak ada kesan terburu-buru, meskipun kota ini menjadi pusat ekonomi penting di bagian barat Armenia.
Gyumri pernah mengalami salah satu tragedi terbesar dalam sejarah modern Armenia ketika gempa bumi tahun 1988 menghancurkan sebagian besar kota dan merenggut puluhan ribu nyawa. Bekas luka bencana tersebut masih dapat ditemukan hingga kini. Beberapa bangunan tua sengaja dipertahankan sebagai pengingat, sementara kawasan lain telah dibangun kembali dengan wajah baru. Namun yang paling mengesankan bukanlah kisah kehancurannya, melainkan semangat masyarakatnya untuk bangkit.
Gyumri kini dikenal sebagai kota para seniman. Galeri seni, bengkel kerajinan, studio musik, hingga pertunjukan jalanan mudah ditemui di berbagai sudut kota. Patung-patung kecil menghiasi taman dan trotoar, sementara Iron Fountain dengan desain logam yang unik menjadi simbol kreativitas sekaligus selera humor masyarakat setempat. Kota ini membuktikan bahwa sebuah komunitas dapat menyembuhkan dirinya melalui seni dan budaya.
Dari Gyumri, perjalanan berbelok menuju timur ke arah Danau Sevan. Semakin mendekati kawasan tersebut, udara menjadi semakin dingin. Hamparan air biru perlahan muncul di balik perbukitan hingga akhirnya memenuhi cakrawala. Danau Sevan bukan sekadar danau biasa. Dengan ketinggian hampir 1.900 meter di atas permukaan laut, danau ini termasuk salah satu danau air tawar terbesar dan tertinggi di dunia.
Warna air Sevan berubah mengikuti cahaya matahari. Pada pagi hari permukaannya memantulkan warna keperakan, menjelang siang berubah menjadi biru kehijauan, sementara saat senja hadir warna biru tua yang berpadu dengan langit pegunungan. Tidak mengherankan jika banyak orang menyebut Sevan sebagai lautnya Armenia. Angin yang bertiup hampir tanpa henti membuat permukaan air terus bergelombang lembut, menciptakan suasana yang menenangkan.
Di atas sebuah tanjung berdiri Biara Sevanavank yang menjadi ikon kawasan ini. Kompleks gereja dari abad kesembilan itu dahulu berada di sebuah pulau kecil sebelum penurunan permukaan air pada era Soviet mengubah pulau tersebut menjadi semenanjung. Dari halaman gereja, panorama Danau Sevan terbentang tanpa batas. Sulit menemukan tempat lain di Armenia yang mampu memadukan bentang alam dan warisan sejarah seindah ini.
Tidak jauh dari Sevanavank terdapat Hayravank, sebuah biara kecil yang sering terlewatkan oleh wisatawan. Letaknya berada di atas tebing batu yang langsung menghadap danau. Bangunannya sederhana, hanya terdiri atas gereja, kapel, dan ruang pertemuan para biarawan. Justru karena lokasinya yang jauh dari keramaian, Hayravank menghadirkan pengalaman yang jauh lebih intim. Banyak pengunjung yang awalnya hanya berniat singgah beberapa menit akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam menikmati ketenangan di tepi danau.

