(Business Lounge Journal – Event)
Selama tiga dekade terakhir, Gajah Gallery telah menjadi salah satu institusi seni yang berperan penting dalam memperkenalkan dan mengembangkan seni rupa Asia Tenggara di tingkat internasional. Dari galeri yang berawal di Singapura hingga berkembang menjadi jaringan yang menjangkau berbagai negara, perjalanan tersebut kini memasuki tonggak penting: ulang tahun ke-30.
Untuk merayakan momen tersebut, Gajah Gallery menghadirkan pameran kelompok bertajuk Many Horizons, One Sky yang berlangsung di Gajah Gallery Yogyakarta pada 18 Juni hingga 19 Juli 2026, bertepatan dengan penyelenggaraan ARTJOG. Pameran ini tidak hanya menjadi perayaan usia institusi, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang seni rupa Asia Tenggara yang terus berkembang melalui dialog lintas generasi, lintas medium, dan lintas geografis.
Menyatukan Banyak Horizon dalam Satu Langit
Judul Many Horizons, One Sky menggambarkan gagasan utama pameran: keberagaman praktik artistik yang lahir dari berbagai pengalaman, budaya, dan latar belakang, namun tetap berada dalam ruang dialog yang sama.
Pameran ini menghadirkan seniman dari berbagai generasi yang selama ini memiliki hubungan dengan Gajah Gallery. Mereka mewakili beragam pendekatan dalam seni rupa kontemporer, mulai dari lukisan, patung, instalasi, hingga eksplorasi material yang melampaui batas-batas medium konvensional.
Melalui karya-karya tersebut, pengunjung diajak melihat bagaimana seni Asia Tenggara berkembang bukan sebagai satu narasi tunggal, melainkan sebagai kumpulan perspektif yang saling melengkapi dan terus membentuk lanskap seni kontemporer kawasan.
Warisan Seniman yang Mengubah Cara Pandang
Beberapa nama yang ditampilkan dalam pameran ini merupakan figur penting dalam sejarah seni rupa Indonesia.
Karya-karya I Gusti Ayu Kadek Murniasih, misalnya, memperlihatkan bahasa visual yang sangat personal dan berani. Melalui lukisan dan soft sculpture, Murniasih menghadirkan narasi tubuh, pengalaman perempuan, dan kebebasan berekspresi yang pada masanya dianggap radikal. Sementara itu, karya-karya Semsar Siahaan mengingatkan kembali pada tradisi seni yang tidak pernah terpisah dari realitas sosial dan politik. Kritik tajam terhadap ketidakadilan sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik artistiknya, menjadikan karya-karyanya tetap relevan hingga hari ini.
Eksplorasi mengenai kehidupan manusia dalam dunia kontemporer hadir melalui karya Ugo Untoro, yang dikenal dengan pendekatan puitis dan reflektif terhadap berbagai aspek eksistensi manusia. Di sisi lain, Handiwirman Saputra menunjukkan bagaimana benda-benda sehari-hari yang kerap dianggap biasa dapat menjadi sumber keindahan dan perenungan artistik.
Pameran ini juga menjadi momen penting bagi Yunizar, yang untuk pertama kalinya memperlihatkan karya terbaru yang berangkat dari pengalaman keseharian. Dengan pendekatan intuitif yang khas, ia menyederhanakan figur dan objek menjadi bentuk-bentuk yang sarat makna emosional dan rasa.

Generasi Baru, Pertanyaan Baru
Selain menampilkan nama-nama yang telah mapan, Many Horizons, One Sky juga memberi ruang bagi generasi seniman yang lebih muda.
Rosit Mulyadi menggunakan strategi apropriasi untuk membaca ulang berbagai isu sosial dan politik. Ridho Rizki menghadirkan pendekatan visual yang memadukan unsur pointilisme dan impresionisme dalam komposisi still-life yang kontemplatif.
Seniman asal Singapura Kayleigh Goh mengeksplorasi materialitas perkotaan melalui penggunaan semen dan gesso, menghadirkan karya yang berbicara tentang ruang, ingatan, dan pengalaman urban. Sementara itu, Jemana Murti memanfaatkan teknologi cetak tiga dimensi untuk menghubungkan tradisi dengan perkembangan teknologi kontemporer.

Nama-nama seperti Dini Nur Aghnia, Satya Cipta, dan Fika Ria Santika turut memperkaya pameran melalui eksplorasi medium, material, dan pendekatan visual yang menunjukkan bagaimana praktik seni kontemporer Asia Tenggara terus berkembang secara dinamis.
Meski berbeda dalam pendekatan, para seniman ini memiliki kesamaan dalam keberanian bereksperimen dan mempertanyakan kembali berbagai batas yang selama ini dianggap mapan dalam dunia seni rupa.
Seniman dan Perajin Bekerja Bersama
Salah satu bagian menarik dalam pameran ini adalah kehadiran karya-karya yang diproduksi melalui Yogya Art Lab (YAL), unit pengecoran dan produksi milik Gajah Gallery yang telah berkembang menjadi ruang kolaborasi antara seniman dan perajin lokal. Selama bertahun-tahun, YAL tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas produksi, tetapi juga menjadi laboratorium kreatif tempat ide-ide artistik diterjemahkan ke dalam bentuk tiga dimensi melalui dialog antara pengetahuan kontemporer dan keterampilan tradisional.
Melalui YAL, pengunjung dapat melihat bagaimana berbagai pendekatan artistik diwujudkan dalam karya patung dan instalasi. Karya-karya Benedicto “BenCab” Cabrera menghadirkan gestur yang intim dan personal, sementara Charlie Co memperlihatkan sensitivitas sosial yang menjadi ciri khas praktiknya.
Eksplorasi hubungan manusia dengan alam terlihat dalam karya Han Sai Por dan Ashley Bickerton, sedangkan Jane Lee terus menguji batas-batas material melalui eksperimen yang menantang definisi tradisional tentang lukisan.
Pameran ini juga menghadirkan karya Jigger Cruz, yang dikenal melalui eksplorasi mengenai permukaan dan tindakan mengubah atau merusak citra visual, serta karya Wei Ligang yang terinspirasi dari pengalamannya selama berada di Yogyakarta.
Refleksi atas Perjalanan Seni Asia Tenggara
Lebih dari sekadar perayaan ulang tahun sebuah galeri, Many Horizons, One Sky menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana seni Asia Tenggara telah berkembang selama tiga dekade terakhir.
Pameran ini memperlihatkan bahwa perkembangan seni di kawasan tidak hanya ditentukan oleh munculnya nama-nama baru, tetapi juga oleh keberlanjutan dialog antara generasi, antara tradisi dan inovasi, serta antara praktik lokal dan percakapan global.
Dalam konteks tersebut, perjalanan 30 tahun Gajah Gallery menjadi cerminan bagaimana sebuah institusi seni dapat berperan sebagai jembatan yang mempertemukan berbagai horizon kreatif. Meskipun datang dari latar belakang yang berbeda, para seniman dalam pameran ini menunjukkan bahwa keragaman tersebut pada akhirnya berada di bawah satu langit yang sama: keinginan untuk memahami dunia melalui bahasa seni.

