(Business Lounge – Global News) Produsen minuman keras asal Prancis, Pernod Ricard, memilih mengencangkan ikat pinggang setelah penjualan di Amerika Serikat dan China melemah. Perusahaan yang menaungi berbagai merek whisky, vodka, dan cognac ini menyatakan fokus pada pengendalian biaya guna menjaga profit tetap bernapas di tengah tekanan permintaan dan kenaikan ongkos operasional.
Dalam laporan yang dikutip Reuters, manajemen Pernod Ricard mengakui bahwa pelemahan konsumsi di dua pasar kunci tersebut berdampak langsung pada kinerja laba. Amerika Serikat selama ini menjadi mesin pertumbuhan utama, sementara China adalah pasar strategis untuk produk premium. Ketika dua titik ini sama-sama melambat, efeknya terasa ke seluruh jaringan global.
Menurut Bloomberg, konsumen di AS kini lebih berhati-hati membelanjakan uang untuk minuman premium. Inflasi yang masih terasa di sejumlah kategori kebutuhan pokok membuat sebagian pembeli menahan diri atau beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau. Di China, tantangan datang dari pemulihan ekonomi yang tidak sekencang perkiraan, serta sentimen konsumen yang belum sepenuhnya pulih.
Pernod Ricard tidak tinggal diam. Perusahaan mengumumkan serangkaian langkah efisiensi, mulai dari rasionalisasi biaya pemasaran hingga optimalisasi rantai pasok. Tujuannya jelas: menjaga margin tetap stabil walau volume penjualan goyah. Dalam dunia barang konsumsi, disiplin biaya sering menjadi tameng pertama ketika permintaan merosot.
Financial Times menyoroti bahwa industri minuman keras global sedang menghadapi fase penyesuaian setelah lonjakan konsumsi pada periode pascapandemi. Saat pembatasan sosial dicabut, penjualan sempat melesat karena konsumen kembali berkumpul dan merayakan. Kini, pola itu menormal dan bahkan cenderung melemah di beberapa kawasan.
Portofolio Pernod Ricard mencakup merek-merek ikonik seperti Chivas Regal dan Absolut. Segmen premium selama ini menjadi andalan pertumbuhan, karena margin lebih tebal dibanding produk kelas menengah. Namun ketika daya beli tertekan, konsumen bisa menunda pembelian atau beralih ke pilihan lebih murah.
Selain faktor permintaan, kenaikan biaya bahan baku dan logistik ikut menggerus laba. Harga kemasan, energi, serta distribusi belum sepenuhnya kembali ke level sebelum lonjakan inflasi global. Kombinasi antara penjualan yang melambat dan biaya yang tetap tinggi menciptakan tekanan ganda pada neraca.
Analis yang dikutip Reuters menyebut strategi penghematan biaya sebagai langkah defensif yang masuk akal. Investor biasanya menghargai manajemen yang responsif terhadap perubahan siklus. Namun pertanyaan besarnya adalah seberapa lama perlambatan di AS dan China akan berlangsung.
Pernod Ricard menegaskan bahwa mereka masih melihat potensi jangka panjang di kedua pasar tersebut. Di AS, tren premiumisasi diyakini belum berakhir, hanya tertahan oleh kondisi ekonomi sementara. Di China, kelas menengah yang terus berkembang tetap menjadi daya tarik utama bagi produsen minuman internasional.
Perusahaan juga berupaya memperkuat distribusi digital dan e-commerce untuk menjangkau konsumen dengan cara yang lebih efisien. Transformasi kanal penjualan ini dianggap penting untuk menjaga relevansi di tengah perubahan perilaku belanja.
Industri minuman keras global memang sensitif terhadap siklus ekonomi. Ketika ekonomi tumbuh, konsumsi premium ikut terkerek. Saat tekanan meningkat, pola belanja berubah cepat. Pernod Ricard kini berada dalam fase menjaga keseimbangan antara mempertahankan citra merek premium dan menyesuaikan struktur biaya.
Langkah pengendalian biaya bukan berarti perusahaan kehilangan arah pertumbuhan. Ini lebih sebagai manuver bertahan sambil menunggu angin pasar kembali bersahabat. Bagi investor, fokus efisiensi memberi sinyal bahwa manajemen tak menutup mata terhadap realitas permintaan yang sedang lesu.
Pasar akan mencermati hasil strategi ini dalam beberapa kuartal mendatang. Jika efisiensi berjalan efektif dan permintaan pulih perlahan, Pernod Ricard bisa kembali ke jalur pertumbuhan dengan fondasi biaya yang lebih ramping. Untuk saat ini, prioritasnya jelas: menjaga laba tetap solid di tengah penjualan yang sedang tak bergairah.

